Archive for July, 2006

Stress…???

Thursday, July 20th, 2006

Kenapa Aku Diuji?

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka
dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak
diuji lagi?

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum
mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Al-Ankabut, ayat
2-3

Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang
Aku Idam-Idamkan?

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat
buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.
Al-Baqarah ayat 216

Kenapa Ujian Seberat
Ini?

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya.
Al-Baqarah ayat 286

Rasa
Frustasi?

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu
bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
Al-Imran ayat
139

Bagaimana Aku Harus Menghadapinya?

Hai orang-orang yang
beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap
siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu
beruntung.
Al-Imran ayat 200

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu’,
Al-Baqarah ayat 45

Apa Yang Aku Dapat
Dari Semua Ini?

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min,
diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
At-Taubah
ayat 111

Kepada Siapa Aku Berharap?

Cukuplah Allah bagiku; tidak
ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal.
At-Taubah ayat
129

Aku Tak Dapat Bertahan Lagi!!!!!

dan jangan kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat
Allah, melainkan kaum yang kafir.
Yusuf ayat 87

Apabila kamu
dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan
lebih baik, atau balaslah(dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungkan segala sesuatu.
An-Nisaa’ ayat 86

Mari kita
berbenah dan terus berbenah..untuk
memepersembahkan yang terbaik dalam masa
hidup kita..

Dengan torehan kemuliaan dan semangat
pantang menyerah…
Dimanapun. kapanpun dan dengan siapapun..selama
Allah
SWT menjadi "..just The One goal.."

Insya Allah akan "bahagia"
sebagaimana doa yang sering terlantun untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Amalan Sebelum Tidur

Thursday, July 20th, 2006

    Rasulullah SAW bersabda: "Semua dosa akan ditangguhkan oleh Allah SWT sampai hari Kiamat nanti apa saja yang Dia kehendaki, kecuali durhaka kepada orang tua, maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan kepada pelakunya dalam hidupnya sebelum meninggal dunia" (Hadist Riwayat Hakim)
    Suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumah Sayyidah Fathimah as. Ketika itu, Fathimah sudah berbaring untuk tidur. Rasulullah saw lalu berkata, "Wahai Fathimah, lâ tanâmi. Janganlah engkau tidur sebelum engkau lakukan empat hal; mengkhatam Al-Quran, memperoleh syafaat dari para nabi, membuat hati kaum mukminin dan mukminat senang dan rida kepadamu, serta melakukan haji dan umrah."
    Fathimah bertanya, "Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?" Rasulullah saw menjawab, "Sebelum tidur, bacalah oleh kamu Qul huwallâhu ahad tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatam Al-Quran."
    Yang dimaksud dengan Qul huwallâhu ahad adalah seluruh surat Al-Ikhlas, bukan ayat pertamanya saja. Dalam banyak hadis, sering kali suatu surat disebut dengan ayat pertamanya. Misalnya surat Al-Insyirah yang sering disebut dengan surat Alam nasyrah.   
    Rasulullah saw melanjutkan ucapannya, "Kemudian supaya engkau mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku, bacalah shalawat: Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shalayta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim. Allâhumma bârik ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim fil ‘âlamina innaka hamîdun majîd.
    "Kemudian supaya kamu memperoleh rasa rida dari kaum mukminin dan mukminat, supaya kamu disenangi oleh mereka, dan supaya kamu juga rida kepada mereka, bacalah istighfar bagi dirimu, orang tuamu, dan seluruh kaum mukminin dan mukminat."
    Tidak disebutkan dalam hadis itu istighfar seperti apa yang harus dibaca.
Yang jelas, dalam istighfar itu kita mohonkan ampunan bagi orang-orang lain selain diri kita sendiri. Untuk apa kita memohon ampunan bagi orang lain?
    Agar kita tidur dengan membawa hati yang bersih, tidak membawa kebencian atau kejengkelan kepada sesama kaum muslimin. Kita mohonkan ampunan kepada Allah untuk semua orang yang pernah berbuat salah terhadap kita. Hal itu tentu saja tidak mudah. Sulit bagi kita untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita. Bila kita tidur dengan menyimpan dendam, tanpa memaafkan orang lain, kita akan tidur dengan membawa penyakit hati. Bahkan mungkin kita tak akan bisa tidur. Sekalipun kita tidur, tidur kita akan memberikan mimpi buruk bagi kita. Penyakit hati itu akan tumbuh dan berkembang ketika kita tidur. Dari penyakit hati itulah lahir penyakit-penyakit jiwa dan penyakit-penyakit fisik. Orang yang stress harus membiasakan diri memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang membuatnya stress sebelum ia beranjak tidur.
    Dalam hadis itu tidak dicontohkan istighfar macam apa yang harus kita baca.
Tapi ada satu istighfar yang telah dicontohkan oleh orang tua-orang tua kita di kampung. Biasanya setelah salat maghrib, mereka membaca:
"Astaghfirullâhal azhîm lî wa lî wâlidayya wa lî ashâbil huqûqi wajibâti ‘alayya wal masyâikhina wal ikhwâninâ wa li jamî’il muslimîna wal muslimât wal mukminîna wal mukminât, al ahyâiminhum wal amwât. Ya Allah, aku mohonkan ampunan pada-Mu bagi diriku dan kedua orang tuaku, bagi semua keluarga yang menjadi kewajiban bagiku untuk mengurus mereka. Ampuni juga guru-guru kami, saudara-saudara kami, muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat."
    Bila kita amalkan istighfar itu sebelum tidur, paling tidak kita telah meminta ampun untuk orang tua kita. Istighfar kita, insya Allah, akan membuat orang tua kita di alam Barzah senang kepada kita. Istighfar itu pun akan menghibur mereka dalam perjalanan mereka di alam Barzah. Manfaat paling besar dari membaca istighfar adalah menentramkan tidur kita.
    Nasihat terakhir dari Rasulullah saw kepada Fathimah adalah, "Sebelum tidur, hendaknya kamu lakukan haji dan umrah." Bagaimana caranya? Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang membaca subhânallâh wal hamdulillâh wa lâ ilâha ilallâh huwallâhu akbar, ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah."
    Menurut Rasulullah saw, barangsiapa yang membaca wirid itu lalu tertidur pulas, kemudian dia bangun kembali, Allah menghitung waktu tidurnya sebagai waktu berzikir sehingga orang itu dianggap sebagai orang yang berzikir terus menerus. Tidurnya bukanlah tidur ghaflah, tidur kelalaian, tapi tidur dalam keadaan berzikir. Sebetulnya, bila sebelum tidur kita membaca zikir, tubuh kita akan tertidur tapi ruh kita akan terus berzikir. Sekiranya orang itu terbangun di tengah tidurnya, niscaya dari mulut orang itu akan keluar zikir asma Allah.

