Beberapa Peristiwa Sekembali Dari Thaif

Sirah Nabawiyah:

Beberapa Peristiwa Sekembali Dari Thaif

"Sepulangnya  dari  Thaif,  Rasulullah  berjalan melewati Dahna (salah satu

wilayah  di  Thaif ) kemudian berhenti di Ji’ranah bersama para sahabat dan

banyak  sekali  tawanan dari kabilah Hawazin. Salah seorang sahabat berkata

kepada  Rasulullah  ketika  beliau  meninggalkan Tsaqif, ‘Wahai Rasulullah,

doa-kan  orang-orang  Tsaqif’.  Rasulullah  bersabda,  ‘Ya  Allah,  berilah

petunjuk kepada orang-orang Tsaqif dan datangkan mereka’.

Kemudian  Rasulullah  dikunjungi  oleh  delegasi  dari  kabilah  Hawazin di

Ji’ranah.  Ketika  itu, Rasulullah membawa tawanan kabilah Hawazin sebanyak

enam ribu orang dari anak-anak dan para wanita, serta unta dan kambing yang

tidak terhitung jumlahnya".

Delegasi  kabilah  Hawazin  datang kepada Rasulullah dan telah masuk Islam.

Mereka  berkata,  "Wahai  Rasulullah,  kami adalah asal-usul keturunan dari

keluarga  besar. Kami telah mendapatkan petaka seperti engkau ketahui. Oleh

karena itu, berilah kami karunia semoga Allah memberi karunia kepadamu."

Salah  seorang  delegasi  kabilah  Hawazin  dari  Bani  Sa’ad bin Bakr yang

bernama  Zuhair  dan  bisa  dipanggil  Abu Shurad berdiri kemudian berkata,

"Wahai  Rasulullah, di tempat penampungan para tawanan terdapat bibi-bibimu

dari  jalur  ayah,  bibi-bibimu  dari jalur ibu, dan wanita-wanita penyusui

yang  dulu  mengasuhmu.*  Jika  kami menyusui untuk Al-Harits bin Abu Syamr

atau  An-Nu’man  bin  Al-Mundzir, kemudian kami mendapatkan musibah seperti

yang  engkau  timpakan kepada kami, maka kami mengharapkan belas kasihannya

dan  karunianya  kepada  kami.  Dan  engkau  adalah anak asuhan yang paling

\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Kemudian Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah Hawazin, 'Manakah\n\u003cbr\>\nyang lebih kalian cintai; anak-anak dan wanita-wanita kalian; ataukah harta\n\u003cbr\>\nkalian?' Delegasi kabilah Hawazin berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau\n\u003cbr\>\nmenyuruh kami memilih antara anak keturunan kami dengan harta kami?\n\u003cbr\>\nKembalikan wanita-wanita dan anak-anak kami, karena mereka lebih kami\n\u003cbr\>\ncintai daripada yang lain'. Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah\n\u003cbr\>\nHawaziin, 'Jatahku dan jatah Bani Abdul Muththalib menjadi milik kalian.\n\u003cbr\>\nSelepas aku mengerjakan shalat Zhuhur bersama kaum muslimin, berdirilah\n\u003cbr\>\nkalian kemudian katakan bahwa kami meminta dispensasi kepada Rasulullah\n\u003cbr\>\natas hak-hak kaum muslimin dan meminta dispensasi kepada kaum muslimin atas\n\u003cbr\>\nhak-hak Rasulullah, niscaya saat itu permintaan kalian akan aku berikan\n\u003cbr\>\nkepada kalian dan aku akan meminta untuk kalian'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSetelah Rasulullah mengerjakan shalat Zhuhur bersama kaum mus-limin,\n\u003cbr\>\ndelegasi kabilah Hawazin berdiri dan berkata seperti diperintahkan\n\u003cbr\>\nRasulullah. Kaum Muhajirin berkata, 'Jatah kami menjadi milik Rasu-lullah'.\n\u003cbr\>\nKaum Anshar berkata, 'Jatah kami menjadi milik Rasulullah'. Al-Aqra' bin\n\u003cbr\>\nHabis berkata, 'Jatahku dan jatah Bani Tamim tidak menjadi milik\n\u003cbr\>\nRasulullah'. Uyainah bin Hishn berkata, 'Jatahku dan jatah Bani Fazarah\n\u003cbr\>\ntidak menjadi milik Rasulullah'. Abbas bin Mirdas berkata, 'Jatahku dan\n\u003cbr\>\njatah Bani Sulaim tidak menjadi milik Rasulullah'. Bani Sulaim berkata,\n\u003cbr\>\n'Tidak begitu, jatah kami menjadi milik Rasulullah'. Abbas bin Mirdas\n\u003cbr\>\nberkata kepada Bani Sulaim, 'Kalian telah melemah-kanku'. Rasulullah\n\u003cbr\>\nbersabda, 'Jika salah seorang dari kalian tetap mem-pertahankan haknya atas\n\u003cbr\>\ntawanan ini, ia berhak mendapatkan enam bagian sebagai tebusan dari setiap\n”,1]
);

