Sakratul Maut

July 14th, 2007 by adehp

            Sakratul Maut

Menurut sebagian besar ulama, dekat-dekat akan meninggal malaikat maut
akan berulang-ulang mengunjungi orang yang akan meninggal itu.
Kadang-kadang ia menunjukan dirinya dengan jelas, bahkan kadang-kadang
suaranya jelas terdengar oleh yang bersangkutan. Kedatangan malaikat
maut ini sebenarnya adalah suatu peringatan, bahkan tidak lama lagi
orang itu akan meninggal. Rupanya malaikat maut ingin memberi
peringatan agar orang itu bersiap-siap dengan perbekalannya. Junjungan
kita yang mulia, Rasulullah SAW dalam hal ini telah bersabda :

"Apabila Allah bermaksud baik kepada seseorang hamba, maka bentuk
malaikat maut itu akan disesuaikan dengan amal salehnya sebelum mati".

Berdasarkan hadits ini, jelaslah bahwa bentuk malaikat maut yang datang
itu bergantung kepada tingkat iman dan amal salehnya seseorang. Semakin
banyak amal saleh orang itu, maka bentuk malaikat maut yang datang akan
semakin menyenangkan. Dan sebaliknya semakin besar dosanya, maka
bentuknya akan semakin menakutkan.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baik
sikap pada waktu meninggal adalah ingat kepada Allah dengan mengucapkan
Lailaha Ilallah. Pada kenyataannya, amat jarang orang yang mampu
mengucapkan kalimat sakral ini dengan keikhlasan yang mendalam. Mari
kita coba bersama-sama untuk menelaahnya.

Menurut para ahli, pada saat seseorang akan meninggal, yaitu pada saat
roh sudah sampai di tenggorokan, maka ingatan, akal, dan ilmu akan
hilang. Yang berfungsi hanyalah alam bawah sadarnya. Pada saat kritis
ini, setan berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara mengalihkan
perhatian orang yang sedang sekarat itu agar jangan sampai mengucapkan
Lailaha Illallah. Macam-macam akal dikeluarkannya, mungkin ia menjelma
menjadi bentuk ayah atau ibunya yang telah meninggal, atau pun ia
menjelma menjadi bentuk yang menakutkan. Semua akal-aklan setan ini
tujuannya hanya satu, yaitu agar orang yang sedang sekarat itu terlena
atau takut, sehingga akhirnya ia akan lupa kepada Allah. Oleh karena
itu, bila kita melihat orang yang sedang berjuang dalam sakratul maut,
maka bantulah ia dengan membisikan berulang-ulang kalimat Lailaha
Illallah sebagaimana petunjuk yang diberikan Rasulullah SAW:

"Talkinkan olehmu orang yang sedang dalam sakratulmaut itu, dengan
mengucapkan Lailaha Illallah. Orang yang mengakhiri perkataannya itu
dengan kalimat syahadat, maka dia akan dimasukkan ke dalam syurga".

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab berkata,
"Ucapkanlah kepada mereka yang sedang dalam sakratul maut itu Lailaha
Illah. Mereka itu melihat apa-apa yang tidak terlihat olehmu".

Bagaimana cara mengatasi godaan setan pada waktu sakratulmaut?
Godaan setan yang maha berat pada waktu sakratul maut ini, hanya dapat
diatasi dengan satu cara, yaitu rasa cinta yang mendalam kepada Allah
SWT. Karena, apa yang paling dicintai, apa yang menjadi kerinduan siang
dan malam, maka itulah yang akan teringat oleh kita pada waktu nafas
terakhir.

Seringkali kita jumpai orang sekarat yang menepis atau menolak bila
dibisikkan "Lailaha Illallah" ditelinganya. Hal ini terjadi karena
dalam keadaan sekarat, akal telah pergi, ingatan hilang, hati nurani
akan mengenyampingkan semua hal, kecuali pada apa yang dicintai saja.
Oleh karena itu, bila kita ingin pada saat meninggal nanti hanya ingat
kepada Allah dengan mengucapkan "Lailaha Illallah" maka pupuklah rasa
cinta kepada Allah. Karena, sekali lagi, dalam keadaan sekarat, akal
akan beku, sedangkan hati hanya mampu mengingat apa-apa yang kita
cintai saja.

Rasa cinta jelas mustahil muncul dalam sekejap. Sangat logis bila
mengharapkan rasa cinta pada Allah itu muncul pada waktu sakratul maut,
di mana akal sudah tidak normal dan setan sedang menggoda dengan
seberat-beratnya godaan, serta badan menanggung rasa sakit yang luar
biasa seperti ditusuk-tusuk dengan 300 tusukan pedang.

Untuk menumbuhkan rasa cinta pada Allah, biasakanlah
berzikirmengingat-Nya. Jadikan Allah itu menjadi kekasih, dan
letakkanlah Dia dalam rongga hati kita yang paling dalam.

Para ulama mengatakan, setelah selesai tanya jawab dalam kubur maka roh
selanjutnya di alam barzah akan ditempatkan pada tempat-tempat yang
sudah disiapkan untuknya, yaitu sesuai dengan amal perbuatannya selama
hidup di alam dunia. Yang amal salehnya banyak, yaitu selalu taat
mengerjakan perintah-perintah Allah, akan menempati tempat yang bagus
sekali, lebih indah dari kesenangan yang terdapat dalam mimpi.
Sedangkan bagi yang selalu membangkang pada perintah-perintah Allah
akan mengalami penderitaan yang luar biasa pahitnya, naudzhubillah.
Bagi mereka itu, alam barzah adalah benar-benar tempat derita dan
sengsara. Dalam hal ini Rasulullah SAW, bersabda:

"Jangalah kamu memaki orang yang telah mati. Karena sesungguhnya mereka telah menemui apa yang mereka amalkan semasa hidupnya".

Marilah dari sekarang kita sadari, bahwa banyak harta sedikit amal
saleh ternyata tidak ada gunanya sama sekali. Harta yang dicari
mati-matian waktu di dunia, akan dibagi-bagi oleh ahli waris.
Bayangkanlah, berpayah-payah mengumpulkan harta, kadang-kadang sudah
Maghrib masih di kantor, harta tertumpuk, kita meninggal. Masih
terbaring mayat kita di tempat tidur, belum dimandikan dan belum di
kafani, para ahli waris sudah bertengkar memperebutkan harta yang kita
kumpulkan mati-matian itu. Payah-payah mengumpulkan harta selama ini
ternyata hanya untuk mengadu anak berkelahi dengan anak mengenai
warisan. Yang dapat kita bawa serta masuk ke liang kubur hanyalah
secarik kain kafan, yaitu kain putih sepanjang empat hasta. Tidak lebih
dari itu!.

Rasulullah SAW yang mulia bersabda :
"Sesungguhnya kubur adalah tahap pertama dari beberapa tahap tempat di
akhirat. Kalau seseorang telah selamat disitu, maka tahap yang
sesudahnya akan lebih enteng, dan kalau tidak selamat di situ, tahap
yang sesudahnya akan lebih berat lagi".

Ingin saya sampaikan sekali lagi, mengucapkan kalimat "Lailaha
Illallah" dengan sepenuh perasaan pada saat sakratul maut. Selintas
kedengarannya mudah, namun kenyataannya hanya orang tertentu saja yang
sanggup melaksanakannya. Hal ini disebabkan antara lain karena :

a.. Pada waktu sakratul maut, akal atau ingatan sudah tidak berfungsi normal, bahkan dapat dikatakan hilang.
b.. Setan menggoda dengan seberat-beratnya godaan. Biasanya setan
muncul di penglihatan orang sekarat itu menyerupai orang-orang yang
dikenal dekat dan sudah meninggal.
c.. Rasa sakit yang amat sangat, seolah-olah ditusuk oleh 300 pedang.
Dalam keadaan payah seperti itu, jelaslah yang bekerja hanyalah alam
bawah sadar saja, yang teringat adalah hanya apa-apa yang kita cintai
dan kita rindukan siang malam.
Agar kita mampu mengucapkan pengakuan "Lailaha Illallah" pada saat akan
meninggal, maka kita harus cinta atau dekat kepada Allah SWT yang
tertanam sampai ke dalam lubuk hati. Untuk itu, satu-satunya jalan
adalah: berjihad menundukan nafsu agar menjadi manusia yang bertaqwa!.
Ingatlah, kuburan bergerak secara pasti menghampiri kita dengan
kecepatan 60 menit perjam. Dan di akhirat nanti, tidak ada jalan keluar
dari neraka.

Wallahu a’lam bish-shawab. (TA)

Sumber : http://forum.dudung.net/

———————————————————-

Telah bersabda Nabi Muhammad S.A.W, kubur itu menyeru manusia tiap2 hari dengan 7 (tujuh) seruan :
1. Wahai manusia, aku rumah ulat, perbanyaklah membaca Al Qur’an.
2. Wahai manusia, aku rumah gelap, terangilah aku dengan sholat malam.
3. Wahai anak adam, aku rumah tanah, bawalah kasur yaitu amal sholeh.
4. Wahai anak adam, aku rumah binatang buas, bawalah tameng yaitu air mata (takut kepada Allah SWT)
5. Wahai manusia, aku rumah tamu, berbekallah untuk dirimu yaitu taqwa.
6. Wahai manusia, aku rumah fakir, bawalah bekal kekayaan untuk dirimu (dengan sedekah & zakat)
7. Wahai anak adam, aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir, maka
banyaklah baca "Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah", supaya kamu
dapat jawaban kepadanya.

Kata Mutiara

July 14th, 2007 by adehp

            Kata Mutiara
Mawlana Syaikh Nazim Adil

"Yang lebih penting daripada ilmu ialah  pemindahan
ilmu tersebut dari hati ke hati "

"Kita tidak minta untuk dikenali dan menjadi sesuatu,
karena selagi kita menginginkannya, maka kita masih
belum lagi sempurna"

"KedaulatanNya adalah Melalui KekekalanNya"

"Perjumpaan dengan para awliya meringankan beban kita
dan kita akan merasa ringan dan gembira" , "Adalah
mustahil untuk kita memahami diri kita.
Sekurang-kurangnya kita perlu melihat cermin,  karena
tiada siapapun yang dapat mengenali kepincangan di
dalam dirinya "

Saya tidak berkata, “Ikut saya,” karena saya tahu
siapa yang akan ikut bersama saya di Mahsyar kelak "

"Keikhlasan dan Politik tidaklah serasi sebagaimana
Iman dan Penipuan "

“Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara
Rijal-Allah, Para Kekasih Allah, bahwa keragaman jalan\nini adalah diperuntukkan bagi mereka yang belum\u003cbr\>\nterhubungkan dan mereka yang belum mencapai akhir\u003cbr\>\nperjalanan, dan belum mendapatkan ‘amanat’-nya,\u003cbr\>\nsementara mereka yang telah mawsul (“sampai”) semua\u003cbr\>\nberada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan\u003cbr\>\nmereka saling mengetahui dan mencintai satu sama\u003cbr\>\nlain”.\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“ Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari\u003cbr\>\nKebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari\u003cbr\>\njalan-jalan Tariqah mestilah pula saling mengetahui,\u003cbr\>\nmengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan\u003cbr\>\nAllah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri\u003cbr\>\nkita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan\u003cbr\>\nmasuk dalam lingkaran tertinggi dari suhbah\u003cbr\>\npersahabatan dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan)\u003cbr\>\ndan keangkuhan”.\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang\u003cbr\>\nsuci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi,\u003cbr\>\nadalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah\u003cbr\>\ndiperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman\u003cbr\>\nmemberikan pada diri kita Cinta”. \u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang\u003cbr\>\ndicintai. Ittiba’ bermakna untuk mencintai dan\u003cbr\>\nmengikuti, sementara Ittaat’ bermakna [hanya] untuk\u003cbr\>\nmengikuti”. “Seseorang yang taat mungkin saja mereka\u003cbr\>\ntaat karena paksaan atau karena cinta, tapi tidaklah\u003cbr\>\nselalu karena cinta.”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“ Allah Ta’ala menginginkan hamba-hamba-Nya untuk\u003cbr\>\nmencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai\u003cbr\>\nsecara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena\u003cbr\>\nitulah, Allah Ta’ala mengutus, sebagai utusan dari\u003cbr\>\nDiri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para\u003cbr\>\nhamba-Nya. “Dan setiap orang yang mencintai Para\u003cbr\>\nNabi, melalui AwliyaNya maka mereka akan menggapai\u003cbr\>\ncinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian\u003cbr\>\nakan menggapai cinta Allah Ta’ala.”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat\u003cbr\>\nmenjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika\u003cbr\>\nkalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah”,1]
);

//–>
ini adalah  diperuntukkan bagi mereka yang belum
terhubungkan  dan mereka yang belum mencapai akhir
perjalanan, dan  belum mendapatkan ‘amanat’-nya,
sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”) semua
berada  pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan
mereka  saling mengetahui dan mencintai satu sama
lain”.

“ Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari
Kebangkitan.  Karena itu, kita, para Murid dari
jalan-jalan  Tariqah mestilah pula saling mengetahui,
mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan
Allah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri
kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan
masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhbah
persahabatan dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan)
dan keangkuhan”.

“Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang
suci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi,
adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah
diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman
memberikan pada diri kita Cinta”.

“Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang
dicintai. Ittiba’ bermakna untuk mencintai dan
mengikuti, sementara Ittaat’ bermakna [hanya] untuk
mengikuti”. “Seseorang yang taat mungkin saja mereka
taat karena paksaan atau karena cinta, tapi tidaklah
selalu karena cinta.”

“ Allah Ta’ala menginginkan hamba-hamba-Nya untuk
mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai
secara langsung cinta atas Tuhan mereka.  Karena
itulah, Allah Ta’ala mengutus,  sebagai utusan dari
Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para
hamba-Nya.  “Dan setiap orang yang mencintai Para
Nabi, melalui AwliyaNya maka mereka akan menggapai
cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian
akan menggapai cinta Allah Ta’ala.”

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat
menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika
kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah\nTa’ala akan mencintai kalian?” “Namun manusia kini\u003cbr\>\nsudah seperti kayu kering, mereka menyangkal cinta.\u003cbr\>\nMereka adalah orang-orang yang kering tak ada\u003cbr\>\nkehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, bersemi dan\u003cbr\>\nberbunga di kala musim semi”. \u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya\u003cbr\>\ntujuh puluh kali musim semi mendatanginya, mereka tak\u003cbr\>\nakan pernah berbunga. Cinta membuat alam ini terbuka\u003cbr\>\ndan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya\u003cbr\>\nbagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka,\u003cbr\>\ntak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan\u003cbr\>\nbuahnya.”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari\u003cbr\>\nIman. Tanpa Cinta, tak akan ada Iman. Saya dapat\u003cbr\>\nberbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi\u003cbr\>\nkalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\narief hamdani\u003cbr\>\nwww.rumisuficafe.blogspot.com\u003cbr\>\n\u003cbr\>\nSend instant messages to your online friends \u003ca href\u003d\”http://uk.messenger.yahoo.com\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>http://uk.messenger.yahoo.com\u003c/a\> \u003cbr\>\n\u003cbr\>\n \u003c/div\> \n \u003cdiv\>\n \u003cdiv\>\n \u003ca href\u003d\”#113b09b2a7ab334f_toc\”\>\n Back to top \u003c/a\>\n \u003c/div\> \u003ca href\u003d\”mailto:ar1ef2001@yahoo.com?Subject\u003dRe%3AKata%20Mutiara\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>\n Reply to \u003cspan\>sender\u003c/span\>\n \u003c/a\> |\n \u003ca href\u003d\”mailto:daarut-tauhiid@yahoogroups.com?Subject\u003d+Re%3AKata%20Mutiara\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>\n Reply to \u003cspan\>group\u003c/span\>\n \u003c/a\> |\n \u003ca href\u003d\”http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/post;_ylc\u003dX3oDMTJyNnAydmcxBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzEwOTMyNDYEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDQzNjk1BG1zZ0lkAzI3MTMxBHNlYwNkbXNnBHNsawNycGx5BHN0aW1lAzExODQwNzg4NzA-?act\u003dreply&messageNum\u003d27131\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>\n Reply \u003cspan\>via web post\u003c/span\>\n \u003c/a\>”,1]
);

//–>
Ta’ala akan mencintai kalian?” “Namun manusia kini
sudah seperti kayu kering, mereka menyangkal cinta.
Mereka adalah orang-orang yang kering  tak ada
kehidupan!  Suatu pohon, dengan cinta, bersemi dan
berbunga di kala musim semi”.

“Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya
tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, mereka tak
akan pernah berbunga. Cinta membuat alam ini terbuka
dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya
bagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka,
tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan
buahnya.”

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari
Iman. Tanpa Cinta, tak akan ada Iman. Saya dapat
berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi
kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!”

BERLINDUNG DARI GODAAN SETAN

July 7th, 2007 by adehp
Mewaspadai
bisikan nafsu merupakan hal yang penting. Hal ini merupakan salah satu
cara untuk membersihkan jiwa dari keburukan-keburukan. Namun
mewaspadainya tanpa mewaspadai bisikan yang lain adalah merupakan jalan
yang timpang. Sebagian kaum sufi berada pada jalan yang timpang ini.
Mereka begitu memperhatikan aib jiwa dan keburukan nafsu, namun lupa
memperhatikan bisikan yang lain. Bisikan yang lain itu adalah godaan
setan.
Ternyata masalah setan lebih banyak disebut dalam Al-Quran dan
Al-Hadits daripada masalah nafsu. Dalam Al-Quran, nafsu madzmumah (yang
buruk dan jahat) disebutkan dalam surah Yusuf ayat 53 dan surat
An-Nazi’at ayat 40. Adapun nafsu lawwamah (yang suka mencela) disebut
dalam surat Al-Qiyamah ayat 2. Sedangkan masalah setan lebih banyak
disebutkan. Hal ini disebabkan kejahatan dan rusaknya nafsu sebenarnya
dikarenakan godaan setan. Sehingga, godaan setan itulah yang menjadi
poros dan sumber kejahatan.
Allah memerintahkan hamba-Nya agar berlindung dari setan saat membaca
Al-Quran dan lainnya. Sebaliknya, Allah tidak memerintahkan, meski
dalam satu ayat, agar kita berlindung dari nafsu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghimpun permohonan
perlindungan dari nafsu dan setan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai Rasulullah! Ajarilah aku sesuatu yang
harus kukatakan jika aku berada pada pagi dan petang hari.’ Beliau
menjawab, ‘Katakanlah, Ya Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan
nyata, pencipta segenap langit dan bumi, Tuhan dan pemilik sesuatu, aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku
berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsuku dan dari kejatahan setan
beserta sekutunya, dan dari melakukan kejahatan terhadap nafsuku atau
aku melakukannya terhadap seorang muslim.’…” (Riwayat At-Tirmidzi,
Abu Daud, dan Ad-Darimi)
   
  Makna Isti’adzah
Memohon perlindungan kepada Allah atau isti’adzah mempunyai makna
meminta penjagaan-Nya serta bersandar dan mempercayakan kepada-Nya.
Lafal isti’adzah disebut sebagai ta’awwudz. Lafal ta’awwudz ada
beberapa macam sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca ta’awwudz dengan
lafal, “A’udzu billahi minasy syaiythaanirrajiim, min hamazihi, wa
nafkhihi, wa naftsihi.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk,
dari semburannya (yang menyebabkan gila), dari kesombongannya, dan dari
hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Riwayat Abu Dawud,
Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Hakim dan disahkan olehnya serta oleh ibban
dan Adz-Dzahabi)
Pernah juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan
lafal, “A’udzu billahis samii-il a’liimi, minasy syaiythaanirrajiim.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui dari setan yang terkutuk.” (Riwayat Abu Dawud dan
At-Tirmidzi dengan sanad hasan)
   
  Isti’adzah Sebelum Membaca Al-Quran
  Salah satu hal yang diperintahkan Allah agar kita meminta perlindungan kepada-Nya adalah saat kita membaca Al-Quran.
  Allah ta’ala berfirman,
  “Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)
Mengapa membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Quran begitu penting?
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mencatat tujuh sebab pentingnya isti’adzah
sebelum membaca Al-Quran.
Pertama, Al-Quran adalah obat bagi apa yang ada dalam dada. Ia
menghilangkan godaan yang dimasukkan setan ke dalam dada. Al-Quran
adalah penawar bagi apa yang diperintahkan setan dalam dada seorang
hamba. Maka, jika akan membaca Al-Quran, kita diperintahkan mengusir
godaan setan tersebut, mengosongkan hati darinya, lalu obat tersebut
mengisi tempat yang telah kosong tersebut sehingga lebih teguh meresap.
Kedua, para malaikat dekat dengan pembaca Al-Quran. Sedangkan, setan
adalah musuh malaikat. Karena itu, pembaca Al-Quran diperintahkan
memohon kepada Allah agar dijauhkan dari setan, sehingga didatangi
malaikat.
Ketiga, setan memperdaya pembaca Al-Quran agar ia lupa dari merenungi
makna ayat yang dibacanya. Karena itu, ia diperintahkan untuk
beristi’adzah kepada Allah dari setan.
Keempat, pembaca Al-Quran berdialog dengan Allah dengan membaca
firman-Nya. Sedangkan pembicaraan setan adalah syair dan lagu. Karena
itu, pembaca Al-Quran diperintahkan agar mengusir setan dengan
isti’adzah saat berdialog dengan Allah dan ketika Allah mendengar
bacaannya.
Kelima, Allah mengabarkan bahwa tidaklah Dia mengutus seorang rasul
atau nabi pun kecuali ia mempunyai keinginan, setan memasukkan
godaan-godaan terhadap keinginan-keinginan itu. Para salaf berpendapat
bahwa maknanya adalah jika ia membaca Al-Quran, maka setan menggoda
sepanjang bacaannya.
Jika yang demikian setan lakukan kepada para rasul, bagaimana dengan
mereka yang bukan rasul? Karena itu, setan membuat salah ketika seorang
hamba membaca Al-Quran, merancukannya dan menggodanya sehingga lisannya
keliru membaca atau mengusik akal dan hatinya. Karena inilah, pembaca
Al-Quran diperintahkan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan
setan.
Keenam, setan sangat bersungguh-sungguh dalam menggoda manusia saat ia
ingin melakukan kebaikan, atau ketika sedang melakukannya, setan
berusaha keras agar hamba tersebut tidak melanjutkan perbuatan baiknya.
Setan senantiasa mengintai manusia pada setiap jalan kebaikan. Dia
senantiasa mengintai, apalagi saat membaca Al-Quran. Karena itu, Allah
memerintahkan kepada hamba-Nya agar memerangi musuh yang menghalangi
jalannya tersebut pertama-tama sebelum membaca Al-Quran. Sebagaimana
seorang musafir, jika ada yang mencegatnya di jalan, ia akan berusaha
menolak pencegat itu lebih dulu, baru kemudian meneruskan perjalanannya.
Ketujuh, isti’adzah sebelum membaca Al-Quran adalah pertanda dan
peringatan bahwa yang akan datang setelah itu adalah Al-Quran.
Mewaspadai godaan setan dan berlindung kepada Allah darinya merupakan
hal yang penting. Jangan sampai seorang hamba melalaikan hal ini.
Demikian juga masalah membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Quran.
Hendaknya hal ini diperhatikan oleh setiap hamba Allah yang ingin
membersihkan jiwanya.
  (Abu Ukasyah)
   
  Sumber: Melumpuhkan Senjata Syetan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah.

   
      

Fadhail Hifzhul Qur’an

July 7th, 2007 by adehp

Banyak hadits
Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur€ ¦’²an atau
membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak
kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, € ¦’´Orang yang tidak mempunyai
hafalan Al Qur€ ¦’²an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau
runtuh.€ ¦’´ (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur€ ¦’²an)
yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih terangsang dan
bergairah dalam berinteraksi dengan Al Qur€ ¦’²an khususnya menghafal.