Petikan dari ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad di Mesjid Al-Munawwarah, tanggal 12 September 1999. Ditranskripsi oleh Ilman Fauzi Rakhmat

Pemuda itu

Thursday, July 20th, 2006

Berikut ada cerita bagus dari tetangga milis neh…Smoga bisa kita ambil manfaatnya

   

Di tengah kesibukan dengan pekerjaan, terkadang kita terlena oleh pekerjaan itu sendiri. Shallat berjamaah terkadang terlewatkan, dengan alasan kerjaan nanggung, sebentar lagi meeting atau sebentar lagi ada bos. Banyak alasan sehingga kita melupakan aktifitas yang penuh pahala dan penuh hikmah ini. Terkadang karena hal – hal itu saya pun tertinggal  shallat berjamaah.
    Kebetulan kantor tempat saya bekerja ada sebuah musholla kecil yang hanya bisa menampung 7 orang saja sedangkan pergi ke mesjid besar cukup jauh sekitar 300 meteran. Terkadang saya bisa pergi ke mesjid terkadang juga hanya mampu shallat sendiri di musholla kantor.
Setiap saya bisa berkesempatan shallat asyar di mesjid ini lah saya selalu memperhatikan seorang pemuda, dengan pakaian seadanya tapi jelas kelihatan bersih dan rapi, serta rambut yang di sisir rapi, shallat khusu di shap sebelah kanan. Pemuda tadi begitu memperhatikan sekali akan kebersihan dalam menghadapkan diri pada Allah SWT, melalui shallatnya. Begitu memperhatikan sekali ketepatan waktu dalam shallatnya dan begitu memperhatikan sekali shallat berjamaah. Saya sempat menerka – nerka orang ini, mungkin dia seorang pegawai bangunan yang sedang mengerjakan project di sekitar mesjid itu atau bahkan seorang karyawan yang bekerja di kantor yang tidak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Sungguh jelas sekali terlihat dari wajahnya yang bersih dan kelihatan berseri, kelihatan jelas wajahnya yang selalu dibasahi oleh air wudhu.
    Hari itu menjelang adzan asyar berkumandang, teta – teki tentang siapa pemuda itu terjawab. Dari jauh terlihat sekelompok orang dengan membawa perkakas kebersihan sapu penggaruk daun sedang berjalan menuju tempat istirahatnya, dan di antara mereka terdapat si pemuda tadi. Oh…sungguh terenyuh hati ini, sungguh subhannallah… maha besar Allah, Kau telah memilih dia sebagai seorang pemuda yang shaleh mungkin jauh lebih shaleh daripada saya, bahkan saya tidak merasa diri shaleh. Padahal secara  status sosial kalau dilihat dari pekerjaan yang dia lakukan sungguh pekerjaan yang dia lakukan bagi sebagian orang akan mencibirnya. Kerja dengan peluh keringat bercucuran di bawah terik matahari yang menyengat, belum lagi debu dan kotornya tempat pemuda itu bekerja. Tak terasa airmata rasanya mau tumpah melihat begitu mulianya pemuda itu di hadapan Allah di bandingkan dengan kondisi saya saat ini, kerja dikantor banyak waktu luang tapi terkadang suka melalaikan shallat berjamaah, meskipun pakaian banyak di lemari tapi terkadang tidak memperhatikan kebersihannya saat shallat. Baju kantor merangkap pula baju shallat.
    Sedangkan pemuda tadi selalu memperhatikan shallat berjamaah, berpakaian rapi dan bersih, membersihkan badan supaya segar dan wangi dan pergi ke mesjid itu pada saatnya shallat asyar padahal jaraknya cukup jauh.
    Puji syukur kepada Mu ya Allah atas segala peristiwa tadi, jadi cermin untuk memperbaiki ibadah saya, Ya..Allah berilah saya kekuatan untuk bisa melakukan taubatan na suha, taubat yang sebenar –  benarnya taubat. Amin.
    Melalui tulisan ini saya berdoa dengan tulus " ya..Allah berilah pemuda tadi kemulian hidup di dunia dan kemuliaan hidup di akherat "
amin.

Dari: Jemaah Mesjid Baiturahim

Ii Takut! Ayo Merenung Sejenak…(Part 2)

Thursday, July 20th, 2006

NERAKA

Allah Swt berfirman dalam Al‑Qur’an: Dan sesungguhnya Jahannam itu tempat yang dijanjikan bagi mereka sekalian. Ia mempunyai tujuh pintu; tiap‑tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka (pengikut‑pengikut iblis). (QS. Al‑Hur, 15: 43:44)
Tentang pintu‑pintu neraka, Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Jibril as: ‘Apakah keadaan pintu‑pintu neraka itu seperti pintu rumahku?’ Jawab Jibril: ‘Tidak, tetapi pintu neraka terbuka di bawah yang lain.’
Dalam sebuah riwayat, Wahab bin Munabbih berkata, Jarak satu pintu ke pintu lainnya bisa ditempuh dengan perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintunya sangat panas dari yang lain dengan perbandingan tujuh puluh kali. 
(MUKHTASHAR TADZKIRATUL QURTHUBY)

(Dari Calon‑Calon ahli Surga dan Ahli Neraka ‑ M. Alli Chasan Umar)