//–>
baik".

"Kemudian  Rasulullah  bersabda  kepada  delegasi kabilah Hawazin, ‘Manakah

yang lebih kalian cintai; anak-anak dan wanita-wanita kalian; ataukah harta

kalian?’  Delegasi  kabilah  Hawazin  berkata,  ‘Wahai  Rasulullah,  engkau

menyuruh  kami  memilih  antara  anak  keturunan  kami  dengan  harta kami?

Kembalikan  wanita-wanita  dan  anak-anak  kami,  karena  mereka lebih kami

cintai  daripada  yang  lain’.  Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah

Hawaziin,  ‘Jatahku  dan  jatah Bani Abdul Muththalib menjadi milik kalian.

Selepas  aku  mengerjakan  shalat  Zhuhur bersama kaum muslimin, berdirilah

kalian  kemudian  katakan  bahwa  kami meminta dispensasi kepada Rasulullah

atas hak-hak kaum muslimin dan meminta dispensasi kepada kaum muslimin atas

hak-hak  Rasulullah,  niscaya  saat  itu permintaan kalian akan aku berikan

kepada kalian dan aku akan meminta untuk kalian’.

Setelah  Rasulullah  mengerjakan  shalat  Zhuhur  bersama  kaum  mus-limin,

delegasi   kabilah   Hawazin  berdiri  dan  berkata  seperti  diperintahkan

Rasulullah. Kaum Muhajirin berkata, ‘Jatah kami menjadi milik Rasu-lullah’.

Kaum  Anshar  berkata,  ‘Jatah kami menjadi milik Rasulullah’. Al-Aqra’ bin

Habis   berkata,   ’Jatahku  dan  jatah  Bani  Tamim  tidak  menjadi  milik

Rasulullah’.  Uyainah  bin  Hishn  berkata, ‘Jatahku dan jatah Bani Fazarah

tidak  menjadi  milik  Rasulullah’.  Abbas bin Mirdas berkata, ‘Jatahku dan

jatah  Bani  Sulaim  tidak  menjadi milik Rasulullah’. Bani Sulaim berkata,

‘Tidak  begitu,  jatah  kami  menjadi  milik  Rasulullah’. Abbas bin Mirdas

berkata  kepada  Bani  Sulaim,  ‘Kalian  telah  melemah-kanku’.  Rasulullah

bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian tetap mem-pertahankan haknya atas

