Archive for June, 2007

Beberapa Peristiwa Sekembali Dari Thaif

Wednesday, June 27th, 2007

Sirah Nabawiyah:

Beberapa Peristiwa Sekembali Dari Thaif

"Sepulangnya  dari  Thaif,  Rasulullah  berjalan melewati Dahna (salah satu

wilayah  di  Thaif ) kemudian berhenti di Ji’ranah bersama para sahabat dan

banyak  sekali  tawanan dari kabilah Hawazin. Salah seorang sahabat berkata

kepada  Rasulullah  ketika  beliau  meninggalkan Tsaqif, ‘Wahai Rasulullah,

doa-kan  orang-orang  Tsaqif’.  Rasulullah  bersabda,  ‘Ya  Allah,  berilah

petunjuk kepada orang-orang Tsaqif dan datangkan mereka’.

Kemudian  Rasulullah  dikunjungi  oleh  delegasi  dari  kabilah  Hawazin di

Ji’ranah.  Ketika  itu, Rasulullah membawa tawanan kabilah Hawazin sebanyak

enam ribu orang dari anak-anak dan para wanita, serta unta dan kambing yang

tidak terhitung jumlahnya".

Delegasi  kabilah  Hawazin  datang kepada Rasulullah dan telah masuk Islam.

Mereka  berkata,  "Wahai  Rasulullah,  kami adalah asal-usul keturunan dari

keluarga  besar. Kami telah mendapatkan petaka seperti engkau ketahui. Oleh

karena itu, berilah kami karunia semoga Allah memberi karunia kepadamu."

Salah  seorang  delegasi  kabilah  Hawazin  dari  Bani  Sa’ad bin Bakr yang

bernama  Zuhair  dan  bisa  dipanggil  Abu Shurad berdiri kemudian berkata,

"Wahai  Rasulullah, di tempat penampungan para tawanan terdapat bibi-bibimu

dari  jalur  ayah,  bibi-bibimu  dari jalur ibu, dan wanita-wanita penyusui

yang  dulu  mengasuhmu.*  Jika  kami menyusui untuk Al-Harits bin Abu Syamr

atau  An-Nu’man  bin  Al-Mundzir, kemudian kami mendapatkan musibah seperti

yang  engkau  timpakan kepada kami, maka kami mengharapkan belas kasihannya

dan  karunianya  kepada  kami.  Dan  engkau  adalah anak asuhan yang paling

\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Kemudian Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah Hawazin, 'Manakah\n\u003cbr\>\nyang lebih kalian cintai; anak-anak dan wanita-wanita kalian; ataukah harta\n\u003cbr\>\nkalian?' Delegasi kabilah Hawazin berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau\n\u003cbr\>\nmenyuruh kami memilih antara anak keturunan kami dengan harta kami?\n\u003cbr\>\nKembalikan wanita-wanita dan anak-anak kami, karena mereka lebih kami\n\u003cbr\>\ncintai daripada yang lain'. Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah\n\u003cbr\>\nHawaziin, 'Jatahku dan jatah Bani Abdul Muththalib menjadi milik kalian.\n\u003cbr\>\nSelepas aku mengerjakan shalat Zhuhur bersama kaum muslimin, berdirilah\n\u003cbr\>\nkalian kemudian katakan bahwa kami meminta dispensasi kepada Rasulullah\n\u003cbr\>\natas hak-hak kaum muslimin dan meminta dispensasi kepada kaum muslimin atas\n\u003cbr\>\nhak-hak Rasulullah, niscaya saat itu permintaan kalian akan aku berikan\n\u003cbr\>\nkepada kalian dan aku akan meminta untuk kalian'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSetelah Rasulullah mengerjakan shalat Zhuhur bersama kaum mus-limin,\n\u003cbr\>\ndelegasi kabilah Hawazin berdiri dan berkata seperti diperintahkan\n\u003cbr\>\nRasulullah. Kaum Muhajirin berkata, 'Jatah kami menjadi milik Rasu-lullah'.\n\u003cbr\>\nKaum Anshar berkata, 'Jatah kami menjadi milik Rasulullah'. Al-Aqra' bin\n\u003cbr\>\nHabis berkata, 'Jatahku dan jatah Bani Tamim tidak menjadi milik\n\u003cbr\>\nRasulullah'. Uyainah bin Hishn berkata, 'Jatahku dan jatah Bani Fazarah\n\u003cbr\>\ntidak menjadi milik Rasulullah'. Abbas bin Mirdas berkata, 'Jatahku dan\n\u003cbr\>\njatah Bani Sulaim tidak menjadi milik Rasulullah'. Bani Sulaim berkata,\n\u003cbr\>\n'Tidak begitu, jatah kami menjadi milik Rasulullah'. Abbas bin Mirdas\n\u003cbr\>\nberkata kepada Bani Sulaim, 'Kalian telah melemah-kanku'. Rasulullah\n\u003cbr\>\nbersabda, 'Jika salah seorang dari kalian tetap mem-pertahankan haknya atas\n\u003cbr\>\ntawanan ini, ia berhak mendapatkan enam bagian sebagai tebusan dari setiap\n”,1]
);

//–>
baik".

"Kemudian  Rasulullah  bersabda  kepada  delegasi kabilah Hawazin, ‘Manakah

yang lebih kalian cintai; anak-anak dan wanita-wanita kalian; ataukah harta

kalian?’  Delegasi  kabilah  Hawazin  berkata,  ‘Wahai  Rasulullah,  engkau

menyuruh  kami  memilih  antara  anak  keturunan  kami  dengan  harta kami?

Kembalikan  wanita-wanita  dan  anak-anak  kami,  karena  mereka lebih kami

cintai  daripada  yang  lain’.  Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah

Hawaziin,  ‘Jatahku  dan  jatah Bani Abdul Muththalib menjadi milik kalian.

Selepas  aku  mengerjakan  shalat  Zhuhur bersama kaum muslimin, berdirilah

kalian  kemudian  katakan  bahwa  kami meminta dispensasi kepada Rasulullah

atas hak-hak kaum muslimin dan meminta dispensasi kepada kaum muslimin atas

hak-hak  Rasulullah,  niscaya  saat  itu permintaan kalian akan aku berikan

kepada kalian dan aku akan meminta untuk kalian’.

Setelah  Rasulullah  mengerjakan  shalat  Zhuhur  bersama  kaum  mus-limin,

delegasi   kabilah   Hawazin  berdiri  dan  berkata  seperti  diperintahkan

Rasulullah. Kaum Muhajirin berkata, ‘Jatah kami menjadi milik Rasu-lullah’.