Rasulullah Saw, dalam riwayat lain, pernah berdialog dengan Malaikat Jibril as, 
Rasulullah: Siapakah orang‑orang yang menempati pintu‑pintu neraka itu?
Jibril: Pintu pertama (paling bawah) namanya Hawiyah, ditempati orang‑orang munafik dan kafir. Pintu kedua namanya Jahim, ditempati orang‑orang musyrik. Pintu ketiga namanya Saqar, ditempati orang‑orang Shabiin (orang‑orang yang menukar agama, para penyembah bintang, yang mengaku beragama Nabi Nuh). Pintu keempat namanya Ladhaa, ditempati Iblis dan para pengikutnya serta orang‑orang Majusi (penyembah api). Pintu kelima namanya Huthamah, ditempati orang‑orang Yahudi. Pintu keenam namanya Sa’ir, ditempati orang‑orang Nasrani. Pintu ketujuh ditempati orang‑orang yang berbuat dosa besar dari golongan umatmu yang sampai mati mereka belum bertobat.
    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jibril tidak menerangkan penghuni pintu ketujuh sehingga Rasulullah Saw bertanya: ‘Wahai Jibril mengapa engkau tidak menuturkan kepadaku penghuni pintu ketujuh? Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, tak usahlah engkau tanyakan hal itu kepadaku’. Kata Nabi Saw: ‘Baiklah kalau begitu.’ Maka Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, yaitu para pembuat dosa‑dosa besar dari ummatmu. Mereka mati sebelum bertobat. ‘Seketika itu Nabi Saw pingsan. 
Dan stelah sadar beliau berkata: ‘Wahai Jibril, besar sekali musibahku dan aku sangat takut. Apakah salah seorang dari ummatku akan masuk neraka?’ Jibril menjawab: ‘Ya, ummatmu yang berbuat dosa‑dosa besar.’ Maka nabi Saw menangis lalu Jibril menangis pula karena tangisnya Nabi Saw. (Tanbihul Ghafilin‑Al‑Faqih Abu Laits Samarqandi, hal 59)
    Pintu‑pintu neraka akan dibukakan bila golongan yang akan memasuki telah dihadirkan, seperti firman Allah: Dan orang‑orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong‑rombongan, sehingga apabila mereka sampai keneraka, dibukakan pintu‑pintunya dan penunggu‑penunggunya berkata kepada mereka: ‘Bukankah telah datang kepada kamu rasul‑rasul dari jenis kamu yang membacakan kepada kamu ayat‑ayat Tuhan kamu dan mengancam kamu dengan pertemuan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya ada! Tetapi telah pantas hukuman azab atas orang‑orang kafir. (QS, As‑Zumar, 39:72)
Lalu dalam keadaan rela atau terpaksa mereka akan dihardik untuk memasukinya,
    Dikatakannya: ‘Masukilah pintu‑pintu Jahannam itu, kamu kekal di dalamnya.’ Maka alangkah jelek tempat kembali bagi orang‑orang yang sombong itu. (QS. Az‑Zumar, 39:72)
    Dalam sebuah hadits yang panjang, Abu Hurairah ra menggambarkan neraka pada kalimat terakhir hadits itu,  Abu Hurairah berkata: Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tanganNya, bahwa dasar Jahannam itu dalamnya adalah tujuh puluh tahun (perjalanan).
(HR. Muslim dan Hudzaifah dan Abu Hurairah ra)
    Dalam hadits lain, yaitu:
Hadits Ibnu Abbas ra mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba‑tiba dia mendengar suatu suara. Ketika itu Nabi saw bertanya: ‘Tahukah kamu suara apakah itu?’ Jawab mereka: ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu.’ Kata Nabi Saw: ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang sampai ke dasar neraka itu.’ (HR. Muslim)
    Tidaklah berlebihan bila dalam sebuah dialognya dengan Allah, Jahannam mengatakan masih sanggup memuat calon‑calon penghuninya berapa pun jumlahnya, seperti firman Allah,  Ingatlah hari yang Kami akan bertanya kepada Jahannam: ‘Sudahkah engkau penuh?’ dan ia (Jahannam) akan menjawab: ‘Apakah ada tambahan?’ (QS, Qaf, 50:30)
    Tentang panasnya api neraka, Rasulullah Saw bersabda, Api kalian yang dinyalakan di dunia ini adalah sebagian dari tujuhpuluh bagian bila dibandingkan dengan panasnya api Jahannam. Para sahabat bertanya: ‘Demi Allah, yang ini saja yang di dunia kiranya sudah mencukupi (untuk menghancurkan manusia) ya Rasulullah?’
    Sahut beliau: ‘Sesungguhnya panasnya itu masih lebih sembilan puluh sembilan bagian lagi (dari api dunia ini) yang masing‑masing panasnya setiap bagian sedemikian itu. (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra)
    Dalam hadits lain dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Panas api yang kamu nyalakan di dunia ini (termasuk matahari) hanyalah sepertujuh puluh dari panasnya api neraka di akhirat. Kalau sebagian kecil (api neraka) jatuh ke dunia, niscaya mendidihlah air laut karena panasnya. (HR. Muslim) (Dari Kehidupan Insan di Alam Baqa‑Halimuddin SH, hal 8)
    Dalam satu riwayat disebukan bahwa Allah Ta’ala mengutus malaikat Jibril as kepada malaikat Malik supaya mengambil sebagian dari api neraka untuk keperluan Adam memasak makanan. 
Malaikat Malik berkata: Wahai Jibril, berapa api yang engkau kehendaki dari neraka?
Jibril : Kira‑kira sebutir kurma.
Malik : Wahai Jibril, sekiranya aku berikan kepadamu api neraka sebesar sebutir kurma, niscaya hancurlah tujuh langit dan tujuh bumi karena panasnya.
Jibril : Bagaimana kalau hanya separuhnya saja?
Malik : Andaikata apa yang engkau kehendaki itu aku berikan, niscaya tidak akan ada air di langit walau setetes pun dan tak akan tumbuh satu pun tumbuh‑tumbuhan di bumi.(Kemudian Jibril menghadap Allah dan berkata)
Jibril : Ya Tuhanku, seberapa aku harus mengambil api dari neraka?
Allah : Ambillah sebesar debu. (Durratun Nasihin III, hal 112)
    Maka Jibril mengambil api sebesar debu, lalu ia menyelamkannya dalam sungai sampai 70 (tujuh puluh) kali. Kemudian ia memberikannya kepada Adam as dan Jibril meletakkannya di atas gunung yang menjulang tinggi, gunung musnah. Akhirnya api itu dikembalikan lagi pada tempatnya. Adapun asapnya tertinggal pada batu‑batu dan besi‑besi sampai sekarang.
    Dan dapatlah dibayangkan betapa panasnya kalau percikan‑percikan api neraka itu seperti yang dilukiskan oleh Allah dalam Al‑Qur’an: Sesungguhnya neraka itu melontarkan percikan‑percikan api sebesar balok. (QS, Al‑Mursalat, 77:32)
    Malaikat Jibril as pernah memberi gambaran kepada Nabi Muhammad Saw tentang neraka. Begini: Andaikata neraka itu dibuka selubang jarum di arah timur maka terbakarlah penduduk bagian barat karena sangat panasnya. 
    Dan andaikata pakaian ahli neraka digantungkan diantara langit dan bumi, maka matilah mereka karena sangat panasnya. Dan andaikan satu hasta rantai yang telah disebutkan Allah dalam kitab‑Nya itu diletakkan pada gunung maka hancurlah gunung itu hingga menembus tujuh bumi. Dan andaikata seorang lelaki dari ahli neraka yang disiksa berada di arah barat maka sungguh akan hanguslah orang yang berada di arah timur karena sangat hebatnya siksaan.
    Sebelum para ahli neraka dihadirkan, Allah mengadakan persiapan‑persiapan secukupnya untuk membuat kejutan‑kejutan yang mendirikan bulu roma. Bersabda Rasulullah Saw: Malaikat Jibril telah datang kepadaku, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Jibril terangkanlah kepadaku sifat‑sifat neraka Jahannam. Ia (Jibril) berkata: ‘Sungguh Allah Ta’ala telah menciptakan neraka dan menyalakannya selama seribu tahun sehingga menjadi berwarna merah, kemudian menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga mejadi berwarna putih, lalu menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga berwarna hitam seperti malam yang gelap, nyalanya tidak pernah berhenti dan baranya tidak pernah bisa padam.’
    Allah melengkapi pemandangan di neraka dengan sesuatu yang tidak hanya boleh dilihat tetapi wajib didaki oleh penghuninya. Hadits Abi Said al‑khudry ra, katanya: Rasulullah Saw pernah membicarakan tentang firman Tuhan yang berbunyi: ‘Aku akan membebaninya dengan pendakian yang melelahkan.’ Yaitu gunung di dalam neraka yang wajib didaki oleh orang kafir selama tujuh puluh tahun. Demikianlah ketinggian gunung itu. (HR. Tirmidzi)
    Dalam hadits lain dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Wailun itu suatu lembah di dalamnya neraka Jahannam. Dalamnya lembah itu sejauh empat puluh perjalanan bagi orang kafir baru sampai ke dasarnya. Kata Abi Said al Khudry ra: Bahwa Wailun itu adalah lembah yang terletak di antara dua buah gunung di dalam neraka. Empat puluh tahun lamanya orang kafir baru sampai ke dasarnya. (HR. Muslim)
    Rasulullah Saw menambahkan: Di dalamnya terdapat sebuah gunung yang bernama Raqabah yang dilalui orang‑orang kafir. Gunung ini begitu panasnya sehingga bila tangan diletakkan di atasnya maka tangan itu akan hancur dan bila diangkat maka kembali seperti semula. (HR. Tirmidzi)
    Tidak ada celah sedikitpun di dalamnya neraka yang tidak diramaikan oleh bara api. Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya tanah neraka itu terdiri dari timah hitam, pagarnya dari tembaga, atapnya dari belerang, kayu bakarnya dari manusia dan batu. Bila api neraka itu dinyalakan, maka semua yang ada di sana menyala pula menjadi api. (AL‑Hadits)
    Menurut keterangan dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Pada hari kiamat akan dikeluarkan neraka Jahannam dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat. (HR. Muslim)
    Keterangan selanjutnya adalah dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Neraka Jahannam pada hari kiamat nanti akan didatangkan dari bawah bumi yang ketujuh dan di sekelilingnya dikepung tujuh puluh ribu barisan malaikat. Setiap barisnya lebih banyak daripada jumlah dua golongan jin dan manusia. Mereka menarik Jahannam itu dengan tali‑talinya.
    Jahannam mempunyai empat kaki. Jarak antara dua kaki sejauh perjalanan seribu tahun. Jahannam memiliki tiga puluh ribu kepala, setiap kepala mempunya tiga puluh ribu mulut, setiap mulut mempunyai tiga puluh ribu geraham, masing‑masing geraham tiga puluh ribu kali besarnya dari gunung Uhud, setiap mulut juga memiliki dua bibir selebar dunia. Pada setiap bibir terdapat rantai dari besi dan pada setiap rantai mempunyai tujuh puluh ribu kolong, setiap kolong dipegang para malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian Jahannam digiring ke sebelah kiri Arsy. (Darratun Nasihin III, hal 15)
    Dan untuk menambah keseraman neraka maka Allah menciptakan Huraisy. Siapakah Huraisy itu? Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya, Rasulullah Saw bersabda: Kelak di hari kiamat akan keluar suatu (makhluk) dari neraka Jahannam namanya Huraisy yang dilahirkan dari yang panjangnya sejauh antara langit dan bumi sedang besarnya dari timur sampai barat.
Lalu Jibril as bertanya: Hai Huraisy mau kemanakah engkau dan siapa yang engkau cari?
Huraisy : Aku mencari lima golongan manusia. Pertama orang yang meninggalkan shalat. Kedua orang yang enggan mengeluarkan zakat. Ketiga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Keempat peminum arak. Kelima orang yang bercakap‑cakap di mesjid dalam urusan keduniaan (Durratun Nasihin I, hal. 129)
Disamping Huraisy yang besar itu Allah juga menghiasi neraka dengan binatang‑binatang kecil yang berukuran kecil menurut dimensi neraka. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra dari Nabi Saw, beliau bersabda: Sungguh di neraka terdapat beberapa ular dan kalajengking sebesar leher onta. Maka mereka akan memagut serta menyengat salah seorang dari kamu dengan pagutan dan sengatan yang dapat dirasakan panasnya selama empat pulun musim gugur. (Daqaa‑Ioqul Akhbaari)
(Dari Durratun Nasihin III, hal 243‑Usman al‑Khaibawi)
    Untuk melengkapi penderitaan orang‑orang kafir, Allah juga melipatgandakan dimensi tubuh mereka ratusan ribu kali. Dari Imam Muslim dari Abu Hurairah ra dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Geraham orang kafir itu seperti gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh tiga hari perjalanan.
Keterangan: Dimensi mereka diperbesar ratusan ribu kali lipat untuk memperluas permukaan kulit. Hal ini dimaksudkan agar segala macam siksaan terutama siksa bakaran dapat benar‑benar dirasakan.