tawanan  ini, ia berhak mendapatkan enam bagian sebagai tebusan dari setiap
\ntawanan mulai dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan'. Maka dari itu\n\u003cbr\>\nkembalikan kepada para delegasi anak-anak dari istri-istri mereka."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah bersabda kepada delegasi kabilah Hawazin dan bertanya kepada\n\u003cbr\>\nmereka tentang Malik bin Auf An-Nashri, 'Apa yang sedang ia kerjakan?'\n\u003cbr\>\nDelegasi kabilah Hawazin menjawab, 'Malik bin Auf An-Nashri sedang berada\n\u003cbr\>\ndi Thaif'. Rasulullah bersabda, 'Katakan kepada Malik bahwa jika ia datang\n\u003cbr\>\nkepadaku dalam keadaan Islam, aku akan mengembalikan keluarga dan hartanya\n\u003cbr\>\nseratus unta'. Informasi tersebut disampaikan kepada Malik bin Auf,\n\u003cbr\>\nkemudian ia keluar dari Thaif ber-maksud menemui Rasulullah. Malik bin Auf\n\u003cbr\>\nAn-Nashri khawatir kalau orang-orang Tsaqif mengetahui bahwa Rasulullah\n\u003cbr\>\nbersabda seperti itu untuknya, karena jika mereka mengetahuinya, mereka\n\u003cbr\>\npasti menahannya. Oleh karena itu, ia memerintahkan kudanya didatangkan ke\n\u003cbr\>\nThaif, kemu-dian ia keluar dari Thaif pada malam hari. Malik bin Auf\n\u003cbr\>\nAn-Nashri duduk di atas kudanya memacunya hingga tiba di tempat untanya\n\u003cbr\>\ndisiapkan, kemudian ia menaiki unta tersebut menyusul Rasulullah dan\n\u003cbr\>\nbertemu beliau di Al-Ji'ranah atau Makkah. Rasulullah mengembalikan\n\u003cbr\>\nkeluarga dan hartanya kepadanya, serta memberinya seratus unta. Ia masuk\n\u003cbr\>\nIslam dan ke-Islamannya baik.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMalik bin Auf An-Nashri berkata ketika masuk Islam,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Aku tidak pernah melihat dan mendengar manusia seperti Muhammad\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa menepati janji dan memberi hingga banyak sekali jika diminta\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKapan saja engkau mau, ia pasti menjelaskan kepadamu apa yang terjadi besok\n\u003cbr\>\npagi\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nJika satu batalion telah memperlihatkan taring-taringnya\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nDengan pedang As-Samhari dan tebasan seluruh pedang dari India\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nBeliau seperti singa terhadap anak-anak singa'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah mengangkat Malik bin Auf An-Nashri sebagai pemimpin membawahi\n”,1]
);

//–>
tawanan  mulai  dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan’. Maka dari itu

kembalikan kepada para delegasi anak-anak dari istri-istri mereka."

"Rasulullah  bersabda  kepada  delegasi kabilah Hawazin dan bertanya kepada

mereka  tentang  Malik  bin  Auf  An-Nashri, ‘Apa yang sedang ia kerjakan?’

Delegasi  kabilah  Hawazin menjawab, ‘Malik bin Auf An-Nashri sedang berada

di  Thaif’. Rasulullah bersabda, ‘Katakan kepada Malik bahwa jika ia datang

kepadaku  dalam keadaan Islam, aku akan mengembalikan keluarga dan hartanya

seratus  unta’.  Informasi  tersebut  disampaikan  kepada  Malik  bin  Auf,

kemudian  ia keluar dari Thaif ber-maksud menemui Rasulullah. Malik bin Auf

An-Nashri  khawatir  kalau  orang-orang  Tsaqif mengetahui bahwa Rasulullah

bersabda  seperti  itu  untuknya,  karena jika mereka mengetahuinya, mereka

pasti  menahannya. Oleh karena itu, ia memerintahkan kudanya didatangkan ke

Thaif,  kemu-dian  ia  keluar  dari  Thaif  pada  malam hari. Malik bin Auf

An-Nashri  duduk  di  atas  kudanya memacunya hingga tiba di tempat untanya

disiapkan,  kemudian  ia  menaiki  unta  tersebut  menyusul  Rasulullah dan

bertemu   beliau  di  Al-Ji’ranah  atau  Makkah.  Rasulullah  mengembalikan

keluarga  dan  hartanya  kepadanya, serta memberinya seratus unta. Ia masuk

Islam dan ke-Islamannya baik.

Malik bin Auf An-Nashri berkata ketika masuk Islam,

‘Aku tidak pernah melihat dan mendengar manusia seperti Muhammad

Ia menepati janji dan memberi hingga banyak sekali jika diminta

Kapan saja engkau mau, ia pasti menjelaskan kepadamu apa yang terjadi besok

pagi

Jika satu batalion telah memperlihatkan taring-taringnya

Dengan pedang As-Samhari dan tebasan seluruh pedang dari India

Beliau seperti singa terhadap anak-anak singa’.

