Disela2 kerjan kantor hari ini, kucoba sedikit meluangkan waktu untuk menulis lagi. Ya ini hari pertama kerja lagi diminggu ini. Ya setelah kmrn berjuang kembali untuk mencoba kesempatan mencari maisyah di perusahaan negara yg jualan minyak. Ya walaupun sekarang sudah mendapat kesempatan mencari maisyah diperusahaan negara yang jualan jasa naek kendaraan diatas rel, tapi kayaknya udah fitrah dari manusia utk mencoba mencari yg lebih baik. Semoga bukan kufur nikmat! Amin
Nah kembali ke topik utama diatas. Itulah sebuah representasi lain dari arti sebuah takdir. Jika kita melihat sebuah rumah, maka terlihat bahwa didalamnya terdiri dari banyak elemen, mulai dari genteng, tembok, lantai, jendela, dll. Tapi kadang kita tidak pernah memikirkan ato merenunginya seperti itu. Sama seperti nasib manusia, ada yang ditakdirkan sebagai pemimpin ada jg yang sebagai bawahan. Akan tetapi, saat ini semua orang seakan-akan lupa bahwa emang semua itu udah ada bagiannya.
Yang merasa diatas terus saja melihat keatas dan yg dibawah selalu merasa rendah dan diinjak-injak oleh yang diatas. Padahal Rosul mengajarkan kepada kita untuk untuk selalu menunduk melihat kebawah untuk urusan-urusan dunia sedangkan untuk urusan akhirat baru kita menengadah keatas. Maksudnya tadi itu adalah…saat menghadapi urusan-urusan dunia seperti harta dan kekuasaan banyak-banyaklah melihat kebawah. Tentunya hal ini seharusnya membuat kita semakin mensyukuri atas apa yang kita miliki dan dapatkan sekarang. Sehingga dapat meningkatkan ketakwaan kita.
Dan sebaliknya saat menghadapi urusan akhirat, kita harus melihat yg atas. Maksudnya kita harus mencontoh orang-orang yang kita rasa memiliki keimanan lebih dari kita. Sebab memang kita semua dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, bukan berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta. Nyok kita berlomba sejak sekarang.
Dalam masalah harta dan kekuasaan, sebenernya kebanyakan orang lebih mencari itu untuk dapat sebuah pengakuan dari masyarakat bahwa dia itu hebat ato dalam arti lain itu cuma masalah gengsi doank. Makanya klo acara-acara yang bersifat disaksikan orang banyak maka banyak juga yang akan mendaftar…ya seperti indonesia idol, AFI, ato apalah. kebanyakan sih, cuma mau nampang didepan umum biar terkenal. Ya nggak? Utk masalah uang ato kerjaan juga kebanyakan begitu. Cari kerja ditempat yg terkenal dan banyak uangnya, padahal belum tentu kerjaan itu uangnya dari hasil usaha yang halal. ya kayak diBank yang banyak bgt ribanya.
Tapi jarang orang itu mau terkenal untuk dipandang dimata Allah dan malaikat. Mau sih mungkin pada mau tapi usahanya kesana sepertinya justru semakin membuatnya jauh dari Allah. Bahkan dengan dalih ibadah atau dakwah untuk lagi-lagi terkenal didepan manusia. Padahal kan kita udah tau dari blog-blog sebelumnya bahwa nanti diakhirat, tidak ada yang bisa menyelamatkan kita selain Allah. Bahkan biarpun dikenal banyak orang didunia, nanti disana kita gak akan pernah kepikiran untuk ngurus orang lain.
Memang manusia diciptakan dalam keadaan yang selalu berkeluh kesah. Dimana, yang kaya merasa kok kayaknya masih kurang dan yang miskin merasa kok hidup gini-gini aja, gak bisa ngapa-ngapain. Juga banyak yg mengunakan dalil bahwa dulu nabi juga berdagang, trus kita sibuk berdagang atau bekerja terus. tapi kan kita juga tau bahwa nabi itu berjualan ato bekerja sebelum menjadi nabi, tapi setelah diangkat jadi Rosul ya sibuk berdakwah dan hidup dari harta rampasan perang. Ya jangan sampai kita ambil enaknya aja dgn melupakan yang lain. Tapi bukan berarti kita harus miskin, ya nggak donk. Dulu kan juga banyak sahabat nabi yang kaya, dan justru sahabat-sahabat ini yg menjadi penopang dakwah. dimana tidak segan-segan mengeluarkan kekayaannya untuk agama Allah. dan nabi membiarkannya, berarti kaya boleh tapiii uangnya bisa berguna dan bertanggung jawab.
Ya untuk kawan-kawan yang masih selalu merasa kurang dalam hidup ini…ada satu jawaban Allah yg sangat nusuk ke hati lho, coba deh liat ayat yang selalu diulang-ulang disurat Arrahman. Allah mengatakan apakah nikmat yang engkau sangsikan! Walaupun itu berupa pertanyaan, tetapi seharusnya hal itu bisa membuat hati ini seharusnya runtuh…Seharusnya dalam kondisi apapun, kita tetap orang paling bahagia karena memang nikmat Allah selalu hadir dari mulai bangun tidur ampe besok bangun tidur lagi dan terus menerus selama masih hidup didunia. Udah deh kawanku semua, kurangilah bekeluh kesah….Masih banyak yg mungkin lebih kurang dari keadaan kita semua…
Mari sibukan diri kita dengan bersyukur kepada-Nya dengan banyak-banyak dan berlomba-lomba dalam kebajikan. Untuk selalu melihat kebawah lagi, biar bisa lebih mengingat atas nikmat-nikmat yang kita dapat.