Semoga bermanfaat!! Mari merenung sejenak

Agar Shalat Menjadi Hal Yang Besar Di Mata Kita

Thursday, July 20th, 2006

Berikut ini langkah-langkah yang inysa-Allah akan menjadikan kita memandang

shalat sebagai masalah yang besar:

À Menjaga waktu-waktu shalat dan
batasan-batasannya.
À Memperhatikan rukun-rukun, wajib dan kesempurnaannya.

À Bersegera melaksanakannya ketika datang waktunya.
À Sedih, gelisah dan
menyesal ketika tidak bisa melakukan shalat dengan
baik, seperti ketinggalan
shalat berjama’ah dan menyadari bahwa seandainya
shalatnya secara sendirian
diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, maka dia
hanya mendapatkan satu
pahala saja. Maka berarti dirinya telah kehilangan
pahala sebanyak dua puluh
tujuh kali lipat.
À Demikian pula ketika ketinggalan waktu-waktu awal yang
merupakan
waktu yang diridhai Allah subhanahu wata’ala, atau ketinggalan
shaf
pertama, yang jika orang mengetahui keutamaannya tentu mereka akan
berundi
untuk mendapatkannya.
À Kita juga bersedih manakala tidak mampu
mencapai khusyu’ dan tidak
dapat menghadirkan segenap hati ketika menghadap
kepada Rabb Tabaraka
Wata’ala. Padahal khusyu’ adalah inti dan ruh shalat,
karena shalat tanpa
ada kekhusyu’an maka ibarat badan tanpa ruh.

Oleh karena itu Allah tidak menerima shalat seseorang yang tidak khusyu’

meskipun dia telah gugur kewajibannya. Dia tidak mendapatkan pahala
dari
shalatnya, karena seseorang itu mendapatkan pahala shalat sesuai
dengan
kadar kekhusyu’an dan tingkat kesadaran dengan kondisi shalatnya
itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang
hamba
melakukan shalat dan dan tidaklah dia mendapatkan pahala shalatnya

kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya,

sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya,

atau setengahnya.

" (HR. Ahmad, Abu Dawud dihasankan Al-Albani)

Oleh karenanya beliau menegaskan dalam sabdanya, "Jika kalian
berdiri
untuk shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan

meninggalkan dunia." (HR Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani).

Sumber: 1. Ash-Shalâh, Limâdza?, Muhammad bin Ahmad al-Miqdam, Dâr

Thayyi-bah, Mekkah al-Mukarramah). 2. Hayya ‘alash shalah, Khalid Abu

Shalih, hal 12-13, Darul Wathan.

Bahaya Meninggalkan Shalat

Thursday, July 20th, 2006

1. Meninggalkan Shalat Merupakan Kekufuran
Allah subhanahu wata’ala
berfirman mengenai orang-orang Musyrikin, artinya,
"Jika mereka
bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka
(mereka itu) adalah
saudara-saudaramu seagama." (at-Taubah:11)
Yakni, jika mereka
bertaubat dari kesyirikan dan kekufuran mereka,
mendirikan shalat dengan
meyakini kewajibannya, melaksanakan rukun-rukunnya
dan membayar zakat yang
diwajibkan, maka mereka adalah saudara di dalam
agama Islam. Jadi, yang
dapat difahami dari ayat ini, bahwa siapa saja yang
ngotot melakukan
kesyirikan, meninggalkan shalat atau menolak membayar
zakat, maka ia bukan
saudara kita dalam agama Islam.
Dalam sebuah hadits dari Jabir bin
Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
"(Pembeda)antara seseorang dan kekufuran adalah
meninggalkan shalat."
(HR.Muslim)
Imam Ahmad rahimahullah
berkata, "Aku khawatir tidak halal bagi laki-laki
(suami) diam bersama
isteri yang tidak melakukan shalat, tidak mandi
jinabah dan tidak
mempelajari al-Qur’an."
Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama
seputar jenis kekufuran orang
yang meninggalkan shalat karena
bermalas-malasan meskipun menyakini
kewajibannya, maka yang pasti perbuatan
itu amat dimurkai.

2. Meninggalkan Shalat Merupakan Kemunafikan.

Mengenai hal ini, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan
membalas
tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri
dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan
manusia dan
tidaklah mereka menyebut Allah melainkan sedikit sekali."
(an-Nisa`:142)
Yakni, mereka, di samping melakukan shalat karena
riya`, juga
bermalas-malasan dan merasa amat berat melakukannya, tidak
mengharap pahala
dan tidak meyakini bahwa meninggalkannya mendapat siksa.