Rasulullah  mengangkat  Malik  bin Auf An-Nashri sebagai pemimpin membawahi
\norang-orang dari kaumnya yang telah masuk Islam. Kabilah-kabilah dari\n\u003cbr\>\nkaumnya yang masuk Islam ialah Tsumalah, Salamah, dan Fahm. Bersama\n\u003cbr\>\nkabilah-kabilah tersebut, Malik bin Auf An-Nashri me-merangi orang-orang\n\u003cbr\>\nTsaqif. Setiap kali hewan ternak orang-orang Tsaqif terlihat olehnya, ia\n\u003cbr\>\nmenyerangnya, hingga pada akhirnya ia berhasil mempersempit ruang gerak\n\u003cbr\>\nmereka.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nTentang hal tersebut, Abu Mihjan bin Habib bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi\n\u003cbr\>\nberkata,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Musuh-musuh mengalir ke arah kami\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKemudian kami diserang Bani Salamah\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMalik juga datang menyerang kami dengan mereka\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa melanggar janji dan kehormatan\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nIa datang kepada kami di rumah-rumah kami\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nPadahal dulunya kami adalah orang-orang kuat'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSetelah mengembalikan para tawanan Perang Hunain kepada keluarganya,\n\u003cbr\>\nRasulullah naik ke atas kendaraan beliau diikuti orang-orang yang sambil\n\u003cbr\>\nberkata, 'Wahai Rasulullah, bagikan kepada kami fay'i unta dan kambing\n\u003cbr\>\nkepada kami'. Mereka membuntuti Rasulullah hingga mereka menyudutkan beliau\n\u003cbr\>\ndi salah satu pohon, akibatnya kain beliau nyangkut di pohon tersebut.\n\u003cbr\>\nRasulullah bersabda, 'Hai manusia, kembalikan kain-ku. Demi Allah,\n\u003cbr\>\nseandainya kalian berhak atas hewan ternak sebanyak pohon di Tihamah, aku\n\u003cbr\>\npasti membagi-bagikannya kepada kalian, kemu-dian kalian tidak mendapatiku\n\u003cbr\>\nsebagai orang bakhil, pengecut, dan pen-dusta'. Kemudian Rasulullah berdiri\n\u003cbr\>\ndi samping unta, mengambil bulu di punuk unta, dan mengangkatnya seraya\n\u003cbr\>\nbersabda, 'Hai Manusia, demi Allah, aku tidak berhak atas fay' kalian dan\n\u003cbr\>\ntidak pula atas harta sebesar bulu ini melainkan seperlimanya saja dan\n\u003cbr\>\nseperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nOleh karena itu, kembalikan benang dan jarum, karena sesungguhnya Ghulul\n\u003cbr\>\nadalah aib, api, dan noda di hari Kiamat'. Salah seorang dari kaum Anshar\n”,1]
);

//–>
orang-orang  dari  kaumnya  yang  telah  masuk  Islam. Kabilah-kabilah dari

kaumnya  yang  masuk  Islam  ialah  Tsumalah,  Salamah,  dan  Fahm. Bersama

kabilah-kabilah  tersebut,  Malik  bin Auf An-Nashri me-merangi orang-orang

Tsaqif.  Setiap  kali  hewan ternak orang-orang Tsaqif terlihat olehnya, ia

menyerangnya,  hingga  pada  akhirnya  ia berhasil mempersempit ruang gerak

mereka.

Tentang  hal  tersebut,  Abu Mihjan bin Habib bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi

berkata,

‘Musuh-musuh mengalir ke arah kami

Kemudian kami diserang Bani Salamah

Malik juga datang menyerang kami dengan mereka

Ia melanggar janji dan kehormatan

Ia datang kepada kami di rumah-rumah kami

Padahal dulunya kami adalah orang-orang kuat’.

Setelah  mengembalikan  para  tawanan  Perang  Hunain  kepada  keluarganya,

Rasulullah  naik  ke  atas kendaraan beliau diikuti orang-orang yang sambil

berkata,  ‘Wahai  Rasulullah,  bagikan  kepada  kami fay’i unta dan kambing

kepada kami’. Mereka membuntuti Rasulullah hingga mereka menyudutkan beliau

di  salah  satu  pohon,  akibatnya  kain beliau nyangkut di pohon tersebut.

Rasulullah   bersabda,   ’Hai  manusia,  kembalikan  kain-ku.  Demi  Allah,

seandainya  kalian  berhak atas hewan ternak sebanyak pohon di Tihamah, aku

pasti  membagi-bagikannya kepada kalian, kemu-dian kalian tidak mendapatiku

sebagai orang bakhil, pengecut, dan pen-dusta’. Kemudian Rasulullah berdiri

di  samping  unta,  mengambil  bulu di punuk unta, dan mengangkatnya seraya

bersabda,  ‘Hai  Manusia, demi Allah, aku tidak berhak atas fay’ kalian dan

tidak  pula  atas  harta  sebesar  bulu ini melainkan seperlimanya saja dan

seperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian.