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur€ ¦’²an  merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah

Bahkan Allah  membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur€ ¦’²an,
€ ¦’´Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara,
menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al
Qur€ ¦’²an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga
tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, € ¦’²Andaikan aku
diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat
sebagaimana si fulan berbuat€ ¦’²’´ (HR. Bukhari)
Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur€ ¦’²an sama dengan nikmat
kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
€ ¦’´Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur€ ¦’²an, maka sungguh
dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan
kepadanya.€ ¦’´ (HR. Hakim)

2. Al Qur€ ¦’²an  menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya
          € ¦’´Sebaik-baik  kalian adalah yang mempelajari Al Qur€ ¦’²an dan mengajarkannya€ ¦’´ (HR. Bukhari dan  Muslim)

3. Seorang hafizh  Al Qur€ ¦’²an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari  Nabi SAW)

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para
sahabat penghafal Al Qur€ ¦’²an adalah perhatian yang khusus kepada
para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur€ ¦’²an. Rasul mendahulukan
pemakamannya.

€ ¦’´Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada€ ¦’² Uhud
kemudian beliau bersabda, € ¦’´Manakah di antara keduanya yang lebih
banyak hafal Al Qur€ ¦’²an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka
beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.€ ¦’´ (HR. Bukhari)

Pada kesempatan  lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai  pemimpin delegasi.

Dari Abu Hurairah ia berkata, € ¦’´Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah
delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka,
kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka
sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya,
€ ¦’´Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,€ ¦’´Aku hafal surat ini..
surat ini.. dan surat Al Baqarah.€ ¦’´ Benarkah kamu hafal surat Al
Baqarah?€ ¦’´ Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, € ¦’´Benar.€ ¦’´ Nabi
bersabda, € ¦’´Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.€ ¦’´
(HR. At-Turmudzi dan An-Nasa€ ¦’²i)

Kepada hafizh Al  Qur€ ¦’²an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama€ ¦’²ah. Rasulullah  SAW bersabda,
€ ¦’´Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak  hafalannya.€ ¦’´ (HR. Muslim)
          4. Hifzhul Qur€ ¦’²an  merupakan ciri orang yang diberi ilmu

€ ¦’´Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada
orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat
Kami kecuali orang-orang yang zalim.€ ¦’´ (QS Al€ ¦’²Ankabuut 29:49)

5. Hafizh Qur€ ¦’²an  adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi

€ ¦’´Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para
sahabat bertanya, € ¦’´Siapakah mereka ya Rasulullah?€ ¦’´ Rasul
menjawab, € ¦’´Para ahli Al Qur€ ¦’²an. Merekalah keluarga Allah dan
pilihan-pilihan-Nya.€ ¦’´ (HR. Ahmad)

6. Menghormati  seorang hafizh Al Qur€ ¦’²an berarti mengagungkan Allah

€ ¦’³Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua
yang muslim, penghafal Al Qur€ ¦’²an yang tidak melampaui batas (di
dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan
membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.€ ¦’´ (HR. Abu Daud)

          Fadhail Akhirat

1. Al Qur€ ¦’²an akan menjadi penolong (syafa€ ¦’²at) bagi penghafal

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, € ¦’´Aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda, € ¦’´Bacalah olehmu Al Qur€ ¦’²an, sesungguhnya ia akan
menjadi pemberi syafa€ ¦’²at pada hari kiamat bagi para pembacanya
(penghafalnya).€ ¦’´ (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur€ ¦’²an  akan meninggikan derajat manusia di surga

Dari Abdillah bin Amr bin € ¦’²Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda,
€ ¦’´Akan dikatakan kepada shahib Al Qur€ ¦’²an, € ¦’´Bacalah dan
naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al
Qur€ ¦’²an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau
baca.€ ¦’´ (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur€ ¦’²an adalah orang yang
hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta
mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal  Al Qur€ ¦’²an bersama para malaikat yang mulia dan taat

€ ¦’´Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur€ ¦’²an sedangkan ia
hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.€ ¦’´
(Muttafaqun € ¦’²alaih)

4. Bagi para  penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)

€ ¦’´Mereka akan dipanggil, € ¦’´Di mana orang-orang yang tidak terlena
oleh menggembala kambing dari membaca kitabku? Maka berdirilah mereka
dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan
kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan
kirinya.€ ¦’´ (HR. At-Tabrani)

5. Kedua orang  tua penghafal Al Qur€ ¦’²an mendapat kemuliaan

€ ¦’´Siapa yang membaca Al Qur€ ¦’²an, mempelajarinya, dan
mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat.
Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan
dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya
bertanya, € ¦’´Mengapa kami dipakaikan jubah ini?€ ¦’´
Dijawab,€ ¦’´Karena kalian berdua memerintahkan anaka kalian untuk
memelajari Al Qur€ ¦’²an.€ ¦’´ (HR. Al-Hakim)

6. Penghafal Al  Qur€ ¦’²an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur€ ¦’²an

Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang
memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai
menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan
Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap
hurufnya.

€ ¦’´Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur€ ¦’²an maka
baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh
kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu
satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.€ ¦’´ (HR. At-Turmudzi)

7. Penghafal Al  Qur€ ¦’²an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak  akan merugi

€ ¦’´Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan
mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka
itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah
menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka
dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Mensyukuri.€ ¦’´ (QS Faathir 35:29-30)

Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur€ ¦’²an tidak akan
pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa€ ¦’²at kepada
sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya,
do€ ¦’²anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya
tersebut dalam hadits yang dhaif.
"Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai
penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil
manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk
kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya,
dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al
Qur’an. Allahumma amin" (dian)

Maraji€ ¦’²:
Abdul Aziz Abdur  Rauf, Lc. Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur€ ¦’²an Da€ ¦’²iyah.
Dr. Yusuf Qardhawi. Berinteraksi dengan Al Qur€ ¦’²an.

Suul Khatimah

July 7th, 2007 by adehp

Sumber bacaan: Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin.

Suul Khatimah (mati dengan tidak beriman) sangat ditakuti
oleh orang-2 yang saleh. Imam Ghazali membagi suul khatimah mejadi dua
tingkatan. Pertama ialah berkenaan dengan hati dan perasaan seseorang
menjelang sakaratul maut merenggut. Hatinya menjadi ragu-ragu serta tidak
percaya lagi kepada Allah kemudian mati dalam keadaan tidak beriman. Kedua
ialah hubbud-dunya (cinta dunia) yaitu seseorang yang dirundung kecintaan
dalam urusan dunia yang tidak ada hubungan terhadap masaalah akhirat. Dari
dua tingkatan tersebut tingkat pertama lebih berat siksanya sebab dalam
Qur’an disebutkan bahwa api neraka hanya akan menimpa orang-2 yang
tertutup hatinya terhadap Allah. Semoga kita diberi hidayah oleh Allah
agar terhindar dari keadaan suul khatimah (insyaAllah).

Pada tingkat pertama: menjelang sakaratul maut dalam keadaan
kesakitan yang berat sehingga hatinya menjadi ragu-ragu kemudian memuncak
sehingga muncul ketidak percayaan lagi kepada Allah. Apabila nyawa dicabut
maka orang semacam ini akan mati dalam keadaan tidak beriman,
naudzubillah. Kematian ini bisa terjadi karena kekufuran terhadap Allah
manakala sifat ini menjadi penghalangnya dengan Allah swt selama-lamanya.
Tabir kekufuran ini menyebabkan akan menerima azab dari Allah swt terus
menerus.

Tingkat yang ke dua: yaitu hati manusia yang dikuasai oleh
kecintaan terhadap masaalah-masaalah dunia yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan urusan akhirat. Sebagai contoh ialah, apabila seseorang
yang sedang membangun rumah dan dalam proses membangun rumahnya sakaratul
maut segera menjemput. Pada keadaan semacam ini dia hanya teringat akan
pembangunan rumah yang belum selesai, tidak ada nama Allah dihatinya.
Orang macam ini adalah mati dalam keadaan jauh dari Allah swt. Orang yang
dalam hidupnya hanya ingat akan hartanya atau lebih mencintai harta
dibandingkan dengan Tuhannya maka dia akan menerima azab yang pedih dari
Nya.

Demikianlah sifat suul khatimah yang umumnya dihindari oleh
orang mukmin yang tidak hanya tergiur dengan hubbud-dunya (cinta dunia)
tetapi masih selalu ingat kepada Allah swt. Dalam al-Qur’an disebutkan
bahwa pada hari               kematian harta dan anak-2 laki-2 tidak
berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih
(periksa di surat asy-syu’ara  88-89). Kepada orang semacam ini akan
terhindar dari panasnya api neraka. Dalam hadist riwayat Ya’la bin
Munnabbih apineraka berkata "Silahkan kalian berlalu wahai orang mukmin,
karena cahaya yang terpancar dihatimu telah  memadamkan nyala apiku."

Ada beberapa penyebab sifat suul khatimah, secara umum
seperti yang telah diuraikan dengan singkat seperti diatas. Seorang yang
hati-hati dalam menempuh hidup, zuhud, saleh pun dapat bersifat suul
khatimah pada saat sakaratul maut. Hal ini dimungkinkan karena pada saat
hidupnya masih melakukan bid’ah, bertentangan dengan sifat-2 yang telah
dianjurkan oleh Rasulullah saw serta para sahabat dan tabi’in. Rosulullah
saw pernah berkata kepada sahabat tentang Khawarij yang  rajin shalat dan
membaca al-Qur’an: "Membaca Al-Quran lebih rajin dari kamu (para sahabat)
dan solatnya lebih rajin daripada kamu; sampai masing-masing
jidadnya(dahinya) hitam , tapi mereka membaca Al-Quran tidak sampai ke
lubuk  hatinya dan solatnya tidak diterima oleh Allah swt."

Jadi bida’ah adalah sangat berbahaya, karena dapat
menyesatkan keyakinan seseorang, bahwa menyerupakan Allah dengan makhluk.
Misalnya : betul-betul duduk dalam Arash, padahal Allah itu Laisakamislihi
syai’un. Apabila nanti  pintu hijab telah terbuka maka akan didapati bahwa
Allah tidak seperti yang telah dibayangkan. Dan ia mengingkari Allah. Nah,
dikala itu ia akan mati dalam Suul Khotimah. Kelak kalau orang sudah
sakaratulmaut dan terbuka hijab, baru menyadari bahwa kenyataannya tidak
sesuai dengan apa yang menjadi bayanganya. Dia mati dalam keadaan suul
khatimah, walaupun amalannya  sangat baik. Na’udzubillah, maka dalam
ibadah kita harus iktikad.

Apabila kita salah dalam iktikad krn pemikiran sendiri atau
krn ikut-ikutan pada orang lain, ia akan terkena mara bahaya. Kesalehan
dan kezuhudan serta tingkah laku yang baik, tidak mampu menolongnya.
Bahkan tidak ada yang akan menyelamatlkan dirinya melainkan iktikad yang
benar. Krn itu perhatikan dan contohlah hal-hal yang telah diajarkan oleh
Rasulullah SAW yang semua  didasarkan pada iktikad yang baik. Orang yang
fikirannya sederhana adalah lebih selamat. Sederhana, tidak berfikir
secara mendalam, meskipun bisa dikatakan orang kurang ilmunya, tapi ia
lebih selamat daripada orang yang berlagak mempunyai ilmu, tapi dasar
iktiqadnya tidak benar. Orang sederhana secara garis besar adalah orang
yang beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada Akhirat.Orang semacam
ini akan selamat.

Kalau kita tidak mempunyai waktu untuk memperdalam
pengetahuan ilmu Tauhid, maka usahakan dan perjuangkan agar dalam garis
besarnya kita tetap yakin dan percaya; seperti itu sudah selamat. Cukup
kalau didalam hatinya ia berkata : "Ya saya beriman kepada Allah S.W.T.,
hakikatnya berserah diri kepada Allah, dan iman kepada akhirat". Terus dia
beribadah dan mencari rezeki yang halal dan mencari pengetahuan yang
berguna bagi masyarakat, sebetulnya itu lebih selamat bagai orang yang
tidak sempat belajar secara mendalam.

Rasulullah s.a.w. pernah memperingatkan orang yang sedang
memperdebatkan masalah takdir. Rasulullah sampai merah padam wajahnya,
lalu berpidato : "Sesatnya orang-orang yang dulu itu krn suka berdebat,
antara lain tentang qada dan qodar". Dan baginda bersabda: "Orang-orang
yang asalnya benar, tapi kemudian sesat, itu dimulai krn suka
berbantah-bantahan. Berbantah-bantahan itu kadang-kadang memperebutkan
hal-hal yang tidak ada gunanya". Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan
sabdanya: "Sebahagian besar dari penghuni syurga itu adalah orang-orang
yang fikirannya sederhana saja"diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam
Sju-Abil Iman.