Kaum  Anshar  berkata,  ‘Jatah kami menjadi milik Rasulullah’. Al-Aqra’ bin

Habis   berkata,   ’Jatahku  dan  jatah  Bani  Tamim  tidak  menjadi  milik

Rasulullah’.  Uyainah  bin  Hishn  berkata, ‘Jatahku dan jatah Bani Fazarah

tidak  menjadi  milik  Rasulullah’.  Abbas bin Mirdas berkata, ‘Jatahku dan

jatah  Bani  Sulaim  tidak  menjadi milik Rasulullah’. Bani Sulaim berkata,

‘Tidak  begitu,  jatah  kami  menjadi  milik  Rasulullah’. Abbas bin Mirdas

berkata  kepada  Bani  Sulaim,  ‘Kalian  telah  melemah-kanku’.  Rasulullah

bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian tetap mem-pertahankan haknya atas

tawanan  ini, ia berhak mendapatkan enam bagian sebagai tebusan dari setiap
\ntawanan mulai dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan'. Maka dari itu\n\u003cbr\>\nkembalikan kepada para delegasi anak-anak dari istri-istri mereka."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah Hawazin dan bertanya kepada\n\u003cbr\>\nmereka tentang Malik bin Auf An-Nashri, 'Apa yang sedang ia kerjakan?'\n\u003cbr\>\nDelegasi kabilah Hawazin menjawab, 'Malik bin Auf An-Nashri sedang berada\n\u003cbr\>\ndi Thaif'. Rasulullah bersabda, 'Katakan kepada Malik bahwa jika ia datang\n\u003cbr\>\nkepadaku dalam keadaan Islam, aku akan mengembalikan keluarga dan hartanya\n\u003cbr\>\nseratus unta'. Informasi tersebut disampaikan kepada Malik bin Auf,\n\u003cbr\>\nkemudian ia keluar dari Thaif ber-maksud menemui Rasulullah. Malik bin Auf\n\u003cbr\>\nAn-Nashri khawatir kalau orang-orang Tsaqif mengetahui bahwa Rasulullah\n\u003cbr\>\nbersabda seperti itu untuknya, karena jika mereka mengetahuinya, mereka\n\u003cbr\>\npasti menahannya. Oleh karena itu, ia memerintahkan kudanya didatangkan ke\n\u003cbr\>\nThaif, kemu-dian ia keluar dari Thaif pada malam hari. Malik bin Auf\n\u003cbr\>\nAn-Nashri duduk di atas kudanya memacunya hingga tiba di tempat untanya\n\u003cbr\>\ndisiapkan, kemudian ia menaiki unta tersebut menyusul Rasulullah dan\n\u003cbr\>\nbertemu beliau di Al-Ji'ranah atau Makkah. Rasulullah mengembalikan\n\u003cbr\>\nkeluarga dan hartanya kepadanya, serta memberinya seratus unta. Ia masuk\n\u003cbr\>\nIslam dan ke-Islamannya baik.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMalik bin Auf An-Nashri berkata ketika masuk Islam,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Aku tidak pernah melihat dan mendengar manusia seperti Muhammad\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa menepati janji dan memberi hingga banyak sekali jika diminta\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKapan saja engkau mau, ia pasti menjelaskan kepadamu apa yang terjadi besok\n\u003cbr\>\npagi\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nJika satu batalion telah memperlihatkan taring-taringnya\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nDengan pedang As-Samhari dan tebasan seluruh pedang dari India\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nBeliau seperti singa terhadap anak-anak singa'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah mengangkat Malik bin Auf An-Nashri sebagai pemimpin membawahi\n”,1]
);

//–>
tawanan  mulai  dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan’. Maka dari itu

kembalikan kepada para delegasi anak-anak dari istri-istri mereka."

"Rasulullah  bersabda  kepada  delegasi kabilah Hawazin dan bertanya kepada

mereka  tentang  Malik  bin  Auf  An-Nashri, ‘Apa yang sedang ia kerjakan?’

Delegasi  kabilah  Hawazin menjawab, ‘Malik bin Auf An-Nashri sedang berada

di  Thaif’. Rasulullah bersabda, ‘Katakan kepada Malik bahwa jika ia datang

kepadaku  dalam keadaan Islam, aku akan mengembalikan keluarga dan hartanya

seratus  unta’.  Informasi  tersebut  disampaikan  kepada  Malik  bin  Auf,

kemudian  ia keluar dari Thaif ber-maksud menemui Rasulullah. Malik bin Auf

An-Nashri  khawatir  kalau  orang-orang  Tsaqif mengetahui bahwa Rasulullah

bersabda  seperti  itu  untuknya,  karena jika mereka mengetahuinya, mereka

pasti  menahannya. Oleh karena itu, ia memerintahkan kudanya didatangkan ke

Thaif,  kemu-dian  ia  keluar  dari  Thaif  pada  malam hari. Malik bin Auf

An-Nashri  duduk  di  atas  kudanya memacunya hingga tiba di tempat untanya

disiapkan,  kemudian  ia  menaiki  unta  tersebut  menyusul  Rasulullah dan

bertemu   beliau  di  Al-Ji’ranah  atau  Makkah.  Rasulullah  mengembalikan

keluarga  dan  hartanya  kepadanya, serta memberinya seratus unta. Ia masuk

Islam dan ke-Islamannya baik.

Malik bin Auf An-Nashri berkata ketika masuk Islam,

‘Aku tidak pernah melihat dan mendengar manusia seperti Muhammad

Ia menepati janji dan memberi hingga banyak sekali jika diminta

Kapan saja engkau mau, ia pasti menjelaskan kepadamu apa yang terjadi besok

pagi

Jika satu batalion telah memperlihatkan taring-taringnya

Dengan pedang As-Samhari dan tebasan seluruh pedang dari India

Beliau seperti singa terhadap anak-anak singa’.