Ibnu Mas’ud radhiyallahui ‘anhu berkata mengenai shalat berjama’ah,
"Aku
betul-betul melihat, tidak seorang pun di antara kami yang tidak

melakukannya (shalat berjama’ah) selain orang yang munafik tulen. Bahkan

ada seorang yang sampai bergelayut di antara dua orang disam-pingnya agar

dapat berdiri di dalam shaf (karena ia masih sakit)." (HR. Muslim)

3. Meninggalkan Shalat Menjadi Sebab Mendapatkan Su’ul Khatimah

Imam Abu Muhammad ‘Abdul Haq rahimahullah berkata, "Ketahuilah,
bahwa Su’ul
Khatimah -semoga Allah melindungi kita darinya- tidak akan
terjadi terhadap
orang yang kondisi lahiriahnya lurus (istiqamah) dan
batinnya baik.
Alhamdulillah, hal seperti ini tidak pernah didengar dan
tidak ada yang
mengetahui pernah terjadi. Tetapi ia terjadi terhadap orang
yang akalnya
rusak dan ngotot melakukan dosa besar. Bisa jadi, kondisi
seperti itu
menguasainya lalu kematian menjem-putnya sebelum sempat
bertaubat, maka
syaithan pun memperdayainya ketika itu, nau’udzu billah.
Atau dapat terjadi
juga terhadap orang yang semula kondisinya istiqamah,
namun kemudian
berubah dan keluar dari kebiasaannya lalu terus berjalan ke
arah itu
sehingga menjadi sebab Su’ul Khatimah baginya." (At-Tadzkirah: 53)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesung-guhnya
ukuran
semua amalan itu tergantung kepada kesudahannya." (HR. Bukhari).
Sementara orang yang melakukan shalat tetapi buruk dalam
mengerjakannya,
dia terancam mendapat Su’ul Khatimah, maka terlebih lagi
dengan orang yang sama sekali tidak ‘menyapa’ shalat?
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang yang shalat tetapi tidak
sempurna dalam ruku’nya, ia seperti orang yang mematok-matok di dalam sujud
shalatnya, maka beliau bersabda mengenainya, "Andai ia mati dalam kondisi
seperti ini, maka ia mati bukan di atas agama Muhammad." (Hadits Hasan)

4. Meninggalkan Shalat Menjadi Slogan Penghuni Neraka Saqar

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
"Tahukah
kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan
tidak
membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya
ada
sembilan belas (malaikat penjaga)." (Al-Muddatstsir: 27-30)
Dan
firman-Nya, artinya:
"Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang
telah diperbuatnya. Kecuali
golongan kanan. Berada di dalam surga, mereka
tanya menanya. Tentang
(keadaan) orang-orang yang berdosa. ‘Apakah yang
memasukkan kamu ke dalam
(neraka) Saqar? Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak
termasuk orang-orang
yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi
makan orang miskin.
Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama
orang-orang yang
membicarakannya." (Al-Muddatstsir: 38-45)

Jadi, orang-orang yang meninggalkan shalat tempatnya di neraka
Saqar.

5. Meninggalkan Shalat Merupakan Sebab Seorang Hamba
Dipecundangi Syaithan
Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu,
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Tidaklah
tiga orang yang berada di suatu perkampungan ataupun di
pedalaman, lalu
tidak mendirikan shalat di antara sesama mereka melainkan
syaithan akan
mempecundangi mereka. Karena itu, hendaklah kalian bersama
jama’ah sebab
srigala hanya memakan kambing yang sendirian." (Hadits Hasan)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tersebut
menjelaskan
bahwa, "Syaithan adalah srigala atas manusia yang merupakan
musuh
bebuyutannya. Maka sebagaimana burung yang semakin berada di
ketinggian,
semakin jauh dari petaka, sebaliknya, semakin berada di tempat
rendah,
petaka akan mengintainya, demikian pula halnya dengan kambing yang
semakin
dekat dengan penggembalanya, semakin terjaga keselamatannya, semakin
ia
menjauh, semakin terancam bahaya."

(Sumber: As-Shalah
Limadza? Muhammad bin Ahmad al-Miqdam)
Demikian di antara bahaya
meninggalkan shalat, dan tentunya masih banyak
lagi bahaya-bahaya yang lain.
Semoga dapat memotivasi kita di dalam
meningkatkan kualitas shalat kita dan
menjadi pengingat tentang besarnya
urusan shalat sehingga tidak
meninggalkannya. (Abu Hafshah)

30 Budi Pekerti Amal Baik dan Amal Buruk

Wednesday, July 19th, 2006

Imam Ali bin Abi Tholib

1. Kebaikan bukanlah dengan bertambah banyaknya harta dan anakmu.
Akan tetapi kebaikan adalah dengan bertambah banyaknya ilmumu, bertambah besarnya belaskasihmu, dan engkau menyayangi orang lain dengan mengajak lbadahmu kepada Tuhanmu. Maka jika engkau bisa berbuat baik, engkau harus memuji Allah ‘Azza wajalla; dan jika engkau berbuat buruk, beristighfarlah kepada Allah.

2. Tidak ada kebaikan di dunia kecuali bagi dua golongan manusia,
yaitu: (pertama), seseorang yang berbuat dosa, lalu dia cepat-cepat bertobat. Kedua, seseorang yang bersegera dalam amal kebajikan.
Tidaklah dipandang sedikit perbuatan yang dilakukan dengan ketakwaan, maka bagaimana dapat dikatakan sedikit suatu perbuatan yang diterima (Allah)?

3. Kesempatan terus berjalan seperti jalannya awan. Oleh karena itu, cepat cepatlah kalian ambil segala kesempatan yang baik.

4. Kedermawanan yang sebenarnya adalah berniat melakukan kebaikan kepada setiap orang. Lalu berniat baik bagi setiap orang.

5. Di antara amal kebajikan yang paling utama adalah: berderma di saat kesusahan, bertindak jujur ketika sedang marah, dan memberi maaf ketika mampu untuk menghukum

6. Kebaikan yang tidak ada keburukan di dalamnya adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan, dan bersabar ketika mendapatkan musibah.

7. Berbuatlah kebaikan dan janganlah kalian meremehkannya sedikit pun. Sebab, kecilnya kebaikan adalah besar dan sedikitnya kebaikan adalah banyak. Dan janganlah sekali kali salah seorang dari kalian mengatakan, "Sesungguhnya orang lain lebih utama dalam hal melakukan kebaikan ini daripada saya." Maka, demi Allah, perkataannya akan menjadi kenyataan. Sesungguhnya bagi kebaikan dan keburukan ada pemiliknya (pelakunya). Maka, sepanjang kalian meninggalkan di antara keduanya, orang lain (ahlinya) mengambilnya.

8. Jika seorang meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali
tiga: sedekah jariah; ilmu yang dia ajarkan kepada manusia lalu mereka mendapatkan manfaat dengannya; dan anak yang saleh yang mendoakannya.

9. Terimalah orang yang gagal, karena sesuatu yang gagal dari mereka pasti Tangan Allah ada di atas Tangan mereka yang mengangkat kegagalan mereka.

10. Janganlah engkau meninggalkan kebaikan, karena zaman selalu berputar. Banyak sekali orang yang pagi harinya mengharapkan kebaikan (pemberian) orang lain berubah menjadi orang yang diharapkan kebaikannya oleh orang lain, dan orang yang kemarinnya mcngikuti orang lain berubah menjadi orang yang diikuti.