Dalam beriktkad hendaknya jangan ragu-ragu dan cukup garis
besarnya saja. Rasulullah SAW melarang kita berbicara yang sia-sia tidak
perlu turut campur urusan orang, berpikirlah agar ibadah kita diterima,
mencari rizki yang               halal. Bekerja apa saja, silahkan pilih
pekerjaan yang disukai, menjadi  tukang sepatu, jadi petani, atau jadi
dokter, pokoknya jangan mencampuri urusan orang, kalau bukan ahlinya.

Apa yang terdapat dalam Al-Quran dan AS-Sunnah kita harus
percaya dan kalau ada ayat-ayat Al-Quran yang tidak mengerti, mari kita
serahkan kepada Allah swt. Bagi orang-orang awam yang bukan ahli, cukup
diterima apa adanya,pokoknya kita jangan menyekutukan Tuhan dengan apapun,
pegang saja laisa kamislihi syai’un. Apa yang terlintas di hati,
sebetulnya hanya buatan hati saja, Jika saja timbul waswas yang dilakukan
oleh syaitan, maka tolaklah itu. Bagaimana Allah itu ??? Wallahu a’lam.
Allah sendiri Yang Tahu, Adapun tentang diri kita sendiripun, kita tidak
tahu, apalagi zat Allah swt.  Rasulullah melarang kita main
ta’wil-ta’wilan terus berselindung dengan Ayat Al-Quran.

Ayat-2 Allah dalam Al-Qur’an sudah pasti benar sangat
berbeda dengan teori-2 manusia yang selalu mengalami proses perobahan
untuk menyempurnakannya. Janganlah sekali-kali kita berani mendasarkan
i’tikad yang hanya didasarkan pada hasil perhitungan saja. Sebaiknya kita
mengetahuinya secara global, sebab hal itu ada yang melarang, agar
pintunya jangan dibuka sama sekali. Krn ada orang yang mendapat ilham dari
Allah dengan dibersihkan hatinya dan inkisyaf, sebelum mati sudah
inkisyaf, nanti setiap orang juga inkisyaf, meskipun bukan Wali. Namun
Aulia Allah pun kadang-kadang sudah inkisaf pada masa hidupnya.

Para Wali tahu akan adab kesopanan, mereka diam, krn sulit
menterjemahkan imajinasinya dengan kata-kata, seandainya hal ini dibahas
maka akan banyak sekali bahaya-bahayanya. Permaslahan yang sulit tentang
sifat-sifat dan dzat  Allah, tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran
manusia. Mereka mendekatkan  diri kepada-Nya, cukup dengan perasaan bukan
dengan akal. Dan rasa batin itu belum ada bahasanya, hanya kadang-kadang
paara wali membuat istilah yang hanya bisa dipahami oleh kalangan mereka
sendiri saja. Ini sebab yang pertama.

Sebab yang kedua berkenaan dengan Suul Khotimah, akibat dari
lemahnya iman karena sebagian besar akibat pergaulan. Orang yang bergaul
dengan sesama orang yang lemah imannya, akan memperlemah keimanannya.
Bacaan-bacaan yang kurang banyak manfaatnya juga dapat memperlemah iman,
kecenderungan menjadi atheis dan kufur lebih besar.

Kedua sebab dari lemah iman itu ditambah lagi dengan sifat
hubbud-dunya. Kalau iman sudah lemah, cinta kepada Allah juga jadi lemah,
dan kuat cintanya kepada dunia yang berarti mementingkan diri sendiri
dalam soal-soal              keduniawian. Akhirnya kalau sudah dikuasai
betul-betul hubbud dunya, tidak ada tempat untuk cinta kepada Allah S.W.T.
sebagai penciptanya. Hanya itu saja yang terlintas  dihati; Oh, cinta
kepada Allah, Allah pencipta diriku. Tapi pengakuan ini hanya merupakan
hiasan bibir batin saja. Hal inilah yang meyebabkan dia terus menerus
melampiaskan syahwatnya, sehingga hatinya menghitam dan membatu,
bertumpuk-tumpuk kegelapan dosa itu dihatinya. Imamnya semakin lama,
semakin padam; akhirnya hilang sama sekali dan jadilah ia kufur, hal ini
sudah menjadi tabiat.

Allah swt berfirman dalam surat at-taubah: 87 "Hati mereka
telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui". Dosa mereka merupakan
kotoran yang  tidak bisa dibersihkan dari hatinya. Kalau sudah datang
sakaratul maut, maka cinta mereka kepada Allah semakin lemah, sebab mereka
merasa berat dan sedih meninggalkan dunianya, krn keduniawian sudah
menguasai diri mereka. Setiap orang yang meninggalkan kecintaannya tentu
akan merasa sedih lalu timbul dalam fikirannya : "Kenapa Allah mencabut
nyawaku ?" Kemudian berubah hati murninya, sehingga dia membenci takdir
Allah. Kenapa Allah mematikan aku dan  tidak memanjangkan umurku ? Kalau
matinya dalam keadaan demikian, maka ia mati dalam keadaan Suul Khotimah,
naudzubillah.

Mutiara Nasihat Abdullah bin Mas’ud

July 7th, 2007 by adehp

Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, "Aku tidak ingin
menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun saja."
Abdullah berkata, "Bahkan disini ada orang yang apabila meninggal nanti
tidak ingin dibangkitakan." (yakni beliau)

Suatu saat beliau keluar dan diikuti oleh beberapa orang. Beliau
bertanya kepada mereka, "Adakah kalian memiliki kepentingan sehingga
mengikutiku?" Mereka menjawab,"Tidak ada, kami hanya ingin berjalan
bersama anda." Abdullah berkata, "Kembalilah kalian, sesungguhnya yang
demikian ini menyebabkan hina bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang
diikuti."

Abdullah berkata, "Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada
diriku sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian
taburkan tanah di kepalaku."

Abdullah berkata, "Barangsiapa mengerjakan kebaikan, niscaya Allah
akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa menjaga dari kejahatan,
niscaya Allah akan menjaganya."

Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan."

Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi
Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan
yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya
atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila
fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.

Selagi engkau dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu
Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.

Seringkali syahwat mengakibatkan sedih berkepanjangan.

Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.

Carilah hatimu di tiga tempat, saat mendengar Al-Qur’an, di tempat
majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak
mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati
(yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi
memiliki hati.

Tiada sesuatupun di muka bumi yang lebih perlu untuk lama dipenjara daripada lisan.

Ilmu bukanlah karena banyaknya menghafal riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut.

Setiap pandangan yang haram adalah santapan bagi syetan

Sudah sepantasnya bagi pembawa Al-Qur’an menghidupkan malamnya di
saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka,
menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di
saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu’ saat
manusia sombong. Hendaknya seorang pembawa Al-Qur’an senantiasa
menangis, sedih, bijaksana, lemah lembut dan tenang. Dan tidak
sepantasnya seorang pembawa Al-Qur’an itu keras hati, lalai, banyak
bicara dan kasar.

Bersama kegembiraan pasti ada kesedihan. Tiada rumah yang mendapatkan
kenikmatan, melainkan mendapatkan pula pelajaran. Masing-masing kalian
adalah tamu, sedangkan hartanya adalah pinjaman. Setiap tamu akan
segera pulang, sedangkan pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya.

Diambil dari: Menjadi Kekasih Allah, Bersama Pakar Rohani Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Penerbit Pustaka At-Tibyan

Beberapa Peristiwa Sekembali Dari Thaif

June 27th, 2007 by adehp

Sirah Nabawiyah:

Beberapa Peristiwa Sekembali Dari Thaif

"Sepulangnya  dari  Thaif,  Rasulullah  berjalan melewati Dahna (salah satu

wilayah  di  Thaif ) kemudian berhenti di Ji’ranah bersama para sahabat dan

banyak  sekali  tawanan dari kabilah Hawazin. Salah seorang sahabat berkata

kepada  Rasulullah  ketika  beliau  meninggalkan Tsaqif, ‘Wahai Rasulullah,

doa-kan  orang-orang  Tsaqif’.  Rasulullah  bersabda,  ‘Ya  Allah,  berilah

petunjuk kepada orang-orang Tsaqif dan datangkan mereka’.

Kemudian  Rasulullah  dikunjungi  oleh  delegasi  dari  kabilah  Hawazin di

Ji’ranah.  Ketika  itu, Rasulullah membawa tawanan kabilah Hawazin sebanyak

enam ribu orang dari anak-anak dan para wanita, serta unta dan kambing yang

tidak terhitung jumlahnya".

Delegasi  kabilah  Hawazin  datang kepada Rasulullah dan telah masuk Islam.

Mereka  berkata,  "Wahai  Rasulullah,  kami adalah asal-usul keturunan dari

keluarga  besar. Kami telah mendapatkan petaka seperti engkau ketahui. Oleh

karena itu, berilah kami karunia semoga Allah memberi karunia kepadamu."

Salah  seorang  delegasi  kabilah  Hawazin  dari  Bani  Sa’ad bin Bakr yang

bernama  Zuhair  dan  bisa  dipanggil  Abu Shurad berdiri kemudian berkata,

"Wahai  Rasulullah, di tempat penampungan para tawanan terdapat bibi-bibimu

dari  jalur  ayah,  bibi-bibimu  dari jalur ibu, dan wanita-wanita penyusui

yang  dulu  mengasuhmu.*  Jika  kami menyusui untuk Al-Harits bin Abu Syamr

atau  An-Nu’man  bin  Al-Mundzir, kemudian kami mendapatkan musibah seperti

yang  engkau  timpakan kepada kami, maka kami mengharapkan belas kasihannya

dan  karunianya  kepada  kami.  Dan  engkau  adalah anak asuhan yang paling

\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Kemudian Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah Hawazin, 'Manakah\n\u003cbr\>\nyang lebih kalian cintai; anak-anak dan wanita-wanita kalian; ataukah harta\n\u003cbr\>\nkalian?' Delegasi kabilah Hawazin berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau\n\u003cbr\>\nmenyuruh kami memilih antara anak keturunan kami dengan harta kami?\n\u003cbr\>\nKembalikan wanita-wanita dan anak-anak kami, karena mereka lebih kami\n\u003cbr\>\ncintai daripada yang lain'. Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah\n\u003cbr\>\nHawaziin, 'Jatahku dan jatah Bani Abdul Muththalib menjadi milik kalian.\n\u003cbr\>\nSelepas aku mengerjakan shalat Zhuhur bersama kaum muslimin, berdirilah\n\u003cbr\>\nkalian kemudian katakan bahwa kami meminta dispensasi kepada Rasulullah\n\u003cbr\>\natas hak-hak kaum muslimin dan meminta dispensasi kepada kaum muslimin atas\n\u003cbr\>\nhak-hak Rasulullah, niscaya saat itu permintaan kalian akan aku berikan\n\u003cbr\>\nkepada kalian dan aku akan meminta untuk kalian'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSetelah Rasulullah mengerjakan shalat Zhuhur bersama kaum mus-limin,\n\u003cbr\>\ndelegasi kabilah Hawazin berdiri dan berkata seperti diperintahkan\n\u003cbr\>\nRasulullah. Kaum Muhajirin berkata, 'Jatah kami menjadi milik Rasu-lullah'.\n\u003cbr\>\nKaum Anshar berkata, 'Jatah kami menjadi milik Rasulullah'. Al-Aqra' bin\n\u003cbr\>\nHabis berkata, 'Jatahku dan jatah Bani Tamim tidak menjadi milik\n\u003cbr\>\nRasulullah'. Uyainah bin Hishn berkata, 'Jatahku dan jatah Bani Fazarah\n\u003cbr\>\ntidak menjadi milik Rasulullah'. Abbas bin Mirdas berkata, 'Jatahku dan\n\u003cbr\>\njatah Bani Sulaim tidak menjadi milik Rasulullah'. Bani Sulaim berkata,\n\u003cbr\>\n'Tidak begitu, jatah kami menjadi milik Rasulullah'. Abbas bin Mirdas\n\u003cbr\>\nberkata kepada Bani Sulaim, 'Kalian telah melemah-kanku'. Rasulullah\n\u003cbr\>\nbersabda, 'Jika salah seorang dari kalian tetap mem-pertahankan haknya atas\n\u003cbr\>\ntawanan ini, ia berhak mendapatkan enam bagian sebagai tebusan dari setiap\n”,1]
);

//–>
baik".