Rasulullah  mengangkat  Malik  bin Auf An-Nashri sebagai pemimpin membawahi
\norang-orang dari kaumnya yang telah masuk Islam. Kabilah-kabilah dari\n\u003cbr\>\nkaumnya yang masuk Islam ialah Tsumalah, Salamah, dan Fahm. Bersama\n\u003cbr\>\nkabilah-kabilah tersebut, Malik bin Auf An-Nashri me-merangi orang-orang\n\u003cbr\>\nTsaqif. Setiap kali hewan ternak orang-orang Tsaqif terlihat olehnya, ia\n\u003cbr\>\nmenyerangnya, hingga pada akhirnya ia berhasil mempersempit ruang gerak\n\u003cbr\>\nmereka.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nTentang hal tersebut, Abu Mihjan bin Habib bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi\n\u003cbr\>\nberkata,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Musuh-musuh mengalir ke arah kami\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKemudian kami diserang Bani Salamah\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMalik juga datang menyerang kami dengan mereka\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa melanggar janji dan kehormatan\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa datang kepada kami di rumah-rumah kami\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nPadahal dulunya kami adalah orang-orang kuat'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSetelah mengembalikan para tawanan Perang Hunain kepada keluarganya,\n\u003cbr\>\nRasulullah naik ke atas kendaraan beliau diikuti orang-orang yang sambil\n\u003cbr\>\nberkata, 'Wahai Rasulullah, bagikan kepada kami fay'i unta dan kambing\n\u003cbr\>\nkepada kami'. Mereka membuntuti Rasulullah hingga mereka menyudutkan beliau\n\u003cbr\>\ndi salah satu pohon, akibatnya kain beliau nyangkut di pohon tersebut.\n\u003cbr\>\nRasulullah bersabda, 'Hai manusia, kembalikan kain-ku. Demi Allah,\n\u003cbr\>\nseandainya kalian berhak atas hewan ternak sebanyak pohon di Tihamah, aku\n\u003cbr\>\npasti membagi-bagikannya kepada kalian, kemu-dian kalian tidak mendapatiku\n\u003cbr\>\nsebagai orang bakhil, pengecut, dan pen-dusta'. Kemudian Rasulullah berdiri\n\u003cbr\>\ndi samping unta, mengambil bulu di punuk unta, dan mengangkatnya seraya\n\u003cbr\>\nbersabda, 'Hai Manusia, demi Allah, aku tidak berhak atas fay' kalian dan\n\u003cbr\>\ntidak pula atas harta sebesar bulu ini melainkan seperlimanya saja dan\n\u003cbr\>\nseperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nOleh karena itu, kembalikan benang dan jarum, karena sesungguhnya Ghulul\n\u003cbr\>\nadalah aib, api, dan noda di hari Kiamat'. Salah seorang dari kaum Anshar\n”,1]
);

//–>
orang-orang  dari  kaumnya  yang  telah  masuk  Islam. Kabilah-kabilah dari

kaumnya  yang  masuk  Islam  ialah  Tsumalah,  Salamah,  dan  Fahm. Bersama

kabilah-kabilah  tersebut,  Malik  bin Auf An-Nashri me-merangi orang-orang

Tsaqif.  Setiap  kali  hewan ternak orang-orang Tsaqif terlihat olehnya, ia

menyerangnya,  hingga  pada  akhirnya  ia berhasil mempersempit ruang gerak

mereka.

Tentang  hal  tersebut,  Abu Mihjan bin Habib bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi

berkata,

‘Musuh-musuh mengalir ke arah kami

Kemudian kami diserang Bani Salamah

Malik juga datang menyerang kami dengan mereka

Ia melanggar janji dan kehormatan

Ia datang kepada kami di rumah-rumah kami

Padahal dulunya kami adalah orang-orang kuat’.

Setelah  mengembalikan  para  tawanan  Perang  Hunain  kepada  keluarganya,

Rasulullah  naik  ke  atas kendaraan beliau diikuti orang-orang yang sambil

berkata,  ‘Wahai  Rasulullah,  bagikan  kepada  kami fay’i unta dan kambing

kepada kami’. Mereka membuntuti Rasulullah hingga mereka menyudutkan beliau

di  salah  satu  pohon,  akibatnya  kain beliau nyangkut di pohon tersebut.

Rasulullah   bersabda,   ’Hai  manusia,  kembalikan  kain-ku.  Demi  Allah,

seandainya  kalian  berhak atas hewan ternak sebanyak pohon di Tihamah, aku

pasti  membagi-bagikannya kepada kalian, kemu-dian kalian tidak mendapatiku

sebagai orang bakhil, pengecut, dan pen-dusta’. Kemudian Rasulullah berdiri

di  samping  unta,  mengambil  bulu di punuk unta, dan mengangkatnya seraya

bersabda,  ‘Hai  Manusia, demi Allah, aku tidak berhak atas fay’ kalian dan

tidak  pula  atas  harta  sebesar  bulu ini melainkan seperlimanya saja dan

seperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian.

Oleh  karena  itu,  kembalikan benang dan jarum, karena sesungguhnya Ghulul

adalah  aib,  api, dan noda di hari Kiamat’. Salah seorang dari kaum Anshar
\ndatang dengan membawa gulungan benang dari rambut dan berkata, 'Wahai\n\u003cbr\>\nRasulullah, aku mengambil gulungan benang dari rambut ini dan\n\u003cbr\>\nmenggunakannya sebagai alas pelana untaku yang usang'. Rasulullah bersabda,\n\u003cbr\>\n'Ini bagianku dari rampasan perang dan sekarang aku berikan kepadamu'.\n\u003cbr\>\nOrang dari kaum Anshar tersebut berkata, 'Jika cuma ini, aku tidak\n\u003cbr\>\nmembutuhkannya. Orang tersebut pun membuang gulungan benang dari rambut\n\u003cbr\>\ntersebut dari tangannya".\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah memberi jatah kepada para muallaf, yaitu para tokoh kaum.\n\u003cbr\>\nDengan pemberian tersebut, Rasulullah ingin menaklukkan hati mereka dan\n\u003cbr\>\nmenaklukkan hati kaum mereka. Rasulullah memberi Abu Sofyan bin Harb\n\u003cbr\>\nseratus unta, Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim\n\u003cbr\>\nbin Hizam sebanyak seratus unta, Al-Harits bin Al-Harits bin Kaldah saudara\n\u003cbr\>\nBani Abdduddaar (Ibnu Hisyam berkata, "Ia adalah Nushair bin Al-Harits bin\n\u003cbr\>\nKaladah. Namanya Al-Harits juga tidak salah".) seratus unta, Al-Harits bin\n\u003cbr\>\nHisyam seratus unta, Suhail bin Amr seratus unta, Huwaithib bin Abdul Uzza\n\u003cbr\>\nbin Abu Qais seratus unta, Al-Ala' bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani\n\u003cbr\>\nZuhrah seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta,\n\u003cbr\>\nAl-Aqra' bin Habis At-Tamimi seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus\n\u003cbr\>\nunta, dan Shafwan bin Umaiyah seratus unta. Mereka semua diberi seratus\n\u003cbr\>\nunta.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah juga memberi unta di bawah seratus ekor kepada sejum-lah\n\u003cbr\>\norang-orang Quraisy, seperti Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb\n\u003cbr\>\nAl-Jumahi, dan Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luai. Aku tidak hapal\n\u003cbr\>\npersis berapa unta yang diberikan Rasulullah kepada mereka, karena hanya\n\u003cbr\>\ndiketahui bahwa beliau memberi mereka unta di bawah seratus ekor.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah memberi Sa'id bin Yarbu' bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum lima\n”,1]
);