11. Permulaan kebaikan dipandang ringan, tetapi akhirnya dipandang berat. Hampir hampir saja pada permulaannya dianggap sekadar menuruti khayalan, bukan pikiran; tetapi pada akhirnya dianggap sebagai buah pikiran, bukan khayalan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa memelihara pekejaan lebih berat daripada memulainya.

12. Dengan kebaikan, orang yang merdeka bisa berbuat.

13. Pasti ada teman di dalam kuburmu. Oleh karena itu,jadikanlah temanmu itu seorang yang berwajah ceria yang wangi baunya. Teman adalah amal saleh.

14. Memulai pekerjaan adalah sunnah, sedangkan memeliharanya adalah wajib.

15. Tidak ada perdagangan yang seperti amal saleh, dan tidak ada keuntungan yang seperti pahala.

16. Jika engkau merasa lelah dalam kebajikan, maka sesungguhnya kelelahan itu akan hilang, sementara kebajikan akan kekal.

17. Belanjakanlah hartamu dalam hal yang benar, dan janganlah engkau menjadi penyimpan harta untuk selain dirimu (orang lain) karena menumpuk harta.

18. Benar benar mengherankan, orang yang dikatakan punya kebaikan, padahal kebaikan tidak ada pada dirinya, bagaimana dia merasa gembira? Dan juga benar benar mengherankan, orang yang dikatakan punya keburukan, bagaimana dia marah?

19. Tidak ada yang mengetahui keutamaan orang yang memiliki keutamaan kecuali orang orang yang memiliki keutamaan.

20. Sesungguhnya Allah memiliki hamba hamba yang dikhususkanNya dengan berbagai kenikmatan untuk kemanfaatan hamba hamba Nya yang lain. Allah mengukuhkan kenikmatan (harta) itu di tangan mereka selama mereka mendermakannya. Maka jika mereka tidak mendermakannya, pasti Allah akan mencabutnya dari mereka, kemudian Dia mengalihkannya kepada orang orang lain.

21. Kebajikan adalah apa yang menenangkan hatimu. Sedangkan dosa adalah hatimu yang dibuat gelisah karenanya dan menyesakkan dadadamu.

22. Jika bentuk keburukan bergerak dan tidak tampak wujudnya, maka ia akan menyebabkan ketakutan; dan jika tampak wujudnya, maka ia akan menyebabkan kesakitan. Sebaliknya, jika bentuk kebaikan bergerak dan tidak tampak wujudnya, maka ia akan menyebabkan kegembiraan; dan jika tampak wujudnya, maka ia akan menyebabkan kenikmatan.

23. Lemparkan kembali batu itu dari arah mana ia datang, karena sesungguhnya kejahatan tidak didorong kecuali oleh kejahatan.

24. Akhiri keburukan karena sesungguhnya jika engkau menghendaki, niscaya engkau akan terburu buru mengambilnya.

25. Pelaku kebaikan lebih baik daripada kebaikan itu sendiri, dan pelaku kejahatan lebih jahat daripada kejahatan itu sendiri.

26. Bersahabatlah dengan orang orang yang baik, niscaya engkau akan termasuk di antara mereka; dan tinggalkanlah orang orang jahat, niscaya engkau terpisah dari mereka.

27. Janganlah engkau bersahabat dengan orang jahat karena sesungguhnya watakmu mencuri dari sebagian wataknya, sementara engkau tidak tahu.

28. Orang~orang jahat mengincar keburukan manusia dan meninggalkan kebaikan mereka, sebagaimana lalat mengincar tempat tempat yang kotor.

29. Sesuatu yang manfaatnya bersifat umum adalah kematian bagi orang orang iahat.

30. Janganlah kalian bersahabat dengan orang orang jahat karena sesungguhnya mereka mengungkit ungkit kebaikan mereka terhadap kalian.

—(ooo)—

Khusyu dan Tawadhu’

Wednesday, July 19th, 2006

Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman Allah:
"Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, mereka yang khusyu’ dalam shalatnya".(Q.s. Al Mu’minun: 1 2)

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw.
bersabda:
"Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sekecil biji sawi." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka berpakaian bagus;"’ Beliau menjawab, "Allah swt. Maha Indah dan menyukai keindahan, sombong adalah berpaling dari AI Haq dan mencemooh manusia." (H.r. Muslim).

Anas bin Malik mengabarkan, "Rasulullah saw. suka mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, mengendarai keledai dan memenuhi undangan budak-budak. Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bani Nadhir, Rasul mengendarai seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk korma dan di atasnya diberi pelana ijuk pula. "
Khusyu’ adalah berkait kepada Allah swt, dan tawadhu’ adalah menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima hukum.

Hudzaifah berkata, "Khusyu’ adalah hal yang pertama tama hilang dari agamamu." Ketika salah scorang Sufi ditanya tentang khusyu’, ia menjawab, "Khusyu’ adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt."
Sahl bin Abdullah menegaskan, "Setan tidak akan mendekati orang yang hatinya khusyu’." Dikatakan, "Di antara tanda tanda kekhusyu’an hati seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau ditolak, maka ia semua itu diterimanya."
Salah seorang Sufi berkomentar, "Kekhusyu’an hati adalah menahan mata dari melirik ke sana ke mari."

Muhammad bin Ali at Tirmidzy menjelaskan, "Khusyu’ adalah begini:
jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya reda dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa nafsunya mati, sementara cahaya keagungan menyinari hatinya, sehingga syahwatnya mati, dan hatinya hidup khusyu’lah semua anggota badannya."
Al Hasan al Bashry berkata, "Khusyu’ adalah rasa takut yang terus menerus dalam hati."
Ketika al junayd ditanya tentang khusyu’, ia menjawab, "Khusyu’
adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu kegaiban."
Allah swt. berfirman:
"Hamba hamba Ar Rahman yaitu orang orang yang berjalan di muka bumi dengan sikap rendah hati." (Q.s. Al Furqan: 63).
Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, bahwa makna ayat ini adalah hamba hamba Allah itu berjalan di muka bumi dengan penuh khusyu’ dan tawadhu’.

Saya juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah orang orang yang tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika berjalan.
Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu’ adalah di dalam hati. Ketika salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan mata yang memandang ke bawah dan bahu yang rendah, ia berkata kepadanya, "Wahai sahabat, khusyu’ itu di sini," sambil menunjuk ke dadanya, bukan di sini," sambil menunjuk bahunya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda:
"Jika hatinya khusyu’, niscaya anggota badannya juga akan khusyu’."
(H.r. Tirmidzi).
Dikatakan, "Khusyu’ dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.
Syeikh ad-Daqqaq berkata, "Khusyu’ mirip dengan perkataan, bahwa hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah swt." Dikatakan, "Khusyu’ adalah perasaan papa dan hina yang meresap ke dalam hati manakala menyaksikan Allah swt."

Dikatakan pula, "Khusyu’ adalah kegentaran hati di kala hati dikuasai hakikat."
Khusyu’ adalah mukadimah bagi luapan anugerah.
Dikatakan, "Khusyu’ adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika Kebenaran terungkapkan secara tiba-tiba."
Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan, bahwa dirinya tidak senang melihat seseorang terlihat lebih khusyu’ daripada batinnya.
Abu Sulaiman ad-Darany berkata, "Seandainyanya semua manusia bersatu padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu mencapai kedalaman dimana aku menghinakan diriku seridiri.