"Kemudian  Rasulullah  bersabda  kepada  delegasi kabilah Hawazin, ‘Manakah

yang lebih kalian cintai; anak-anak dan wanita-wanita kalian; ataukah harta

kalian?’  Delegasi  kabilah  Hawazin  berkata,  ‘Wahai  Rasulullah,  engkau

menyuruh  kami  memilih  antara  anak  keturunan  kami  dengan  harta kami?

Kembalikan  wanita-wanita  dan  anak-anak  kami,  karena  mereka lebih kami

cintai  daripada  yang  lain’.  Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah

Hawaziin,  ‘Jatahku  dan  jatah Bani Abdul Muththalib menjadi milik kalian.

Selepas  aku  mengerjakan  shalat  Zhuhur bersama kaum muslimin, berdirilah

kalian  kemudian  katakan  bahwa  kami meminta dispensasi kepada Rasulullah

atas hak-hak kaum muslimin dan meminta dispensasi kepada kaum muslimin atas

hak-hak  Rasulullah,  niscaya  saat  itu permintaan kalian akan aku berikan

kepada kalian dan aku akan meminta untuk kalian’.

Setelah  Rasulullah  mengerjakan  shalat  Zhuhur  bersama  kaum  mus-limin,

delegasi   kabilah   Hawazin  berdiri  dan  berkata  seperti  diperintahkan

Rasulullah. Kaum Muhajirin berkata, ‘Jatah kami menjadi milik Rasu-lullah’.

Kaum  Anshar  berkata,  ‘Jatah kami menjadi milik Rasulullah’. Al-Aqra’ bin

Habis   berkata,   ’Jatahku  dan  jatah  Bani  Tamim  tidak  menjadi  milik

Rasulullah’.  Uyainah  bin  Hishn  berkata, ‘Jatahku dan jatah Bani Fazarah

tidak  menjadi  milik  Rasulullah’.  Abbas bin Mirdas berkata, ‘Jatahku dan

jatah  Bani  Sulaim  tidak  menjadi milik Rasulullah’. Bani Sulaim berkata,

‘Tidak  begitu,  jatah  kami  menjadi  milik  Rasulullah’. Abbas bin Mirdas

berkata  kepada  Bani  Sulaim,  ‘Kalian  telah  melemah-kanku’.  Rasulullah

bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian tetap mem-pertahankan haknya atas

tawanan  ini, ia berhak mendapatkan enam bagian sebagai tebusan dari setiap
\ntawanan mulai dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan'. Maka dari itu\n\u003cbr\>\nkembalikan kepada para delegasi anak-anak dari istri-istri mereka."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah Hawazin dan bertanya kepada\n\u003cbr\>\nmereka tentang Malik bin Auf An-Nashri, 'Apa yang sedang ia kerjakan?'\n\u003cbr\>\nDelegasi kabilah Hawazin menjawab, 'Malik bin Auf An-Nashri sedang berada\n\u003cbr\>\ndi Thaif'. Rasulullah bersabda, 'Katakan kepada Malik bahwa jika ia datang\n\u003cbr\>\nkepadaku dalam keadaan Islam, aku akan mengembalikan keluarga dan hartanya\n\u003cbr\>\nseratus unta'. Informasi tersebut disampaikan kepada Malik bin Auf,\n\u003cbr\>\nkemudian ia keluar dari Thaif ber-maksud menemui Rasulullah. Malik bin Auf\n\u003cbr\>\nAn-Nashri khawatir kalau orang-orang Tsaqif mengetahui bahwa Rasulullah\n\u003cbr\>\nbersabda seperti itu untuknya, karena jika mereka mengetahuinya, mereka\n\u003cbr\>\npasti menahannya. Oleh karena itu, ia memerintahkan kudanya didatangkan ke\n\u003cbr\>\nThaif, kemu-dian ia keluar dari Thaif pada malam hari. Malik bin Auf\n\u003cbr\>\nAn-Nashri duduk di atas kudanya memacunya hingga tiba di tempat untanya\n\u003cbr\>\ndisiapkan, kemudian ia menaiki unta tersebut menyusul Rasulullah dan\n\u003cbr\>\nbertemu beliau di Al-Ji'ranah atau Makkah. Rasulullah mengembalikan\n\u003cbr\>\nkeluarga dan hartanya kepadanya, serta memberinya seratus unta. Ia masuk\n\u003cbr\>\nIslam dan ke-Islamannya baik.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMalik bin Auf An-Nashri berkata ketika masuk Islam,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Aku tidak pernah melihat dan mendengar manusia seperti Muhammad\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa menepati janji dan memberi hingga banyak sekali jika diminta\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKapan saja engkau mau, ia pasti menjelaskan kepadamu apa yang terjadi besok\n\u003cbr\>\npagi\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nJika satu batalion telah memperlihatkan taring-taringnya\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nDengan pedang As-Samhari dan tebasan seluruh pedang dari India\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nBeliau seperti singa terhadap anak-anak singa'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah mengangkat Malik bin Auf An-Nashri sebagai pemimpin membawahi\n”,1]
);

//–>
tawanan  mulai  dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan’. Maka dari itu

kembalikan kepada para delegasi anak-anak dari istri-istri mereka."

"Rasulullah  bersabda  kepada  delegasi kabilah Hawazin dan bertanya kepada

mereka  tentang  Malik  bin  Auf  An-Nashri, ‘Apa yang sedang ia kerjakan?’

Delegasi  kabilah  Hawazin menjawab, ‘Malik bin Auf An-Nashri sedang berada

di  Thaif’. Rasulullah bersabda, ‘Katakan kepada Malik bahwa jika ia datang

kepadaku  dalam keadaan Islam, aku akan mengembalikan keluarga dan hartanya

seratus  unta’.  Informasi  tersebut  disampaikan  kepada  Malik  bin  Auf,

kemudian  ia keluar dari Thaif ber-maksud menemui Rasulullah. Malik bin Auf

An-Nashri  khawatir  kalau  orang-orang  Tsaqif mengetahui bahwa Rasulullah

bersabda  seperti  itu  untuknya,  karena jika mereka mengetahuinya, mereka

pasti  menahannya. Oleh karena itu, ia memerintahkan kudanya didatangkan ke

Thaif,  kemu-dian  ia  keluar  dari  Thaif  pada  malam hari. Malik bin Auf

An-Nashri  duduk  di  atas  kudanya memacunya hingga tiba di tempat untanya

disiapkan,  kemudian  ia  menaiki  unta  tersebut  menyusul  Rasulullah dan

bertemu   beliau  di  Al-Ji’ranah  atau  Makkah.  Rasulullah  mengembalikan

keluarga  dan  hartanya  kepadanya, serta memberinya seratus unta. Ia masuk

Islam dan ke-Islamannya baik.

Malik bin Auf An-Nashri berkata ketika masuk Islam,

‘Aku tidak pernah melihat dan mendengar manusia seperti Muhammad

Ia menepati janji dan memberi hingga banyak sekali jika diminta

Kapan saja engkau mau, ia pasti menjelaskan kepadamu apa yang terjadi besok

pagi

Jika satu batalion telah memperlihatkan taring-taringnya

Dengan pedang As-Samhari dan tebasan seluruh pedang dari India

Beliau seperti singa terhadap anak-anak singa’.

Rasulullah  mengangkat  Malik  bin Auf An-Nashri sebagai pemimpin membawahi
\norang-orang dari kaumnya yang telah masuk Islam. Kabilah-kabilah dari\n\u003cbr\>\nkaumnya yang masuk Islam ialah Tsumalah, Salamah, dan Fahm. Bersama\n\u003cbr\>\nkabilah-kabilah tersebut, Malik bin Auf An-Nashri me-merangi orang-orang\n\u003cbr\>\nTsaqif. Setiap kali hewan ternak orang-orang Tsaqif terlihat olehnya, ia\n\u003cbr\>\nmenyerangnya, hingga pada akhirnya ia berhasil mempersempit ruang gerak\n\u003cbr\>\nmereka.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nTentang hal tersebut, Abu Mihjan bin Habib bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi\n\u003cbr\>\nberkata,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Musuh-musuh mengalir ke arah kami\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKemudian kami diserang Bani Salamah\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMalik juga datang menyerang kami dengan mereka\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa melanggar janji dan kehormatan\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa datang kepada kami di rumah-rumah kami\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nPadahal dulunya kami adalah orang-orang kuat'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSetelah mengembalikan para tawanan Perang Hunain kepada keluarganya,\n\u003cbr\>\nRasulullah naik ke atas kendaraan beliau diikuti orang-orang yang sambil\n\u003cbr\>\nberkata, 'Wahai Rasulullah, bagikan kepada kami fay'i unta dan kambing\n\u003cbr\>\nkepada kami'. Mereka membuntuti Rasulullah hingga mereka menyudutkan beliau\n\u003cbr\>\ndi salah satu pohon, akibatnya kain beliau nyangkut di pohon tersebut.\n\u003cbr\>\nRasulullah bersabda, 'Hai manusia, kembalikan kain-ku. Demi Allah,\n\u003cbr\>\nseandainya kalian berhak atas hewan ternak sebanyak pohon di Tihamah, aku\n\u003cbr\>\npasti membagi-bagikannya kepada kalian, kemu-dian kalian tidak mendapatiku\n\u003cbr\>\nsebagai orang bakhil, pengecut, dan pen-dusta'. Kemudian Rasulullah berdiri\n\u003cbr\>\ndi samping unta, mengambil bulu di punuk unta, dan mengangkatnya seraya\n\u003cbr\>\nbersabda, 'Hai Manusia, demi Allah, aku tidak berhak atas fay' kalian dan\n\u003cbr\>\ntidak pula atas harta sebesar bulu ini melainkan seperlimanya saja dan\n\u003cbr\>\nseperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nOleh karena itu, kembalikan benang dan jarum, karena sesungguhnya Ghulul\n\u003cbr\>\nadalah aib, api, dan noda di hari Kiamat'. Salah seorang dari kaum Anshar\n”,1]
);

//–>
orang-orang  dari  kaumnya  yang  telah  masuk  Islam. Kabilah-kabilah dari

kaumnya  yang  masuk  Islam  ialah  Tsumalah,  Salamah,  dan  Fahm. Bersama

kabilah-kabilah  tersebut,  Malik  bin Auf An-Nashri me-merangi orang-orang

Tsaqif.  Setiap  kali  hewan ternak orang-orang Tsaqif terlihat olehnya, ia

menyerangnya,  hingga  pada  akhirnya  ia berhasil mempersempit ruang gerak

mereka.

Tentang  hal  tersebut,  Abu Mihjan bin Habib bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi

berkata,

‘Musuh-musuh mengalir ke arah kami

Kemudian kami diserang Bani Salamah

Malik juga datang menyerang kami dengan mereka

Ia melanggar janji dan kehormatan

Ia datang kepada kami di rumah-rumah kami

Padahal dulunya kami adalah orang-orang kuat’.

Setelah  mengembalikan  para  tawanan  Perang  Hunain  kepada  keluarganya,

Rasulullah  naik  ke  atas kendaraan beliau diikuti orang-orang yang sambil

berkata,  ‘Wahai  Rasulullah,  bagikan  kepada  kami fay’i unta dan kambing

kepada kami’. Mereka membuntuti Rasulullah hingga mereka menyudutkan beliau

di  salah  satu  pohon,  akibatnya  kain beliau nyangkut di pohon tersebut.

Rasulullah   bersabda,   ’Hai  manusia,  kembalikan  kain-ku.  Demi  Allah,

seandainya  kalian  berhak atas hewan ternak sebanyak pohon di Tihamah, aku

pasti  membagi-bagikannya kepada kalian, kemu-dian kalian tidak mendapatiku

sebagai orang bakhil, pengecut, dan pen-dusta’. Kemudian Rasulullah berdiri

di  samping  unta,  mengambil  bulu di punuk unta, dan mengangkatnya seraya

bersabda,  ‘Hai  Manusia, demi Allah, aku tidak berhak atas fay’ kalian dan

tidak  pula  atas  harta  sebesar  bulu ini melainkan seperlimanya saja dan

seperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian.