Oleh  karena  itu,  kembalikan benang dan jarum, karena sesungguhnya Ghulul

adalah  aib,  api, dan noda di hari Kiamat’. Salah seorang dari kaum Anshar
\ndatang dengan membawa gulungan benang dari rambut dan berkata, 'Wahai\n\u003cbr\>\nRasulullah, aku mengambil gulungan benang dari rambut ini dan\n\u003cbr\>\nmenggunakannya sebagai alas pelana untaku yang usang'. Rasulullah bersabda,\n\u003cbr\>\n'Ini bagianku dari rampasan perang dan sekarang aku berikan kepadamu'.\n\u003cbr\>\nOrang dari kaum Anshar tersebut berkata, 'Jika cuma ini, aku tidak\n\u003cbr\>\nmembutuhkannya. Orang tersebut pun membuang gulungan benang dari rambut\n\u003cbr\>\ntersebut dari tangannya".\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah memberi jatah kepada para muallaf, yaitu para tokoh kaum.\n\u003cbr\>\nDengan pemberian tersebut, Rasulullah ingin menaklukkan hati mereka dan\n\u003cbr\>\nmenaklukkan hati kaum mereka. Rasulullah memberi Abu Sofyan bin Harb\n\u003cbr\>\nseratus unta, Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim\n\u003cbr\>\nbin Hizam sebanyak seratus unta, Al-Harits bin Al-Harits bin Kaldah saudara\n\u003cbr\>\nBani Abdduddaar (Ibnu Hisyam berkata, "Ia adalah Nushair bin Al-Harits bin\n\u003cbr\>\nKaladah. Namanya Al-Harits juga tidak salah".) seratus unta, Al-Harits bin\n\u003cbr\>\nHisyam seratus unta, Suhail bin Amr seratus unta, Huwaithib bin Abdul Uzza\n\u003cbr\>\nbin Abu Qais seratus unta, Al-Ala' bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani\n\u003cbr\>\nZuhrah seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta,\n\u003cbr\>\nAl-Aqra' bin Habis At-Tamimi seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus\n\u003cbr\>\nunta, dan Shafwan bin Umaiyah seratus unta. Mereka semua diberi seratus\n\u003cbr\>\nunta.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah juga memberi unta di bawah seratus ekor kepada sejum-lah\n\u003cbr\>\norang-orang Quraisy, seperti Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb\n\u003cbr\>\nAl-Jumahi, dan Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luai. Aku tidak hapal\n\u003cbr\>\npersis berapa unta yang diberikan Rasulullah kepada mereka, karena hanya\n\u003cbr\>\ndiketahui bahwa beliau memberi mereka unta di bawah seratus ekor.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah memberi Sa'id bin Yarbu' bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum lima\n”,1]
);

//–>
datang  dengan  membawa  gulungan  benang  dari  rambut dan berkata, ‘Wahai

Rasulullah,   aku   mengambil   gulungan   benang   dari   rambut  ini  dan

menggunakannya sebagai alas pelana untaku yang usang’. Rasulullah bersabda,

‘Ini  bagianku  dari  rampasan  perang  dan sekarang aku berikan kepadamu’.

Orang  dari  kaum  Anshar  tersebut  berkata,  ‘Jika  cuma  ini,  aku tidak

membutuhkannya.  Orang  tersebut  pun  membuang gulungan benang dari rambut

tersebut dari tangannya".

"Rasulullah  memberi  jatah  kepada  para  muallaf,  yaitu para tokoh kaum.