Dikatakan, "Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tidak akan menghormatinya pula."
Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah.
Mujahid berkata, "Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi Nuh, gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit Judy merendahkan dirinya. Karena itu, Allah swt. menjadikannya sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as."
Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih cepat kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.
Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz r.a. sedang menulis, lalu datanglah seorang tamu. Melihat lampu hampir padam, si tamu menawarkan diri, "Biarlah saya yang membesarkan nyalanya." Tapi Umar menjawab, "Jangan, tidaklah ramah menjadikan tamu sebagai pelayan!"
Maka si tamu lalu berkata, "Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan." Umar menolak, "Jangan, ia baru saja pergi tidur!" Lalu beliau sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dan mengisi lampu itu. Si tamu. berseru, "Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahal Amirul Mukminin?" Umar berkata kepadanya, "Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke sini masih sebagal Umar pula."

Abu Sa’id al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu memberi makan unta unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal, menambal baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan membantunya menggiling gandum jika pelayan lelah. Beliau tidak pernah merasa malu membawa barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk keluarganya. Beliau biasa berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan lebih dahulu memberi salam jika bertemu.

Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa pun yang dihidangkan kepada beliau, sekalipun hanya berupa kurma kering. Beliau sangat sederhana dalam hal makanan, lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam sikap, baik dalam berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa tertawa, sedih tapi tidak cemberut; rendah hati tapi tidak lembek, murah hati tapi tidak boros. Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih sayang kepada setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda tanda telah makan kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus.

Fudhail bin ‘lyadh berkata, "Para ulama dari Yang Maha Pengasih memiliki sikap khusyu’ dan tawadhu’, sedangkan para ulama penguasa memiliki sikap takjub dan sombong." Ia juga berkomentar, "Barangsiapa menganggap dirinya masih berharga, berarti tidak memiliki sifat tawadhu’ sama sekali."

Ketika Fudhail ditanya tentang tawadhu’, ia mengajarkan, "Pasrahlah kepada kebenaran, patuhi dan terimalah ia dari siapa pun yang mengatakannya."
Ketika al junayd ditanya tentang tawadhu’, ia menjawab, "Tawadhu’
adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka."

Wahb berkata, "Telah tertulis dalam salah satu kitab suci, ‘Sesungguhnya Aku (Allah) mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan Aku tidak menemukan hati yang lebih tawadhu’ daripada hati Musa as. Maka Kupilih ia dan Aku berbicara langsung dengannya’."

Ibnul Mubarak mengatakan, "Kesombongan terhadap orang kaya dan rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu’."
Abu Yazid ditanya, "Bisakah seseorang mencapai sifat tawadhu’?.
Dijawabnya, "jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat manusia di dunia ini yang lebih buruk dari dirinya."
Dikatakan, "Tawadhu’ adalah anugerah Allah yang tidak pernah iri dengki orang, dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belas kasihan. Kemuliaan terletak pada sikap tawadhu’, dan orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya."

Ibrahim bin Syaiban menegaskan, "Kehormatan terletak di dalam sikap tawadhu’, kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam qana’ah."
Abu Sa’id al Araby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang Sufyan ats-Tsaury yang berkata, ‘Ada lima macam manusia termulia di dunia:
Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang kaya yang rendah hati, scorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti Sunnah."

Yahya bin Mu’adz menegaskan, "Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikkan bagi setiap orang, tetapi ia paling menjijikkan jika terdapat pada orang yang miskin."
Ibnu Atha’ berkomentar: "Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dari siapa pun datangnya."

Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendarai kuda, Ibnu Abbas datang mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya. Maka Zaid lalu mencegahnya, "Jangan, wahai anak paman Rasulullah!" Ibnu Abbas berkata, "Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap para ulama kami." Maka Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya, sambil berkata, "Ini adalah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw."

Urwah bin az-Zubair menuturkan, "Ketika aku melihat Ummar bin Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi Anda." Beliau menjawab, "Ketika para delegasi datang kepadaku, mendengarkan dan menaatiku, suatu perasaan sombong merasuk ke dalam hatiku, dan kini aku ingin menghancurkannya." Beliau terus memikul air itu dan membawanya ke rumah seorang wanita Anshar dan mengisikannya ke dalam gentong milik wanita itu.

Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy mengabarkan, "Ketika Abu Hurairah r.a. menjabat amir di Madinah, ia pernah terlihat sedang memikul seikat kayu di atas punggungnya, dan berteriak teriak, ‘Beri jalan untuk amir’!"
Abdullah ar-Razy menjelaskan, "Tawadhu’ adalah tidak membedabedakan dalam memberikan pelayanan."

Abu Sulaiman ad-Darany berkata, "Barangsiapa yang masih memberikan nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya ibadat."
Yahya bin Mu’adz mengatakan, "Keangkuhan terhadap orang yang bersikap sombong terhadapmu dikarenakan kekayaannya, adalah sikap tawadhu’."

Seorang laki-laki datang kepada asy-Syibly dan bertanyalah kepadanya, "Siapakah engkau?" ia menjawab, "Wahai tuanku, sebuah titik di bawah ba." Lalu laki laki itu berkata, "Engkau adalah saksiku, sepanjang engkau menganggap rendah kedudukan dirimu sendiri."
Ibnu Abbas r.a. mengatakan, "Salah satu bagian tawadhu’ adalah bahwa orang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh saudaranya."
Bisyr mengajarkan, "Berilah salam kepada para pecinta dunia dengan cara tidak memberi salam kepada mereka."

Syu’alb bin Harb menuturkan, "Ketika aku sedang melakukan thawaf di Ka’bah, seorang buruh laki laki menyikutku, dan aku menoleh kepadanya. Ternyata orang itu adalah Fudhail bin ‘Iyadh, yang berkata, "WahaiAbu Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang melakukan ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku, maka betapa buruknya pikiranmu itu’."

Salah seorang Sufi mengatakan, ‘Aku melihat seorang laki laki ketika sedang melakukan thawaf di Ka’bah. Ia sedang dikelilingi oleh orang orang yang menyanjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga menghalangi orang lain dari melakukan thawaf, selang beberapa waktu setelah itu aku melihat ia meminta minta kepada orang orang yang lewat di sebuah jembatan di Baghdad. Aku terkejut dan heran, ia lalu berkata kepadaku, Aku dulu membanggakan diri di tempat di mana manusia mestinya merendahkan diri, maka Allah swt. lalu menimpakan kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia berbangga diri."

Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah seorang putranya telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu dirham. Beliau lalu menulis surat kepadanya, ‘Aku telah mendengar bahwa engkau telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham, jika surat ini telah sampai ke tanganmu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu orang miskin, selanjutnya buatlah cincin seharga dua dirham, dengan batu dari besi Cina, dan tulislah padanya, ‘Allah mengasihi orang yang mengetahui harga dirinya yang sebenarnya’."

Dikatakan bahwa Jabir bin Hayawah berkomentar, "Ketika Umar bin Abdul Aziz sedang berkhutbah, ku taksir-taksir pakaian yang dikenakannya berharga sekitar duabelas dirham saja, yang terdiri dari jubah luar, surban, celana, sepasang sandal, dan selendang."
Dikatakan bahwa ketika Abdullah bin Muhammad bin Wasi’ berjalan dengan lagak tak terpuji, ayahnya berkata kepadanya, "Tahukah kamu dengan harga berapa aku dulu membeli ibumu? Cuma tigaratus dirham.
Dan ayahmu ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah manusia yang sepertinya di kalangan kaum Muslimin. Lantas, dengan orangtua yang semacam ini, engkau berjalan dengan lagak begitu?"
Hamdun al-Qashshar berkata, "Tawadhu’ adalah engkau tidak memandang dirimu dibutuhkan oleh siapa pun, baik di dunia ini maupun di dalam hal agama."