Oleh  karena  itu,  kembalikan benang dan jarum, karena sesungguhnya Ghulul

adalah  aib,  api, dan noda di hari Kiamat’. Salah seorang dari kaum Anshar
\ndatang dengan membawa gulungan benang dari rambut dan berkata, 'Wahai\n\u003cbr\>\nRasulullah, aku mengambil gulungan benang dari rambut ini dan\n\u003cbr\>\nmenggunakannya sebagai alas pelana untaku yang usang'. Rasulullah bersabda,\n\u003cbr\>\n'Ini bagianku dari rampasan perang dan sekarang aku berikan kepadamu'.\n\u003cbr\>\nOrang dari kaum Anshar tersebut berkata, 'Jika cuma ini, aku tidak\n\u003cbr\>\nmembutuhkannya. Orang tersebut pun membuang gulungan benang dari rambut\n\u003cbr\>\ntersebut dari tangannya".\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah memberi jatah kepada para muallaf, yaitu para tokoh kaum.\n\u003cbr\>\nDengan pemberian tersebut, Rasulullah ingin menaklukkan hati mereka dan\n\u003cbr\>\nmenaklukkan hati kaum mereka. Rasulullah memberi Abu Sofyan bin Harb\n\u003cbr\>\nseratus unta, Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim\n\u003cbr\>\nbin Hizam sebanyak seratus unta, Al-Harits bin Al-Harits bin Kaldah saudara\n\u003cbr\>\nBani Abdduddaar (Ibnu Hisyam berkata, "Ia adalah Nushair bin Al-Harits bin\n\u003cbr\>\nKaladah. Namanya Al-Harits juga tidak salah".) seratus unta, Al-Harits bin\n\u003cbr\>\nHisyam seratus unta, Suhail bin Amr seratus unta, Huwaithib bin Abdul Uzza\n\u003cbr\>\nbin Abu Qais seratus unta, Al-Ala' bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani\n\u003cbr\>\nZuhrah seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta,\n\u003cbr\>\nAl-Aqra' bin Habis At-Tamimi seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus\n\u003cbr\>\nunta, dan Shafwan bin Umaiyah seratus unta. Mereka semua diberi seratus\n\u003cbr\>\nunta.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah juga memberi unta di bawah seratus ekor kepada sejum-lah\n\u003cbr\>\norang-orang Quraisy, seperti Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb\n\u003cbr\>\nAl-Jumahi, dan Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luai. Aku tidak hapal\n\u003cbr\>\npersis berapa unta yang diberikan Rasulullah kepada mereka, karena hanya\n\u003cbr\>\ndiketahui bahwa beliau memberi mereka unta di bawah seratus ekor.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah memberi Sa'id bin Yarbu' bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum lima\n”,1]
);

//–>
datang  dengan  membawa  gulungan  benang  dari  rambut dan berkata, ‘Wahai

Rasulullah,   aku   mengambil   gulungan   benang   dari   rambut  ini  dan

menggunakannya sebagai alas pelana untaku yang usang’. Rasulullah bersabda,

‘Ini  bagianku  dari  rampasan  perang  dan sekarang aku berikan kepadamu’.

Orang  dari  kaum  Anshar  tersebut  berkata,  ‘Jika  cuma  ini,  aku tidak

membutuhkannya.  Orang  tersebut  pun  membuang gulungan benang dari rambut

tersebut dari tangannya".

"Rasulullah  memberi  jatah  kepada  para  muallaf,  yaitu para tokoh kaum.

Dengan  pemberian  tersebut,  Rasulullah  ingin menaklukkan hati mereka dan

menaklukkan  hati  kaum  mereka.  Rasulullah  memberi  Abu  Sofyan bin Harb

seratus unta, Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim

bin Hizam sebanyak seratus unta, Al-Harits bin Al-Harits bin Kaldah saudara

Bani  Abdduddaar (Ibnu Hisyam berkata, "Ia adalah Nushair bin Al-Harits bin

Kaladah.  Namanya Al-Harits juga tidak salah".) seratus unta, Al-Harits bin

Hisyam  seratus unta, Suhail bin Amr seratus unta, Huwaithib bin Abdul Uzza

bin  Abu  Qais  seratus  unta,  Al-Ala’ bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani

Zuhrah seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta,

Al-Aqra’  bin Habis At-Tamimi seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus

unta,  dan  Shafwan  bin  Umaiyah seratus unta. Mereka semua diberi seratus

unta.

Rasulullah  juga  memberi  unta  di  bawah  seratus  ekor  kepada sejum-lah

orang-orang  Quraisy, seperti Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb

Al-Jumahi,  dan  Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luai. Aku tidak hapal

persis  berapa  unta  yang diberikan Rasulullah kepada mereka, karena hanya

diketahui bahwa beliau memberi mereka unta di bawah seratus ekor.

Rasulullah  memberi Sa’id bin Yarbu’ bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum lima
\npuluh unta, As-Sahmi lima puluh unta, dan memberi Abbas bin Mirdas beberapa\n\u003cbr\>\nunta, tapi ia tidak terima dengan pemberian tersebut, kemudian ia mengecam\n\u003cbr\>\nRasulullah karena pembagian tersebut,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Unta-unta tersebut adalah harta rampasan perang yang tidak dijaga\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKemudian aku mendapatkannya dengan mengendarai anak kuda di tanah datar\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nAku membangunkan orang-orang yang tidur nyenyak\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nJika manusia tidur, aku tidak tidur\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nTapi, bagianku dan bagian Al-Ubaid** itu berbeda dengan bagian Uyainah dan\n\u003cbr\>\nAl-Aqra'\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nPadahal di perang, aku mempunyai peran besar dalam pertahanan\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nNamun aku tidak diberi apa-apa dan tidak dilindungi\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMelainkan hanya diberi anak-anak unta\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nYang jumlah kakinya adalah empat\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nHishn dan Habib tidak mengungguli ayahku*** di masyarakat\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKedudukanku tidak di bawah kedudukan keduanya\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSiapa saja yang engkau rendahkan pada hari ini, ia tidak bisa diangkat\n\u003cbr\>\nlagi'."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah bersabda, 'Pergilah kalian kepada Abbas bin Mirdas dan\n\u003cbr\>\npotonglah mulutnya dari mengatakan sesuatu yang buruk tentang diriku'.\n\u003cbr\>\nKemudian Abbas bin Mirdas diberi tambahan hingga ia puas dan itulah cara\n\u003cbr\>\npemotongan mulutnya yang diperintahkan Rasulullah."****\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nAbu Sa'id Al-Khudri RA berkata: "Ketika Rasulullah membagi-bagi rampasan\n\u003cbr\>\nperang kepada orang-orang Quraisy, kabilah-kabilah Arab, dan tidak\n\u003cbr\>\nmemberikan sedikit pun kepada kaum Anshar, maka kaum Anshar sedih, hingga\n\u003cbr\>\nmereka seringkali mempersoalkan hal ini. Salah seorang dari kaum Anshar\n\u003cbr\>\nberkata, 'Demi Allah, Rasulullah telah bertemu dengan kaumnya'. Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nUbadah menemui Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum\n\u003cbr\>\nAnshar mempunyai sesuatu tentang diri-mu atas keputusanmu terhadap fay'i\n”,1]
);

//–>
puluh unta, As-Sahmi lima puluh unta, dan memberi Abbas bin Mirdas beberapa

unta,  tapi ia tidak terima dengan pemberian tersebut, kemudian ia mengecam

Rasulullah karena pembagian tersebut,

‘Unta-unta tersebut adalah harta rampasan perang yang tidak dijaga

Kemudian aku mendapatkannya dengan mengendarai anak kuda di tanah datar

Aku membangunkan orang-orang yang tidur nyenyak

Jika manusia tidur, aku tidak tidur

Tapi,  bagianku dan bagian Al-Ubaid** itu berbeda dengan bagian Uyainah dan

Al-Aqra’

Padahal di perang, aku mempunyai peran besar dalam pertahanan

Namun aku tidak diberi apa-apa dan tidak dilindungi

Melainkan hanya diberi anak-anak unta

Yang jumlah kakinya adalah empat

Hishn dan Habib tidak mengungguli ayahku*** di masyarakat

Kedudukanku tidak di bawah kedudukan keduanya

Siapa  saja  yang  engkau  rendahkan  pada hari ini, ia tidak bisa diangkat

lagi’."

"Rasulullah   bersabda,  ‘Pergilah  kalian  kepada  Abbas  bin  Mirdas  dan

potonglah  mulutnya  dari  mengatakan  sesuatu  yang buruk tentang diriku’.

Kemudian  Abbas  bin  Mirdas diberi tambahan hingga ia puas dan itulah cara

pemotongan mulutnya yang diperintahkan Rasulullah."****

Abu  Sa’id  Al-Khudri  RA berkata: "Ketika Rasulullah membagi-bagi rampasan

perang   kepada   orang-orang  Quraisy,  kabilah-kabilah  Arab,  dan  tidak

memberikan  sedikit  pun kepada kaum Anshar, maka kaum Anshar sedih, hingga

mereka  seringkali  mempersoalkan  hal  ini. Salah seorang dari kaum Anshar

berkata,  ‘Demi  Allah, Rasulullah telah bertemu dengan kaumnya’. Sa’ad bin

Ubadah menemui Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum

Anshar  mempunyai  sesuatu  tentang diri-mu atas keputusanmu terhadap fay’i
\nyang engkau dapatkan. Engkau membagi-bagikan kepada kaummu dan memberi\n\u003cbr\>\ndalam jumlah besar kepada kabilah-kabilah Arab, sedang kaum Anshar sedikit\n\u003cbr\>\npun tidak mendapatkan daripadanya'. Rasulullah bersabda, 'Dimana posisimu\n\u003cbr\>\ndalam hal ini, hai Sa'ad?' Sa'ad bin Ubadah berkata, 'Wahai Rasulullah, aku\n\u003cbr\>\njuga berasal dari kaumku'. Rasulullah bersabda, 'Kumpulkan kaummu di tempat\n\u003cbr\>\npenginapan unta'. Sa'ad bin Ubadah keluar lalu mengum-pulkan kaum Anshar di\n\u003cbr\>\ntempat tersebut. Beberapa orang dari kaum Muhajirin datang dan Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nUbadah membiarkan mereka masuk ke tempat tersebut. Sebagian orang dari kaum\n\u003cbr\>\nMuhajirin datang lagi ke tempat tersebut, namun kali ini Sa'ad bin Ubadah\n\u003cbr\>\ntidak mengizinkan mereka masuk.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKetika kaum Anshar telah berkumpul, Sa'ad bin Ubadah mendatangi Rasulullah\n\u003cbr\>\ndan berkata kepada beliau, 'Kaum Anshar telah berkumpul untuk bertemu\n\u003cbr\>\ndenganmu'. Rasulullah mendatangi mereka, kemudian memuji Allah,\n\u003cbr\>\nmenyanjungNya dengan sanjungan yang layak Dia terima, dan bersabda, 'Hai\n\u003cbr\>\nseluruh kaum Anshar, apa maksud ucapan kalian yang telah sampai padaku? Apa\n\u003cbr\>\nmaksud kecaman kalian terhadapku? Bukankah aku datang kepada kalian yang\n\u003cbr\>\nketika itu tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian, kalian\n\u003cbr\>\nmiskin kemudian Allah mengkayakan kalian, dan kalian bermusuhan kemudian\n\u003cbr\>\nAllah menyatukan hati kalian?' Kaum Anshar menjawab, 'Itu betul. Allah dan\n\u003cbr\>\nRasulNya yang lebih utama'. Rasulullah bersabda lagi, 'Kenapa kalian tidak\n\u003cbr\>\nmenjawab pertanyaanku, hai kaum Anshar?' Kaum Anshar berkata, 'Kami harus\n\u003cbr\>\nmenjawab dengan apa, wahai Rasulullah?. Karena karunia dan keutamaan itu\n\u003cbr\>\nmilik Allah dan RasulNya'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah bersabda lagi, 'Demi Allah, jika kalian mau, kalian pasti\n\u003cbr\>\nberbicara, kalian berkata benar, dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan,\n”,1]
);

//–>
yang  engkau  dapatkan.  Engkau  membagi-bagikan  kepada kaummu dan memberi

dalam  jumlah besar kepada kabilah-kabilah Arab, sedang kaum Anshar sedikit

pun  tidak  mendapatkan daripadanya’. Rasulullah bersabda, ‘Dimana posisimu

dalam hal ini, hai Sa’ad?’ Sa’ad bin Ubadah berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku

juga berasal dari kaumku’. Rasulullah bersabda, ‘Kumpulkan kaummu di tempat

penginapan unta’. Sa’ad bin Ubadah keluar lalu mengum-pulkan kaum Anshar di

tempat  tersebut.  Beberapa  orang dari kaum Muhajirin datang dan Sa’ad bin

Ubadah membiarkan mereka masuk ke tempat tersebut. Sebagian orang dari kaum

Muhajirin  datang  lagi ke tempat tersebut, namun kali ini Sa’ad bin Ubadah

tidak mengizinkan mereka masuk.