//–>
datang  dengan  membawa  gulungan  benang  dari  rambut dan berkata, ‘Wahai

Rasulullah,   aku   mengambil   gulungan   benang   dari   rambut  ini  dan

menggunakannya sebagai alas pelana untaku yang usang’. Rasulullah bersabda,

‘Ini  bagianku  dari  rampasan  perang  dan sekarang aku berikan kepadamu’.

Orang  dari  kaum  Anshar  tersebut  berkata,  ‘Jika  cuma  ini,  aku tidak

membutuhkannya.  Orang  tersebut  pun  membuang gulungan benang dari rambut

tersebut dari tangannya".

"Rasulullah  memberi  jatah  kepada  para  muallaf,  yaitu para tokoh kaum.

Dengan  pemberian  tersebut,  Rasulullah  ingin menaklukkan hati mereka dan

menaklukkan  hati  kaum  mereka.  Rasulullah  memberi  Abu  Sofyan bin Harb

seratus unta, Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim

bin Hizam sebanyak seratus unta, Al-Harits bin Al-Harits bin Kaldah saudara

Bani  Abdduddaar (Ibnu Hisyam berkata, "Ia adalah Nushair bin Al-Harits bin

Kaladah.  Namanya Al-Harits juga tidak salah".) seratus unta, Al-Harits bin

Hisyam  seratus unta, Suhail bin Amr seratus unta, Huwaithib bin Abdul Uzza

bin  Abu  Qais  seratus  unta,  Al-Ala’ bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani

Zuhrah seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta,

Al-Aqra’  bin Habis At-Tamimi seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus

unta,  dan  Shafwan  bin  Umaiyah seratus unta. Mereka semua diberi seratus

unta.

Rasulullah  juga  memberi  unta  di  bawah  seratus  ekor  kepada sejum-lah

orang-orang  Quraisy, seperti Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb

Al-Jumahi,  dan  Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luai. Aku tidak hapal

persis  berapa  unta  yang diberikan Rasulullah kepada mereka, karena hanya

diketahui bahwa beliau memberi mereka unta di bawah seratus ekor.

Rasulullah  memberi Sa’id bin Yarbu’ bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum lima
\npuluh unta, As-Sahmi lima puluh unta, dan memberi Abbas bin Mirdas beberapa\n\u003cbr\>\nunta, tapi ia tidak terima dengan pemberian tersebut, kemudian ia mengecam\n\u003cbr\>\nRasulullah karena pembagian tersebut,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Unta-unta tersebut adalah harta rampasan perang yang tidak dijaga\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKemudian aku mendapatkannya dengan mengendarai anak kuda di tanah datar\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nAku membangunkan orang-orang yang tidur nyenyak\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nJika manusia tidur, aku tidak tidur\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nTapi, bagianku dan bagian Al-Ubaid** itu berbeda dengan bagian Uyainah dan\n\u003cbr\>\nAl-Aqra'\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nPadahal di perang, aku mempunyai peran besar dalam pertahanan\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nNamun aku tidak diberi apa-apa dan tidak dilindungi\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMelainkan hanya diberi anak-anak unta\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nYang jumlah kakinya adalah empat\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nHishn dan Habib tidak mengungguli ayahku*** di masyarakat\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKedudukanku tidak di bawah kedudukan keduanya\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSiapa saja yang engkau rendahkan pada hari ini, ia tidak bisa diangkat\n\u003cbr\>\nlagi'."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah bersabda, 'Pergilah kalian kepada Abbas bin Mirdas dan\n\u003cbr\>\npotonglah mulutnya dari mengatakan sesuatu yang buruk tentang diriku'.\n\u003cbr\>\nKemudian Abbas bin Mirdas diberi tambahan hingga ia puas dan itulah cara\n\u003cbr\>\npemotongan mulutnya yang diperintahkan Rasulullah."****\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nAbu Sa'id Al-Khudri RA berkata: "Ketika Rasulullah membagi-bagi rampasan\n\u003cbr\>\nperang kepada orang-orang Quraisy, kabilah-kabilah Arab, dan tidak\n\u003cbr\>\nmemberikan sedikit pun kepada kaum Anshar, maka kaum Anshar sedih, hingga\n\u003cbr\>\nmereka seringkali mempersoalkan hal ini. Salah seorang dari kaum Anshar\n\u003cbr\>\nberkata, 'Demi Allah, Rasulullah telah bertemu dengan kaumnya'. Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nUbadah menemui Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum\n\u003cbr\>\nAnshar mempunyai sesuatu tentang diri-mu atas keputusanmu terhadap fay'i\n”,1]
);

//–>
puluh unta, As-Sahmi lima puluh unta, dan memberi Abbas bin Mirdas beberapa

unta,  tapi ia tidak terima dengan pemberian tersebut, kemudian ia mengecam

Rasulullah karena pembagian tersebut,

‘Unta-unta tersebut adalah harta rampasan perang yang tidak dijaga

Kemudian aku mendapatkannya dengan mengendarai anak kuda di tanah datar

Aku membangunkan orang-orang yang tidur nyenyak

Jika manusia tidur, aku tidak tidur

Tapi,  bagianku dan bagian Al-Ubaid** itu berbeda dengan bagian Uyainah dan

Al-Aqra’

Padahal di perang, aku mempunyai peran besar dalam pertahanan

Namun aku tidak diberi apa-apa dan tidak dilindungi

Melainkan hanya diberi anak-anak unta

Yang jumlah kakinya adalah empat

Hishn dan Habib tidak mengungguli ayahku*** di masyarakat

Kedudukanku tidak di bawah kedudukan keduanya

Siapa  saja  yang  engkau  rendahkan  pada hari ini, ia tidak bisa diangkat

lagi’."