Dikatakan bahwa Abu Dzar dan Bilal -semoga Allah meridhai mereka
berdua- sedang bertengkar. Abu Dzar menghina Bilal karena kulitnya yang hitam. Bilal mengadu kepada Rasulullah saw, yang lalu bersabda, "Wahai ‘Abu Dzar, sungguh masih ada sifat jahiliyah dalam hatimu!" Mendengar itu, Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjakkan kakinya pada pipinya. Ia tidak bangunbangun sampai Bilal melakukan hal itu.

Ketika al Hasan bin Ali r.a. berjalan melewati sekelompok anak-anak yang sedang makan roti, mereka mengajaknya pula makan. Beliau pun turun dari atas kendaraan dan makan bersama mereka. Kemudian beliau membawa mereka ke rumah beliau, mengajak mereka makan, memberi mereka pakaian, dan berkata, ‘Aku berhutang budi kepada mereka sebab mereka tidak memperoleh lebih dari apa yang mereka tawarkan kepadaku, sedangkan aku memperoleh keuntungan lebih dari itu."

—(ooo)—

celoteh anak Lab…

Thursday, July 13th, 2006

Bagai disambar petir…itu ironi yg terjadi siang kemaren. Btw temen2 masih ngerti kan pelajaran bahasa indonesia yg menjelaskan majas ironi…tau ah gelap…Qt kan bukan mau membahas itu. Jadi begini, dipagi hari selepas final piala dunia…penghuni2 malam pun berangkat ke aktifitasnya masing2…ada yg berangkat KP, Coop, dan kerja. Seakan semuanya lupa bahwa tadi pagi kamar kost2an (Lab Qt) kita belum dibereskan (padahal emang sering nggak diberesin ^_^).
    Ane saat chating dengan teman yg OL dilab…menanyakan kondisi lab skrg? jawaban yg telah kuduga sebelumnya, lab kyk kapal pecah, gelas piring bertebaran dimana2, kertas berserakan dimana, kasur belum dibereskan, debu dan kotoran berceceran dimana (tapi gak gitu2 bgt deh perasaan). Entah apa yg membuat kami2 penghuni malam betah2 aja dengan kondisi gitu.
    Ya klo jawaban segitu mah udah biasa, tapi…ternyata ada lagi yg bikin heboh. dikasih kabar klo tadi orang rektorat dan mas catur maen ke lab dan….mereka mo foto2 lab….tapi ternyata dibatalkan karena labnya kelewat kotor…hati ini bagai diiris sembilu (gimana ya rasanya?tau ah gelap)….
    Ya udah deh…tanpa banyak rapat2 atopun shuro2 yg lama dan lemot…kita2 penghuni malam mulai membersihkan kamar kost2an kami tercinta…Akhirnya setelah pukul 10 mlm…beres juga tuh lab…oks kita2 bisa tidur dgn nyenyak deh…Dan besok, biar acara foto2 labnya sukses…hiks2 walaupun kita penghuni malam gak bakal difoto .. lha pulangnya sore trus…maklum org sibuk lah!
    Udah ah kerja lagi…sambil mikirin setelah sesi foto2 berakhir…apa yg akan kita lakukan utk bikin berantakan lab lagi…hehehe…becanda…^_^

Kost Sejuta Umat

Thursday, July 13th, 2006

    Itulah sebuah sebutan untuk tempat tinggal ana selama 3 tahun terakhir. Ya kost itu bernama Masjid Syamsul ‘Ulum (MSU). Selepas tinggal diasrama putra, ana coba utk tinggal disana. Walaupun sekarang sudah menginjak hampir 4 tahun, tetapi tidak ada rasa bosan ataupun gak betah disana. Bahkan rasa justru rasa kangen akan disana yg membuat jadi ingin terus dekat dengannya. Rasa kangen itu terasa saat tidak sholat berjamaah disana, apalagi saat pergi kejakarta. Masya Allah, rata-rata dijakarta masjid/musholah digedung2 perkantoran atau mall adalah ditempatkan diruangan kecil yang berada dibaseman ato dipojok2 ruangan dekat WC. Sungguh menyesakkan memang, tapi semua itu memang sebuah pilihan yang tidak bisa ditawar lagi.
    Justru kebalikan jika diMSU, disana masjid yang besar, yg bisa menampung lebih dari seribu orang tetapi saat sholat berjamaah, paling banyak 5 saff. Heran memang ya, saat sholat jum’at MSU serasa masjid ini masih kurang luas. Tetapi saat sholat berjamaah berkurang drastis, padahal bagi laki-laki, sholat Fardhu berjamaah dimasjid itu wajib hukumnya. Apalagi selepas asrama putra digusur, penyusutan jumlah jamaah rutinpun semakin berkurang. Semoga jamaah yang sering diMSU memang sholat berjamaahnya dimasjid lain dilingkungan STT.
    Disinilah juga ana diajarin cara tilawah yg bener, Alhamdulillah imam2 tetap MSU, setia mengajariku, Thanks to Akh Jery dan Akh Azim. Mereka berdua jg yg mengajari banyak hal tentang Islam. Serta banyaknya kajian membuat hati ini selalu terupgrade, ya sekalian promosi, kajian DKM itu cukup banyak lho, ada 3 kajian. Kajian Siroh Sahabat hari rabu sore, Kajian Tafsir hari kamis sore dan kajian Fiqih hari sabtu sore…tapi hasil evaluasi selama 1 tahun terakhir ini ternyata jamaah yang mengikutinya cukup jarang. Tanya knapa?–^_^ kyk iklan aja. Tapi ana pribadi mnt saran dan mskan dr kawan2 semua tt hal ini! Please…
    Sebuah pemandangan yang menarik saat pukul 6 pagi setiap harinya, kawan2ku sudah mulai membuat kapling2 utk melaksanakan rapat tt berbagai hal. Bahkan kami penghuni MSU sudah menyematkan sebutan Mansyur (manusia shuro(rapat .red)) ke beberapa teman Qt. Selepas itu, biasanya 2 orang pegawai kebersihan mulai sibuk membersihkan sekeliling masjid, mas heri dan si ason namanya. Dan tak lupa seorang pegawai Administrasi, kang epul mulai membersihkan ruangan sekretariat dan TPA. Ya begitulah rutinitas diMSU dipagi hari.
    Ya itulah sedikit kisah dari kost2an ku itu. Masjid itu salah satu hal yang membuat bnyk ikhwah2 bertahan dibelantara kejamnya dunia ini. So marilah kita selalu mendekatkan diri kepada Masjid2 disekitar kita, klo bkn Qt yg mau menghidupkan kembali masjid2 disekitar Qt, siapa lagi. Mari bangkitlah wahai pemuda2 Islam yang memiliki Izzah yg kuat terhadap agama ini dengan selalu terpaut hatinya dgn masjid. Terakhir, mari kita mulai membiasakan sholat berjamaah dimasjid. Keuntungannya gak cuma diakhirat saja lho didunia juga. Kita bisa menambah dan mempererat ukhuwah lho!
    Segitu dulu deh celoteh ana kali ini…kerja lagi…^_^