Ketika  kaum Anshar telah berkumpul, Sa’ad bin Ubadah mendatangi Rasulullah

dan  berkata  kepada  beliau,  ‘Kaum  Anshar  telah berkumpul untuk bertemu

denganmu’.   Rasulullah   mendatangi   mereka,   kemudian   memuji   Allah,

menyanjungNya  dengan  sanjungan  yang layak Dia terima, dan bersabda, ‘Hai

seluruh kaum Anshar, apa maksud ucapan kalian yang telah sampai padaku? Apa

maksud  kecaman  kalian  terhadapku? Bukankah aku datang kepada kalian yang

ketika  itu  tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian, kalian

miskin  kemudian  Allah  mengkayakan kalian, dan kalian bermusuhan kemudian

Allah  menyatukan hati kalian?’ Kaum Anshar menjawab, ‘Itu betul. Allah dan

RasulNya  yang lebih utama’. Rasulullah bersabda lagi, ‘Kenapa kalian tidak

menjawab  pertanyaanku,  hai kaum Anshar?’ Kaum Anshar berkata, ‘Kami harus

menjawab  dengan  apa,  wahai Rasulullah?. Karena karunia dan keutamaan itu

milik Allah dan RasulNya’.

Rasulullah  bersabda  lagi,  ‘Demi  Allah,  jika  kalian  mau, kalian pasti

berbicara,  kalian  berkata  benar, dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan,
\nengkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan kemudian kami\n\u003cbr\>\nmembenarkan-mu, engkau terlantar kemudian kami menolongmu, engkau terusir\n\u003cbr\>\nkemu-dian kami melindungimu, dan engkau miskin kemudian kami membantumu.\n\u003cbr\>\nHai kaum Anshar, apakah kalian mempersoalkan secuil dunia yang dengannya\n\u003cbr\>\naku menundukkan hati salah satu kaum agar mereka masuk Islam, sedang aku\n\u003cbr\>\nmenyerahkan kalian kepada ke-Islaman kalian?. Hai kaum Anshar, tidakkah\n\u003cbr\>\nkalian ridha sekiranya orang-orang pulang membawa kambing-kambing dan\n\u003cbr\>\nunta-unta, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi\n\u003cbr\>\nDzat yang jiwa Muhammad berada di TanganNya, kalaulah tidak karena\n\u003cbr\>\nperistiwa hijrah, aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia\n\u003cbr\>\nmelewati salah satu jalan dan kaum Anshar melewati jalan lain, aku pasti\n\u003cbr\>\nberjalan di jalan yang dilalui kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum\n\u003cbr\>\nAnshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar'. Kaum Anshar pun\n\u003cbr\>\nmenangis hingga jenggot mereka basah oleh airmata. Mereka berkata, 'Kami\n\u003cbr\>\nridha Rasulullah sebagai bagian kami'. Setelah itu, Rasulullah pergi dan\n\u003cbr\>\nkaum Anshar pun bubar".\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nCATATAN KAKI:\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n* Pengasuh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Bani Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nBakar berasal dari Hawaazin\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n** nama Persia bagi Abbas\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n*** Yakni ayahnya, yaitu Mirdas, diriwayatkan juga dengan lafal: Syaikhayya\n\u003cbr\>\n(dua orang tuaku), maksudnya adalah bapaknya dan kakeknya. Dalam riwayat\n\u003cbr\>\nlain disebutkan namanya langsung, yakni Mirdas\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n**** Ibnu Hisyam berkata: "Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa\n\u003cbr\>\nAbbas bin Mirdas menemui Rasulullah SAW lalu beliau berkata kepadanya:\n\u003cbr\>\n"Apakah engkau yang mengatakan: "Tapi bagianku dan Al-Abid berbeda dengan\n\u003cbr\>\nbagian Al-Aqra' dan Uyainah" Abu Bakar berkata: "bagian Uyainah dan\n”,1]
);

//–>
engkau   datang   kepada   kami  dalam  keadaan  didustakan  kemudian  kami

membenarkan-mu,  engkau  terlantar kemudian kami menolongmu, engkau terusir

kemu-dian  kami  melindungimu,  dan engkau miskin kemudian kami membantumu.

Hai  kaum  Anshar,  apakah kalian mempersoalkan secuil dunia yang dengannya

aku  menundukkan  hati  salah satu kaum agar mereka masuk Islam, sedang aku

menyerahkan  kalian  kepada  ke-Islaman  kalian?. Hai kaum Anshar, tidakkah

kalian  ridha  sekiranya  orang-orang  pulang  membawa  kambing-kambing dan

unta-unta,  sedang  kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi

Dzat  yang  jiwa  Muhammad  berada  di  TanganNya,  kalaulah  tidak  karena

peristiwa  hijrah, aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia

melewati  salah  satu  jalan dan kaum Anshar melewati jalan lain, aku pasti

berjalan  di  jalan  yang  dilalui  kaum  Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum

Anshar,  anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar’. Kaum Anshar pun

menangis  hingga  jenggot  mereka basah oleh airmata. Mereka berkata, ‘Kami

ridha  Rasulullah  sebagai  bagian kami’. Setelah itu, Rasulullah pergi dan

kaum Anshar pun bubar".

CATATAN KAKI:

*  Pengasuh  Rasulullah  Shallallahu  ‘alaihi wa sallam dari Bani Sa’ad bin

Bakar berasal dari Hawaazin

** nama Persia bagi Abbas

*** Yakni ayahnya, yaitu Mirdas, diriwayatkan juga dengan lafal: Syaikhayya

(dua  orang  tuaku),  maksudnya adalah bapaknya dan kakeknya. Dalam riwayat

lain disebutkan namanya langsung, yakni Mirdas

****  Ibnu  Hisyam berkata: "Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa

Abbas  bin  Mirdas  menemui  Rasulullah  SAW lalu beliau berkata kepadanya:

"Apakah  engkau  yang mengatakan: "Tapi bagianku dan Al-Abid berbeda dengan

bagian  Al-Aqra’  dan  Uyainah"  Abu  Bakar  berkata:  "bagian  Uyainah dan
\nAl-Aqra'" Rasulullah menimpali: "Itu sama saja tiada beda", maka Abu Bakar\n\u003cbr\>\npun berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau seperti yang Allah katakan: "Kami\n\u003cbr\>\ntiada mengajarkan syair kepadanya dan memang tiada layak baginya."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n \n\u003cbr\>\n YAYASAN AL-SOFWA \n\u003cbr\>\n Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - \n\u003cbr\>\n Indonesia \n\u003cbr\>\n Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info @alsofwah.or.id | \n\u003cbr\>\n website: |——| \n\u003cbr\>\n | [ ] | \n\u003cbr\>\n |——|www.alsofwah.\u003ca href\u003d\”http://or.id\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>or.id\u003c/a\> | Member Info Al-Sofwa \n\u003cbr\>\n Artikel yang dimuat di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan syarat \n\u003cbr\>\n tidak untuk komersil. \n\u003cbr\>\n \n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n__________________________________________________________\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nDisclaimer :\n\u003cbr\>\n- This email and any file transmitted with it are confidential and\n\u003cbr\>\nare intended solely for the use of the individual or entity whom\n\u003cbr\>\nthey are addressed, if you are not the original recipient, please\n\u003cbr\>\ndelete it from your system.\n\u003cbr\>\n- Any views or opinions expressed in this email are those of the\n\u003cbr\>\nauthor only.\n\u003cbr\>\n__________________________________________________________\u003c/p\>\n \u003c/div\> \n\n \n \u003cspan width\u003d\”1\” style\u003d\”color:white\”\>__._,_.___\u003c/span\>\n \n \u003cdiv\>\n \u003cspan\>\n \u003ca href\u003d\”http://groups.yahoo.com/group/sabili/message/85658;_ylc\u003dX3oDMTM2Zm5mYjJ1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwNTA4ODkEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc2MTc5BG1zZ0lkAzg1NjU4BHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE4MTAwNTU5NAR0cGNJZAM4NTY1OA–\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>”,1]
);

//–>
Al-Aqra’"  Rasulullah menimpali: "Itu sama saja tiada beda", maka Abu Bakar

pun  berkata:  "Aku bersaksi bahwa engkau seperti yang Allah katakan: "Kami

tiada mengajarkan syair kepadanya dan memang tiada layak baginya."

Dunia Nyata Umat

June 25th, 2007 by adehp

Republika: Minggu, 24 Juni 2007 14:40:00

Dunia Nyata Umat

Umat Islam di negeri ini jumlahnya mayoritas. Tahun 2000 persentasenya

89,22 persen dari total penduduk. Patut disyukuri bahwa jumlah sebesar itu

telah mengantarkan Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar

di dunia. Tak berlebihan jika setiap dinamika Islam yang muncul di

Nusantara tercinta ini selalu menjadi perhatian dunia, bahkan untuk isu

terorisme yang sangat merugikan nama baik umat sekalipun.

Namun besar angka tak berarti selesai urusan. Mayoritas jumlah tapi

minoritas dalam kualitas. Umat marginal secara politik, sekadar jadi

maf’ul-bih alias objek penderita. Tertinggal dalam perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Masih rendah mutu sumber daya manusianya.

Kondisi kesehatan dan lingkungannya pun masih memprihatinkan. Lebih parah

lagi kondisi ekonominya, masih dililit kemiskinan.

Kemiskinan bahkan masih menjadi momok terbesar umat Islam di negeri

kepulauan nan luas ini. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Di

era reformasi keadaan umat yang miskin tidak lebih baik. Padahal dari

kemiskinan itulah segala hal bermula. Tak bisa memenuhi kecukupan makan,

sandang, dan papan. Kesehatan rendah. Taraf pendidikan di bawah standar,

bahkan ada yang tak bersekolah. Kondisi kesejahteraan pun tak memenuhi

harapan hidup. Hidup umat jadi serba marginal.

Karena serba marginal, umat Islam di negeri ini tak bertenaga. Tidak

memiliki daya hidup yang kuat, apalagi di atas standar. Kekuatannya sebatas

demografis, itu pun terfragmentasi. Lebih sebagai kekuatan semu seperti

gincu. Tampak dahsyat dari luar, tapi bagaikan genangan danau.

Menggelembung tak mengalir. Meminjam istilah Pak AR Fakhruddin, ibarat

gajah bengkak (gajah abuh). Besar dan berpenyakit, karenanya sulit bergerak

lincah. Padahal gerak merupakan lambang daya hidup selaku khalifat fiy
al-arld.

Di negeri-negeri muslim pun kondisi umat tak jauh beda, kendati di Timur

Tengah secara ekonomi baik. Tapi di negeri-negeri Afrika sangat parah,

bahkan di bawah Indonesia. Sementara kaum Muslim di Timur Tengah secara

politik tak dapat jadi uswah hasanah. Mereka tak berdaya melawan Israel,

hingga sejak tahun 1948 belum berhasil membebaskan Palestina. Padahal

negeri Zionis itu wilayahnya sempit, penduduknya hanya enam juta, dan

posisinya dikepung negara-negara Arab yang kuat secara ekonomi dan militer.

Negeri-negeri Islam itu besar tapi tak bersatu. Apa daya, jumlah besar

bagaikan buih. Besar dengan gelembung putih tak berisi.