Dengan  pemberian  tersebut,  Rasulullah  ingin menaklukkan hati mereka dan

menaklukkan  hati  kaum  mereka.  Rasulullah  memberi  Abu  Sofyan bin Harb

seratus unta, Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim

bin Hizam sebanyak seratus unta, Al-Harits bin Al-Harits bin Kaldah saudara

Bani  Abdduddaar (Ibnu Hisyam berkata, "Ia adalah Nushair bin Al-Harits bin

Kaladah.  Namanya Al-Harits juga tidak salah".) seratus unta, Al-Harits bin

Hisyam  seratus unta, Suhail bin Amr seratus unta, Huwaithib bin Abdul Uzza

bin  Abu  Qais  seratus  unta,  Al-Ala’ bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani

Zuhrah seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta,

Al-Aqra’  bin Habis At-Tamimi seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus

unta,  dan  Shafwan  bin  Umaiyah seratus unta. Mereka semua diberi seratus

unta.

Rasulullah  juga  memberi  unta  di  bawah  seratus  ekor  kepada sejum-lah

orang-orang  Quraisy, seperti Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb

Al-Jumahi,  dan  Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luai. Aku tidak hapal

persis  berapa  unta  yang diberikan Rasulullah kepada mereka, karena hanya

diketahui bahwa beliau memberi mereka unta di bawah seratus ekor.

Rasulullah  memberi Sa’id bin Yarbu’ bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum lima
\npuluh unta, As-Sahmi lima puluh unta, dan memberi Abbas bin Mirdas beberapa\n\u003cbr\>\nunta, tapi ia tidak terima dengan pemberian tersebut, kemudian ia mengecam\n\u003cbr\>\nRasulullah karena pembagian tersebut,\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n'Unta-unta tersebut adalah harta rampasan perang yang tidak dijaga\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKemudian aku mendapatkannya dengan mengendarai anak kuda di tanah datar\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nAku membangunkan orang-orang yang tidur nyenyak\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nJika manusia tidur, aku tidak tidur\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nTapi, bagianku dan bagian Al-Ubaid** itu berbeda dengan bagian Uyainah dan\n\u003cbr\>\nAl-Aqra'\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nPadahal di perang, aku mempunyai peran besar dalam pertahanan\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nNamun aku tidak diberi apa-apa dan tidak dilindungi\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nMelainkan hanya diberi anak-anak unta\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nYang jumlah kakinya adalah empat\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nHishn dan Habib tidak mengungguli ayahku*** di masyarakat\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKedudukanku tidak di bawah kedudukan keduanya\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nSiapa saja yang engkau rendahkan pada hari ini, ia tidak bisa diangkat\n\u003cbr\>\nlagi'."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n"Rasulullah bersabda, 'Pergilah kalian kepada Abbas bin Mirdas dan\n\u003cbr\>\npotonglah mulutnya dari mengatakan sesuatu yang buruk tentang diriku'.\n\u003cbr\>\nKemudian Abbas bin Mirdas diberi tambahan hingga ia puas dan itulah cara\n\u003cbr\>\npemotongan mulutnya yang diperintahkan Rasulullah."****\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nAbu Sa'id Al-Khudri RA berkata: "Ketika Rasulullah membagi-bagi rampasan\n\u003cbr\>\nperang kepada orang-orang Quraisy, kabilah-kabilah Arab, dan tidak\n\u003cbr\>\nmemberikan sedikit pun kepada kaum Anshar, maka kaum Anshar sedih, hingga\n\u003cbr\>\nmereka seringkali mempersoalkan hal ini. Salah seorang dari kaum Anshar\n\u003cbr\>\nberkata, 'Demi Allah, Rasulullah telah bertemu dengan kaumnya'. Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nUbadah menemui Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum\n\u003cbr\>\nAnshar mempunyai sesuatu tentang diri-mu atas keputusanmu terhadap fay'i\n”,1]
);

//–>
puluh unta, As-Sahmi lima puluh unta, dan memberi Abbas bin Mirdas beberapa

unta,  tapi ia tidak terima dengan pemberian tersebut, kemudian ia mengecam

Rasulullah karena pembagian tersebut,

‘Unta-unta tersebut adalah harta rampasan perang yang tidak dijaga

Kemudian aku mendapatkannya dengan mengendarai anak kuda di tanah datar

Aku membangunkan orang-orang yang tidur nyenyak

Jika manusia tidur, aku tidak tidur

Tapi,  bagianku dan bagian Al-Ubaid** itu berbeda dengan bagian Uyainah dan

Al-Aqra’

Padahal di perang, aku mempunyai peran besar dalam pertahanan

Namun aku tidak diberi apa-apa dan tidak dilindungi

Melainkan hanya diberi anak-anak unta

Yang jumlah kakinya adalah empat

Hishn dan Habib tidak mengungguli ayahku*** di masyarakat

Kedudukanku tidak di bawah kedudukan keduanya

Siapa  saja  yang  engkau  rendahkan  pada hari ini, ia tidak bisa diangkat

lagi’."