"Rasulullah   bersabda,  ‘Pergilah  kalian  kepada  Abbas  bin  Mirdas  dan

potonglah  mulutnya  dari  mengatakan  sesuatu  yang buruk tentang diriku’.

Kemudian  Abbas  bin  Mirdas diberi tambahan hingga ia puas dan itulah cara

pemotongan mulutnya yang diperintahkan Rasulullah."****

Abu  Sa’id  Al-Khudri  RA berkata: "Ketika Rasulullah membagi-bagi rampasan

perang   kepada   orang-orang  Quraisy,  kabilah-kabilah  Arab,  dan  tidak

memberikan  sedikit  pun kepada kaum Anshar, maka kaum Anshar sedih, hingga

mereka  seringkali  mempersoalkan  hal  ini. Salah seorang dari kaum Anshar

berkata,  ‘Demi  Allah, Rasulullah telah bertemu dengan kaumnya’. Sa’ad bin

Ubadah menemui Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum

Anshar  mempunyai  sesuatu  tentang diri-mu atas keputusanmu terhadap fay’i
\nyang engkau dapatkan. Engkau membagi-bagikan kepada kaummu dan memberi\n\u003cbr\>\ndalam jumlah besar kepada kabilah-kabilah Arab, sedang kaum Anshar sedikit\n\u003cbr\>\npun tidak mendapatkan daripadanya'. Rasulullah bersabda, 'Dimana posisimu\n\u003cbr\>\ndalam hal ini, hai Sa'ad?' Sa'ad bin Ubadah berkata, 'Wahai Rasulullah, aku\n\u003cbr\>\njuga berasal dari kaumku'. Rasulullah bersabda, 'Kumpulkan kaummu di tempat\n\u003cbr\>\npenginapan unta'. Sa'ad bin Ubadah keluar lalu mengum-pulkan kaum Anshar di\n\u003cbr\>\ntempat tersebut. Beberapa orang dari kaum Muhajirin datang dan Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nUbadah membiarkan mereka masuk ke tempat tersebut. Sebagian orang dari kaum\n\u003cbr\>\nMuhajirin datang lagi ke tempat tersebut, namun kali ini Sa'ad bin Ubadah\n\u003cbr\>\ntidak mengizinkan mereka masuk.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKetika kaum Anshar telah berkumpul, Sa'ad bin Ubadah mendatangi Rasulullah\n\u003cbr\>\ndan berkata kepada beliau, 'Kaum Anshar telah berkumpul untuk bertemu\n\u003cbr\>\ndenganmu'. Rasulullah mendatangi mereka, kemudian memuji Allah,\n\u003cbr\>\nmenyanjungNya dengan sanjungan yang layak Dia terima, dan bersabda, 'Hai\n\u003cbr\>\nseluruh kaum Anshar, apa maksud ucapan kalian yang telah sampai padaku? Apa\n\u003cbr\>\nmaksud kecaman kalian terhadapku? Bukankah aku datang kepada kalian yang\n\u003cbr\>\nketika itu tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian, kalian\n\u003cbr\>\nmiskin kemudian Allah mengkayakan kalian, dan kalian bermusuhan kemudian\n\u003cbr\>\nAllah menyatukan hati kalian?' Kaum Anshar menjawab, 'Itu betul. Allah dan\n\u003cbr\>\nRasulNya yang lebih utama'. Rasulullah bersabda lagi, 'Kenapa kalian tidak\n\u003cbr\>\nmenjawab pertanyaanku, hai kaum Anshar?' Kaum Anshar berkata, 'Kami harus\n\u003cbr\>\nmenjawab dengan apa, wahai Rasulullah?. Karena karunia dan keutamaan itu\n\u003cbr\>\nmilik Allah dan RasulNya'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah bersabda lagi, 'Demi Allah, jika kalian mau, kalian pasti\n\u003cbr\>\nberbicara, kalian berkata benar, dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan,\n”,1]
);

//–>
yang  engkau  dapatkan.  Engkau  membagi-bagikan  kepada kaummu dan memberi

dalam  jumlah besar kepada kabilah-kabilah Arab, sedang kaum Anshar sedikit

pun  tidak  mendapatkan daripadanya’. Rasulullah bersabda, ‘Dimana posisimu

dalam hal ini, hai Sa’ad?’ Sa’ad bin Ubadah berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku

juga berasal dari kaumku’. Rasulullah bersabda, ‘Kumpulkan kaummu di tempat

penginapan unta’. Sa’ad bin Ubadah keluar lalu mengum-pulkan kaum Anshar di

tempat  tersebut.  Beberapa  orang dari kaum Muhajirin datang dan Sa’ad bin

Ubadah membiarkan mereka masuk ke tempat tersebut. Sebagian orang dari kaum

Muhajirin  datang  lagi ke tempat tersebut, namun kali ini Sa’ad bin Ubadah

tidak mengizinkan mereka masuk.

Ketika  kaum Anshar telah berkumpul, Sa’ad bin Ubadah mendatangi Rasulullah

dan  berkata  kepada  beliau,  ‘Kaum  Anshar  telah berkumpul untuk bertemu

denganmu’.   Rasulullah   mendatangi   mereka,   kemudian   memuji   Allah,

menyanjungNya  dengan  sanjungan  yang layak Dia terima, dan bersabda, ‘Hai

seluruh kaum Anshar, apa maksud ucapan kalian yang telah sampai padaku? Apa

maksud  kecaman  kalian  terhadapku? Bukankah aku datang kepada kalian yang

ketika  itu  tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian, kalian

miskin  kemudian  Allah  mengkayakan kalian, dan kalian bermusuhan kemudian

Allah  menyatukan hati kalian?’ Kaum Anshar menjawab, ‘Itu betul. Allah dan

RasulNya  yang lebih utama’. Rasulullah bersabda lagi, ‘Kenapa kalian tidak

menjawab  pertanyaanku,  hai kaum Anshar?’ Kaum Anshar berkata, ‘Kami harus

menjawab  dengan  apa,  wahai Rasulullah?. Karena karunia dan keutamaan itu

milik Allah dan RasulNya’.