Padahal Tuhan telah memberi janji bahwa umat Muhammad ini akan menjadi

khalifah yang berkuasa di muka bumi sebagaimana kejayaan umat terdahulu (QS

An-Nur: 55). Janji Tuhan sangatlah tepat dan pasti, lebih-lebih diungkapkan

dengan kalimat ta’qid (penguat). Namun karena tak memenuhi syarat, maka

umat Islam masih belum jaya. Tak memenuhi syarat untuk menjadi khalifah

yang digdaya di muka bumi ini.

Di negeri Nusantara tercinta ini apa yang bisa dilakukan dengan umat yang

lemah atau marginal? Tak banyak yang dapat dilakukan, sebatas ikhtiar

minimal. Bahkan sebaliknya, banyak yang menjadi bahan mobilisasi tak

bertanggung jawab. Lebih-lebih mobilisasi politik dalam berbagai

perhelatan. Ketika pemilu dan pilkada hingga pilkades mereka disapa dan

kadang dimanjakan, tetapi sehabis pesta umat ditinggalkan dan tak

dihiraukan. Para elite dan partai politik pun begitu gairah kalau sedang

ada maunya. Mujahadah akbar, khaul, tabligh akbar, dan perhelatan berbau

ritual agama pun digelar dengan penuh semangat. Tetapi usai hajat digelar,

umat pun gigit jari.

Di negeri ini bahkan ada asumsi sekaligus komoditi politik menarik untuk

umat yang marginal. Politik Islam katanya sangatlah penting dan strategis

untuk amar makruf nahi munkar melalui kekuasaan. Melalui tangan negara.

Memang tepat jika dijalankan. Negara dan institusi-institusi politik yang

berada di dalamnya merupakan tangan yang efektif dan strategis untuk

mengurus rakyat, termasuk umat Islam. Apa yang tak mampu dilakukan oleh

tangan-tangan kekuasaan.

Namun apa daya. Negara, partai politik, dan para elite strategis di

dalamnya hingga saat ini tak mampu menjalankan amanat rakyatnya, amanat

umat. Keadaan bahkan sebaliknya, umat sekadar jadi sasaran mobilisasi

belaka. Ketika umat dirundung musibah dan dililit kesusahan hidup, pemimpin

puncak sibuk dengan tebar pesona dan urusan-urusan citra, juga sibuk dengan

rencana politik 2009. Partai dan elite politik di parlemen pun lebih banyak

mengurus dirinya, termasuk urusan kenaikan gaji dan tunjangan.

Partai politik Islam pun seolah tak jauh beda. Tak sungguh-sungguh peduli

dengan urusan umat yang besar-besar seperti memecahkan kemiskinan,

pengangguran, dan kesejahteraan rakyat/umat melalui kebijakan-kebijakan

politik pro-rakyat. RUU APP saja hingga kini tak jelas nasibnya, padahal

bagi umat itu penting karena menyangkut ikhtiar membangun akhlak dan

melawan demoralisasi yang makin liar. Kadang umat sekadar diberi kembang

gula politik seperti demo para aktivis politik dan pernyataan tokohnya yang

menyenangkan hati umat seketika, tetapi tak mengubah keadaan. Apalagi

memecahkan kemiskinan, pengangguran, dan marginalisasi sosial umat.

Padahal, partai politik sesungguhnya harus bermain di aras kebijakan, bukan

dalam kerja-kerja sosial dan keagamaan yang sebenarnya bukan wilayahnya.

Partai politik dan para elitenya semestinya bergerak di jalur kekuasaan.

Berbuatlah optimal bila perlu mati-matian di level kebijakan negara.

Kepemimpinan umat pun seolah kehilangan fungsinya yang efektif dan

strategis untuk memberdayakan umat. Urusan pilkada dan

perhelatan-perhelatan politik lainnya sering menyita energi umat dan para

elitenya. Menteri Agama sampai melakukan kritik, para ulama sibuk dengan

urusan politik, abai dalam mendidik dan mencerahkan umat. Nalar umat

dipadati dengan urusan sesat-menyesatkan paham, yang membuat pikiran umat

menjadi bernapas pendek dan hilangnya ruh kearifan dan kecerdasan.

Sementara elemen umat yang galak, akhirnya menumpahkan energi keagamaannya

untuk selalu marah dan melakukan tindakan kekerasan tanpa pertimbangan

panjang, yang pada akhirnya meruntuhkan nama baik dan kehormatan Islam.

Padahal, kata Al-Mawardi, kepemimpinan umat itu harus hadir sebagai

pantulan kerisalahan Nabi, yakni "fiy harasat al-din wa al-siyasat

al-dunya". Menegakkan nilai-nilai agama dan mengurus urusan dunia dengan

sebaik-baiknya. Nilai-nilai agama yang berbasis kerisalahan Nabi, tiada

lain menjadi rahmat bagi semesta alam sebagaimana deklarasi Tuhan untuk

risalah Muhammad: wa ma arsal-n-ka illa rahmatan lil-’alamin (QS Al-Anbiya:

107). Sedangkan siyasah (politik) adalah "sawas al-amr", mengurus urusan

sesuatu (dunia) dengan baik dan benar, bukan pekerjaan siasat menyiasati

dan akal-akalan.

Memang, tak mudah menghadirkan politik dan kepemimpinan umat yang membumi,

yang menyentuh dunia nyata. Lebih-lebih dalam masyarakat dan bangsa yang

masih dibalut budaya parokhial dan patrimonial. Dua institusi terpenting

umat itu seringkali gagal dalam menyentuh dan memecahkan masalah-masalah

konkret yang dihadapi umat. Apalagi untuk merambah persoalan-persoalan

universal yang serba melampaui dunia umat. Kultur politik dan kepemimpinan

umat alih-alih tak mampu menyelesaikan urusan-urusan dunia yang kompleks

dan nyata, malah giat memproduksi simbol dan pesona kulit luar. Merah

menyala di angkasa, tapi kehilangan substansi dan fungsi untuk membebaskan

dan mencerahkan kehidupan umat di dunia nyata.

(Haedar Nashir )

DARAH, HAL PERTAMA YANG DIPERKARAKAN DI HARI KIAMAT!!

June 25th, 2007 by adehp

DARAH, HAL PERTAMA YANG DIPERKARAKAN DI HARI KIAMAT!!

MUKADDIMAH

Sekarang ini, betapa banyak orang yang mengentengkan masalah darah. Bahkan

sudah menjadi pemandangan sehari-hari, di televisi, misalnya, melihat

tayangan yang berbau pertumpahan darah; pembunuhan sadis, bunuh diri, dan

lain sebagainya.

Nampaknya, segologan orang tertentu sudah tidak memusingkan lagi perkara

masuk penjara. Yang penting baginya melampiaskan hawa nafsunya dan

dendamnya.!? Akhirnya, banyak nyawa melayang secara sadis dengan begitu

mudah.

Itulah pemandangan zaman ini; zaman di mana manusia sudah kehilangan jati

diri dan pedoman hidup yang mengarahkan mereka ke jalur yang benar. !?

Padahal di dalam Islam, darah teramat berharga.! Harga darah yang tertumpah

sangat mahal, yaitu seharga 200 ekor onta.!? Bahkan, bagi Allah, robohnya

Ka’bah lebih ringan daripada tertumpahnya darah Muslim.!!

Kajian kali ini, mengangkat tema ‘darah’ ini, semoga bermanfaat.

TEKS HADITS

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Hal yang pertama kali diputuskan (dihisab) diantara sesama manusia pada

hari kiamat adalah masalah darah (pembunuhan)." (Mutafaqun ‘alaih)

PESAN-PESAN HADITS

- Besarnya perkara darah manusia, dan tidaklah masalah darah ini

didahulukan dari perkara lainnya pada hari kiamat kecuali karena perkara

ini lebih besar dan lebih penting dari bentuk-bentuk kezaliman lainnya.

Ibnu Daqiq al-’Ied berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil yang

menunjukkan besarnya masalah darah (pembunuhan), karena memulai sesuatu

dilakukan terhadap perkara yang paling penting. Dan perkara darah ini

memang pantas didahulukan dari perkara lainnya, karena besarnya suatu dosa

tergantung kepada besarnya mafsadat (kerusakan) yang ditimbulkan atau

besarnya maslahat yang dihilangkan. Dan membunuh seseorang menimbulkan

kerusakan yang sangat besar, maka pantas kalau membunuh itu menempati dosa

yang paling besar setelah kufur kepada Allah.

- Penetapan adanya hari kiamat dan hisab (perhitungan amal) dan pemutusan

perkara serta balasannya.

- Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh

penulis kitab-kitab sunan (Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu

Majah) dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW, "Perkara yang pertama kali akan

dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya". Karena dalam hadits Ibnu

Mas’ud di atas yang dimaksud adalah perkara yang berkaitan antara seorang

hamba dengan sesamanya, sedangkan yang dimaksud dalam hadits Abu Hurairah

adalah perkara yang berkaitan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan

tidak diragukan lagi bahwa hak manusia yang paling besar adalah masalah

darah, dan hak Allah yang paling besar dari seorang muslim adalah shalat.

- Wajibnya berhati-hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak sesama

makhluk, agar ia tidak celaka pada hari kiamat nanti, dan hak makhluk yang

paling besar adalah masalah darah.

- Wajib atas pengadilan ataupun mahkamah untuk memperhatikan masalah

pembunuhan, dan menempatkan masalah ini sebagai prioritas pertama dari

masalah-masalah lainnya.

(SUMBER: Taudhih al-Ahkam Min Bulugh al-Maram karya Syaikh Abdullah bin

Abdurrahman al Bassam, Jld V, hal.170-171)

Cah Ndeso

December 13th, 2006 by adehp

Bismillah
Pagi-pagi,buka detik.com…Awalnya cuma biasa aja baca berita pelantikan wisudawan Akmil taon ini diYogya. Tapi pas diteliti2…wah ada nama taruna asal SMAN 1 Cirebon setelah dilihat ternyata Abdul Gofur tho…cek..cek…mantap betul neh sahabatku ini. Udah lama gak ketemu…eh udah jadi pejabat Militer sekarang. Sejenak ane berfikir, ternyata banyak hikmah dari kisah dia ini didalam kehidupan. Sedikit cerita lah tt nih org…Dialah dia anak asli daerah Sumber Kabupaten Cirebon…yang jauh lah dari hingar bingar kota cerbon…mo kerumahnya aja harus naek angkot 2 kali…trus naek  ojek…udah gitu desanya sering tawuran pula…bener2 dah…

Tapi disitulah ternyata letak uniknya, dengan modal kesulitan itu…dia jadi anak yang semangat utk belajar…mungkin dia berasal dari SMPN 11, ya SMP pinggiran kota   lah…Tapi dia berusaha dan akhirnya bisa masuk SMUN 1 Cerbon gt deh…Anak seorang petani dan Rumahnya juga gak terlalu besar…dan keluarganya baik bgt ama kita2…dulu inget bgt…klo kesana selalu dimasakin ama ibunya…padahal cuma mo ngerjain tugas bareng doank…Salah satu yg palingku inget…Oseng2 Ampas Kecap…Mantap bener dah rasanya…Dan selama sekolah…aktif diolahraga dan Pasus klo gak salah…dan maen bolanya jago dah, ampe membawa kelas 1-6 jadi juara sekolahan…Dan urusan studi, jangan ditanya deh…masuk peringkat 1 paralel sih udah biasa banget…dikasih makan apa ye bisa pinter gt…

Hikmah yg ane dpt dari kisah sahabatku tadi…diantaranya, ternyata segala macam bentuk kekurangan yg dipunya seseorang ternyata tidak menghalangi dia untuk bisa berbuat lebih…sebab ternyata dengan kekurangannya dia jadi tersadarkan bahwa dia punya tanggung jawab utk membantu kondisi keluarganya dan dari situlah ternyata sebuah kekurangan telah berubah menjadi sebuah kelebihan berupa semangat utk menjadi lebih baik…terlepas dari IQ org yg emang pinter…Juga ane melihat bagaimana dia  bisa memanfaatkan waktu yg diberikan 4JJ menjadi efisien dan optimal…Dengan jarak yg jauh dari sekolah gak bikin org suka telat…

Smoga cepet jadi jendral deh fur…bangun bangsa ini jadi lebih baik…^_^