"Rasulullah   bersabda,  ‘Pergilah  kalian  kepada  Abbas  bin  Mirdas  dan

potonglah  mulutnya  dari  mengatakan  sesuatu  yang buruk tentang diriku’.

Kemudian  Abbas  bin  Mirdas diberi tambahan hingga ia puas dan itulah cara

pemotongan mulutnya yang diperintahkan Rasulullah."****

Abu  Sa’id  Al-Khudri  RA berkata: "Ketika Rasulullah membagi-bagi rampasan

perang   kepada   orang-orang  Quraisy,  kabilah-kabilah  Arab,  dan  tidak

memberikan  sedikit  pun kepada kaum Anshar, maka kaum Anshar sedih, hingga

mereka  seringkali  mempersoalkan  hal  ini. Salah seorang dari kaum Anshar

berkata,  ‘Demi  Allah, Rasulullah telah bertemu dengan kaumnya’. Sa’ad bin

Ubadah menemui Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum

Anshar  mempunyai  sesuatu  tentang diri-mu atas keputusanmu terhadap fay’i
\nyang engkau dapatkan. Engkau membagi-bagikan kepada kaummu dan memberi\n\u003cbr\>\ndalam jumlah besar kepada kabilah-kabilah Arab, sedang kaum Anshar sedikit\n\u003cbr\>\npun tidak mendapatkan daripadanya'. Rasulullah bersabda, 'Dimana posisimu\n\u003cbr\>\ndalam hal ini, hai Sa'ad?' Sa'ad bin Ubadah berkata, 'Wahai Rasulullah, aku\n\u003cbr\>\njuga berasal dari kaumku'. Rasulullah bersabda, 'Kumpulkan kaummu di tempat\n\u003cbr\>\npenginapan unta'. Sa'ad bin Ubadah keluar lalu mengum-pulkan kaum Anshar di\n\u003cbr\>\ntempat tersebut. Beberapa orang dari kaum Muhajirin datang dan Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nUbadah membiarkan mereka masuk ke tempat tersebut. Sebagian orang dari kaum\n\u003cbr\>\nMuhajirin datang lagi ke tempat tersebut, namun kali ini Sa'ad bin Ubadah\n\u003cbr\>\ntidak mengizinkan mereka masuk.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nKetika kaum Anshar telah berkumpul, Sa'ad bin Ubadah mendatangi Rasulullah\n\u003cbr\>\ndan berkata kepada beliau, 'Kaum Anshar telah berkumpul untuk bertemu\n\u003cbr\>\ndenganmu'. Rasulullah mendatangi mereka, kemudian memuji Allah,\n\u003cbr\>\nmenyanjungNya dengan sanjungan yang layak Dia terima, dan bersabda, 'Hai\n\u003cbr\>\nseluruh kaum Anshar, apa maksud ucapan kalian yang telah sampai padaku? Apa\n\u003cbr\>\nmaksud kecaman kalian terhadapku? Bukankah aku datang kepada kalian yang\n\u003cbr\>\nketika itu tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian, kalian\n\u003cbr\>\nmiskin kemudian Allah mengkayakan kalian, dan kalian bermusuhan kemudian\n\u003cbr\>\nAllah menyatukan hati kalian?' Kaum Anshar menjawab, 'Itu betul. Allah dan\n\u003cbr\>\nRasulNya yang lebih utama'. Rasulullah bersabda lagi, 'Kenapa kalian tidak\n\u003cbr\>\nmenjawab pertanyaanku, hai kaum Anshar?' Kaum Anshar berkata, 'Kami harus\n\u003cbr\>\nmenjawab dengan apa, wahai Rasulullah?. Karena karunia dan keutamaan itu\n\u003cbr\>\nmilik Allah dan RasulNya'.\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nRasulullah bersabda lagi, 'Demi Allah, jika kalian mau, kalian pasti\n\u003cbr\>\nberbicara, kalian berkata benar, dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan,\n”,1]
);