Rasulullah  bersabda  lagi,  ‘Demi  Allah,  jika  kalian  mau, kalian pasti

berbicara,  kalian  berkata  benar, dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan,
\nengkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan kemudian kami\n\u003cbr\>\nmembenarkan-mu, engkau terlantar kemudian kami menolongmu, engkau terusir\n\u003cbr\>\nkemu-dian kami melindungimu, dan engkau miskin kemudian kami membantumu.\n\u003cbr\>\nHai kaum Anshar, apakah kalian mempersoalkan secuil dunia yang dengannya\n\u003cbr\>\naku menundukkan hati salah satu kaum agar mereka masuk Islam, sedang aku\n\u003cbr\>\nmenyerahkan kalian kepada ke-Islaman kalian?. Hai kaum Anshar, tidakkah\n\u003cbr\>\nkalian ridha sekiranya orang-orang pulang membawa kambing-kambing dan\n\u003cbr\>\nunta-unta, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi\n\u003cbr\>\nDzat yang jiwa Muhammad berada di TanganNya, kalaulah tidak karena\n\u003cbr\>\nperistiwa hijrah, aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia\n\u003cbr\>\nmelewati salah satu jalan dan kaum Anshar melewati jalan lain, aku pasti\n\u003cbr\>\nberjalan di jalan yang dilalui kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum\n\u003cbr\>\nAnshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar'. Kaum Anshar pun\n\u003cbr\>\nmenangis hingga jenggot mereka basah oleh airmata. Mereka berkata, 'Kami\n\u003cbr\>\nridha Rasulullah sebagai bagian kami'. Setelah itu, Rasulullah pergi dan\n\u003cbr\>\nkaum Anshar pun bubar".\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nCATATAN KAKI:\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n* Pengasuh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Bani Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nBakar berasal dari Hawaazin\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n** nama Persia bagi Abbas\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n*** Yakni ayahnya, yaitu Mirdas, diriwayatkan juga dengan lafal: Syaikhayya\n\u003cbr\>\n(dua orang tuaku), maksudnya adalah bapaknya dan kakeknya. Dalam riwayat\n\u003cbr\>\nlain disebutkan namanya langsung, yakni Mirdas\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n**** Ibnu Hisyam berkata: "Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa\n\u003cbr\>\nAbbas bin Mirdas menemui Rasulullah SAW lalu beliau berkata kepadanya:\n\u003cbr\>\n"Apakah engkau yang mengatakan: "Tapi bagianku dan Al-Abid berbeda dengan\n\u003cbr\>\nbagian Al-Aqra' dan Uyainah" Abu Bakar berkata: "bagian Uyainah dan\n”,1]
);

//–>
engkau   datang   kepada   kami  dalam  keadaan  didustakan  kemudian  kami

membenarkan-mu,  engkau  terlantar kemudian kami menolongmu, engkau terusir

kemu-dian  kami  melindungimu,  dan engkau miskin kemudian kami membantumu.

Hai  kaum  Anshar,  apakah kalian mempersoalkan secuil dunia yang dengannya

aku  menundukkan  hati  salah satu kaum agar mereka masuk Islam, sedang aku

menyerahkan  kalian  kepada  ke-Islaman  kalian?. Hai kaum Anshar, tidakkah

kalian  ridha  sekiranya  orang-orang  pulang  membawa  kambing-kambing dan

unta-unta,  sedang  kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi

Dzat  yang  jiwa  Muhammad  berada  di  TanganNya,  kalaulah  tidak  karena

peristiwa  hijrah, aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia

melewati  salah  satu  jalan dan kaum Anshar melewati jalan lain, aku pasti

berjalan  di  jalan  yang  dilalui  kaum  Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum

Anshar,  anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar’. Kaum Anshar pun

menangis  hingga  jenggot  mereka basah oleh airmata. Mereka berkata, ‘Kami

ridha  Rasulullah  sebagai  bagian kami’. Setelah itu, Rasulullah pergi dan

kaum Anshar pun bubar".

CATATAN KAKI:

*  Pengasuh  Rasulullah  Shallallahu  ‘alaihi wa sallam dari Bani Sa’ad bin

Bakar berasal dari Hawaazin

** nama Persia bagi Abbas

*** Yakni ayahnya, yaitu Mirdas, diriwayatkan juga dengan lafal: Syaikhayya

(dua  orang  tuaku),  maksudnya adalah bapaknya dan kakeknya. Dalam riwayat

lain disebutkan namanya langsung, yakni Mirdas

****  Ibnu  Hisyam berkata: "Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa

Abbas  bin  Mirdas  menemui  Rasulullah  SAW lalu beliau berkata kepadanya:

"Apakah  engkau  yang mengatakan: "Tapi bagianku dan Al-Abid berbeda dengan

bagian  Al-Aqra’  dan  Uyainah"  Abu  Bakar  berkata:  "bagian  Uyainah dan
\nAl-Aqra'" Rasulullah menimpali: "Itu sama saja tiada beda", maka Abu Bakar\n\u003cbr\>\npun berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau seperti yang Allah katakan: "Kami\n\u003cbr\>\ntiada mengajarkan syair kepadanya dan memang tiada layak baginya."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n \n\u003cbr\>\n YAYASAN AL-SOFWA \n\u003cbr\>\n Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - \n\u003cbr\>\n Indonesia \n\u003cbr\>\n Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info @alsofwah.or.id | \n\u003cbr\>\n website: |——| \n\u003cbr\>\n | [ ] | \n\u003cbr\>\n |——|www.alsofwah.\u003ca href\u003d\”http://or.id\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>or.id\u003c/a\> | Member Info Al-Sofwa \n\u003cbr\>\n Artikel yang dimuat di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan syarat \n\u003cbr\>\n tidak untuk komersil. \n\u003cbr\>\n \n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n__________________________________________________________\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nDisclaimer :\n\u003cbr\>\n- This email and any file transmitted with it are confidential and\n\u003cbr\>\nare intended solely for the use of the individual or entity whom\n\u003cbr\>\nthey are addressed, if you are not the original recipient, please\n\u003cbr\>\ndelete it from your system.\n\u003cbr\>\n- Any views or opinions expressed in this email are those of the\n\u003cbr\>\nauthor only.\n\u003cbr\>\n__________________________________________________________\u003c/p\>\n \u003c/div\> \n\n \n \u003cspan width\u003d\”1\” style\u003d\”color:white\”\>__._,_.___\u003c/span\>\n \n \u003cdiv\>\n \u003cspan\>\n \u003ca href\u003d\”http://groups.yahoo.com/group/sabili/message/85658;_ylc\u003dX3oDMTM2Zm5mYjJ1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwNTA4ODkEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc2MTc5BG1zZ0lkAzg1NjU4BHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE4MTAwNTU5NAR0cGNJZAM4NTY1OA–\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>”,1]
);

//–>
Al-Aqra’"  Rasulullah menimpali: "Itu sama saja tiada beda", maka Abu Bakar

pun  berkata:  "Aku bersaksi bahwa engkau seperti yang Allah katakan: "Kami

tiada mengajarkan syair kepadanya dan memang tiada layak baginya."

Dunia Nyata Umat

Monday, June 25th, 2007

Republika: Minggu, 24 Juni 2007 14:40:00

Dunia Nyata Umat

Umat Islam di negeri ini jumlahnya mayoritas. Tahun 2000 persentasenya

89,22 persen dari total penduduk. Patut disyukuri bahwa jumlah sebesar itu

telah mengantarkan Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar

di dunia. Tak berlebihan jika setiap dinamika Islam yang muncul di

Nusantara tercinta ini selalu menjadi perhatian dunia, bahkan untuk isu

terorisme yang sangat merugikan nama baik umat sekalipun.

Namun besar angka tak berarti selesai urusan. Mayoritas jumlah tapi

minoritas dalam kualitas. Umat marginal secara politik, sekadar jadi

maf’ul-bih alias objek penderita. Tertinggal dalam perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Masih rendah mutu sumber daya manusianya.

Kondisi kesehatan dan lingkungannya pun masih memprihatinkan. Lebih parah

lagi kondisi ekonominya, masih dililit kemiskinan.

Kemiskinan bahkan masih menjadi momok terbesar umat Islam di negeri

kepulauan nan luas ini. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Di

era reformasi keadaan umat yang miskin tidak lebih baik. Padahal dari

kemiskinan itulah segala hal bermula. Tak bisa memenuhi kecukupan makan,

sandang, dan papan. Kesehatan rendah. Taraf pendidikan di bawah standar,

bahkan ada yang tak bersekolah. Kondisi kesejahteraan pun tak memenuhi

harapan hidup. Hidup umat jadi serba marginal.

Karena serba marginal, umat Islam di negeri ini tak bertenaga. Tidak

memiliki daya hidup yang kuat, apalagi di atas standar. Kekuatannya sebatas

demografis, itu pun terfragmentasi. Lebih sebagai kekuatan semu seperti

gincu. Tampak dahsyat dari luar, tapi bagaikan genangan danau.

Menggelembung tak mengalir. Meminjam istilah Pak AR Fakhruddin, ibarat

gajah bengkak (gajah abuh). Besar dan berpenyakit, karenanya sulit bergerak

lincah. Padahal gerak merupakan lambang daya hidup selaku khalifat fiy
al-arld.

Di negeri-negeri muslim pun kondisi umat tak jauh beda, kendati di Timur

Tengah secara ekonomi baik. Tapi di negeri-negeri Afrika sangat parah,

bahkan di bawah Indonesia. Sementara kaum Muslim di Timur Tengah secara

politik tak dapat jadi uswah hasanah. Mereka tak berdaya melawan Israel,

hingga sejak tahun 1948 belum berhasil membebaskan Palestina. Padahal

negeri Zionis itu wilayahnya sempit, penduduknya hanya enam juta, dan

posisinya dikepung negara-negara Arab yang kuat secara ekonomi dan militer.

Negeri-negeri Islam itu besar tapi tak bersatu. Apa daya, jumlah besar

bagaikan buih. Besar dengan gelembung putih tak berisi.

Padahal Tuhan telah memberi janji bahwa umat Muhammad ini akan menjadi

khalifah yang berkuasa di muka bumi sebagaimana kejayaan umat terdahulu (QS

An-Nur: 55). Janji Tuhan sangatlah tepat dan pasti, lebih-lebih diungkapkan

dengan kalimat ta’qid (penguat). Namun karena tak memenuhi syarat, maka

umat Islam masih belum jaya. Tak memenuhi syarat untuk menjadi khalifah

yang digdaya di muka bumi ini.

Di negeri Nusantara tercinta ini apa yang bisa dilakukan dengan umat yang

lemah atau marginal? Tak banyak yang dapat dilakukan, sebatas ikhtiar

minimal. Bahkan sebaliknya, banyak yang menjadi bahan mobilisasi tak

bertanggung jawab. Lebih-lebih mobilisasi politik dalam berbagai

perhelatan. Ketika pemilu dan pilkada hingga pilkades mereka disapa dan

kadang dimanjakan, tetapi sehabis pesta umat ditinggalkan dan tak

dihiraukan. Para elite dan partai politik pun begitu gairah kalau sedang

ada maunya. Mujahadah akbar, khaul, tabligh akbar, dan perhelatan berbau

ritual agama pun digelar dengan penuh semangat. Tetapi usai hajat digelar,

umat pun gigit jari.

Di negeri ini bahkan ada asumsi sekaligus komoditi politik menarik untuk

umat yang marginal. Politik Islam katanya sangatlah penting dan strategis

untuk amar makruf nahi munkar melalui kekuasaan. Melalui tangan negara.

Memang tepat jika dijalankan. Negara dan institusi-institusi politik yang

berada di dalamnya merupakan tangan yang efektif dan strategis untuk

mengurus rakyat, termasuk umat Islam. Apa yang tak mampu dilakukan oleh

tangan-tangan kekuasaan.

Namun apa daya. Negara, partai politik, dan para elite strategis di

dalamnya hingga saat ini tak mampu menjalankan amanat rakyatnya, amanat

umat. Keadaan bahkan sebaliknya, umat sekadar jadi sasaran mobilisasi

belaka. Ketika umat dirundung musibah dan dililit kesusahan hidup, pemimpin

puncak sibuk dengan tebar pesona dan urusan-urusan citra, juga sibuk dengan

rencana politik 2009. Partai dan elite politik di parlemen pun lebih banyak

mengurus dirinya, termasuk urusan kenaikan gaji dan tunjangan.

Partai politik Islam pun seolah tak jauh beda. Tak sungguh-sungguh peduli

dengan urusan umat yang besar-besar seperti memecahkan kemiskinan,

pengangguran, dan kesejahteraan rakyat/umat melalui kebijakan-kebijakan

politik pro-rakyat. RUU APP saja hingga kini tak jelas nasibnya, padahal

bagi umat itu penting karena menyangkut ikhtiar membangun akhlak dan

melawan demoralisasi yang makin liar. Kadang umat sekadar diberi kembang

gula politik seperti demo para aktivis politik dan pernyataan tokohnya yang

menyenangkan hati umat seketika, tetapi tak mengubah keadaan. Apalagi

memecahkan kemiskinan, pengangguran, dan marginalisasi sosial umat.

Padahal, partai politik sesungguhnya harus bermain di aras kebijakan, bukan

dalam kerja-kerja sosial dan keagamaan yang sebenarnya bukan wilayahnya.

Partai politik dan para elitenya semestinya bergerak di jalur kekuasaan.

Berbuatlah optimal bila perlu mati-matian di level kebijakan negara.

Kepemimpinan umat pun seolah kehilangan fungsinya yang efektif dan

strategis untuk memberdayakan umat. Urusan pilkada dan

perhelatan-perhelatan politik lainnya sering menyita energi umat dan para

elitenya. Menteri Agama sampai melakukan kritik, para ulama sibuk dengan

urusan politik, abai dalam mendidik dan mencerahkan umat. Nalar umat

dipadati dengan urusan sesat-menyesatkan paham, yang membuat pikiran umat

menjadi bernapas pendek dan hilangnya ruh kearifan dan kecerdasan.

Sementara elemen umat yang galak, akhirnya menumpahkan energi keagamaannya

untuk selalu marah dan melakukan tindakan kekerasan tanpa pertimbangan

panjang, yang pada akhirnya meruntuhkan nama baik dan kehormatan Islam.

Padahal, kata Al-Mawardi, kepemimpinan umat itu harus hadir sebagai

pantulan kerisalahan Nabi, yakni "fiy harasat al-din wa al-siyasat

al-dunya". Menegakkan nilai-nilai agama dan mengurus urusan dunia dengan

sebaik-baiknya. Nilai-nilai agama yang berbasis kerisalahan Nabi, tiada

lain menjadi rahmat bagi semesta alam sebagaimana deklarasi Tuhan untuk

risalah Muhammad: wa ma arsal-n-ka illa rahmatan lil-’alamin (QS Al-Anbiya:

107). Sedangkan siyasah (politik) adalah "sawas al-amr", mengurus urusan

sesuatu (dunia) dengan baik dan benar, bukan pekerjaan siasat menyiasati

dan akal-akalan.

Memang, tak mudah menghadirkan politik dan kepemimpinan umat yang membumi,

yang menyentuh dunia nyata. Lebih-lebih dalam masyarakat dan bangsa yang

masih dibalut budaya parokhial dan patrimonial. Dua institusi terpenting

umat itu seringkali gagal dalam menyentuh dan memecahkan masalah-masalah

konkret yang dihadapi umat. Apalagi untuk merambah persoalan-persoalan

universal yang serba melampaui dunia umat. Kultur politik dan kepemimpinan

umat alih-alih tak mampu menyelesaikan urusan-urusan dunia yang kompleks

dan nyata, malah giat memproduksi simbol dan pesona kulit luar. Merah

menyala di angkasa, tapi kehilangan substansi dan fungsi untuk membebaskan

dan mencerahkan kehidupan umat di dunia nyata.

(Haedar Nashir )

DARAH, HAL PERTAMA YANG DIPERKARAKAN DI HARI KIAMAT!!

Monday, June 25th, 2007

DARAH, HAL PERTAMA YANG DIPERKARAKAN DI HARI KIAMAT!!

MUKADDIMAH

Sekarang ini, betapa banyak orang yang mengentengkan masalah darah. Bahkan

sudah menjadi pemandangan sehari-hari, di televisi, misalnya, melihat

tayangan yang berbau pertumpahan darah; pembunuhan sadis, bunuh diri, dan

lain sebagainya.

Nampaknya, segologan orang tertentu sudah tidak memusingkan lagi perkara

masuk penjara. Yang penting baginya melampiaskan hawa nafsunya dan

dendamnya.!? Akhirnya, banyak nyawa melayang secara sadis dengan begitu

mudah.

Itulah pemandangan zaman ini; zaman di mana manusia sudah kehilangan jati

diri dan pedoman hidup yang mengarahkan mereka ke jalur yang benar. !?

Padahal di dalam Islam, darah teramat berharga.! Harga darah yang tertumpah

sangat mahal, yaitu seharga 200 ekor onta.!? Bahkan, bagi Allah, robohnya

Ka’bah lebih ringan daripada tertumpahnya darah Muslim.!!

Kajian kali ini, mengangkat tema ‘darah’ ini, semoga bermanfaat.

TEKS HADITS

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Hal yang pertama kali diputuskan (dihisab) diantara sesama manusia pada

hari kiamat adalah masalah darah (pembunuhan)." (Mutafaqun ‘alaih)

PESAN-PESAN HADITS

- Besarnya perkara darah manusia, dan tidaklah masalah darah ini

didahulukan dari perkara lainnya pada hari kiamat kecuali karena perkara

ini lebih besar dan lebih penting dari bentuk-bentuk kezaliman lainnya.

Ibnu Daqiq al-’Ied berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil yang

menunjukkan besarnya masalah darah (pembunuhan), karena memulai sesuatu

dilakukan terhadap perkara yang paling penting. Dan perkara darah ini

memang pantas didahulukan dari perkara lainnya, karena besarnya suatu dosa

tergantung kepada besarnya mafsadat (kerusakan) yang ditimbulkan atau

besarnya maslahat yang dihilangkan. Dan membunuh seseorang menimbulkan

kerusakan yang sangat besar, maka pantas kalau membunuh itu menempati dosa

yang paling besar setelah kufur kepada Allah.

- Penetapan adanya hari kiamat dan hisab (perhitungan amal) dan pemutusan

perkara serta balasannya.

- Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh

penulis kitab-kitab sunan (Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu

Majah) dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW, "Perkara yang pertama kali akan

dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya". Karena dalam hadits Ibnu

Mas’ud di atas yang dimaksud adalah perkara yang berkaitan antara seorang

hamba dengan sesamanya, sedangkan yang dimaksud dalam hadits Abu Hurairah

adalah perkara yang berkaitan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan

tidak diragukan lagi bahwa hak manusia yang paling besar adalah masalah

darah, dan hak Allah yang paling besar dari seorang muslim adalah shalat.

- Wajibnya berhati-hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak sesama

makhluk, agar ia tidak celaka pada hari kiamat nanti, dan hak makhluk yang

paling besar adalah masalah darah.

- Wajib atas pengadilan ataupun mahkamah untuk memperhatikan masalah

pembunuhan, dan menempatkan masalah ini sebagai prioritas pertama dari

masalah-masalah lainnya.

(SUMBER: Taudhih al-Ahkam Min Bulugh al-Maram karya Syaikh Abdullah bin

Abdurrahman al Bassam, Jld V, hal.170-171)