//–>
yang  engkau  dapatkan.  Engkau  membagi-bagikan  kepada kaummu dan memberi

dalam  jumlah besar kepada kabilah-kabilah Arab, sedang kaum Anshar sedikit

pun  tidak  mendapatkan daripadanya’. Rasulullah bersabda, ‘Dimana posisimu

dalam hal ini, hai Sa’ad?’ Sa’ad bin Ubadah berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku

juga berasal dari kaumku’. Rasulullah bersabda, ‘Kumpulkan kaummu di tempat

penginapan unta’. Sa’ad bin Ubadah keluar lalu mengum-pulkan kaum Anshar di

tempat  tersebut.  Beberapa  orang dari kaum Muhajirin datang dan Sa’ad bin

Ubadah membiarkan mereka masuk ke tempat tersebut. Sebagian orang dari kaum

Muhajirin  datang  lagi ke tempat tersebut, namun kali ini Sa’ad bin Ubadah

tidak mengizinkan mereka masuk.

Ketika  kaum Anshar telah berkumpul, Sa’ad bin Ubadah mendatangi Rasulullah

dan  berkata  kepada  beliau,  ‘Kaum  Anshar  telah berkumpul untuk bertemu

denganmu’.   Rasulullah   mendatangi   mereka,   kemudian   memuji   Allah,

menyanjungNya  dengan  sanjungan  yang layak Dia terima, dan bersabda, ‘Hai

seluruh kaum Anshar, apa maksud ucapan kalian yang telah sampai padaku? Apa

maksud  kecaman  kalian  terhadapku? Bukankah aku datang kepada kalian yang

ketika  itu  tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian, kalian

miskin  kemudian  Allah  mengkayakan kalian, dan kalian bermusuhan kemudian

Allah  menyatukan hati kalian?’ Kaum Anshar menjawab, ‘Itu betul. Allah dan

RasulNya  yang lebih utama’. Rasulullah bersabda lagi, ‘Kenapa kalian tidak

menjawab  pertanyaanku,  hai kaum Anshar?’ Kaum Anshar berkata, ‘Kami harus

menjawab  dengan  apa,  wahai Rasulullah?. Karena karunia dan keutamaan itu

milik Allah dan RasulNya’.

Rasulullah  bersabda  lagi,  ‘Demi  Allah,  jika  kalian  mau, kalian pasti

berbicara,  kalian  berkata  benar, dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan,
\nengkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan kemudian kami\n\u003cbr\>\nmembenarkan-mu, engkau terlantar kemudian kami menolongmu, engkau terusir\n\u003cbr\>\nkemu-dian kami melindungimu, dan engkau miskin kemudian kami membantumu.\n\u003cbr\>\nHai kaum Anshar, apakah kalian mempersoalkan secuil dunia yang dengannya\n\u003cbr\>\naku menundukkan hati salah satu kaum agar mereka masuk Islam, sedang aku\n\u003cbr\>\nmenyerahkan kalian kepada ke-Islaman kalian?. Hai kaum Anshar, tidakkah\n\u003cbr\>\nkalian ridha sekiranya orang-orang pulang membawa kambing-kambing dan\n\u003cbr\>\nunta-unta, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi\n\u003cbr\>\nDzat yang jiwa Muhammad berada di TanganNya, kalaulah tidak karena\n\u003cbr\>\nperistiwa hijrah, aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia\n\u003cbr\>\nmelewati salah satu jalan dan kaum Anshar melewati jalan lain, aku pasti\n\u003cbr\>\nberjalan di jalan yang dilalui kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum\n\u003cbr\>\nAnshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar'. Kaum Anshar pun\n\u003cbr\>\nmenangis hingga jenggot mereka basah oleh airmata. Mereka berkata, 'Kami\n\u003cbr\>\nridha Rasulullah sebagai bagian kami'. Setelah itu, Rasulullah pergi dan\n\u003cbr\>\nkaum Anshar pun bubar".\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nCATATAN KAKI:\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n* Pengasuh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Bani Sa'ad bin\n\u003cbr\>\nBakar berasal dari Hawaazin\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n** nama Persia bagi Abbas\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n*** Yakni ayahnya, yaitu Mirdas, diriwayatkan juga dengan lafal: Syaikhayya\n\u003cbr\>\n(dua orang tuaku), maksudnya adalah bapaknya dan kakeknya. Dalam riwayat\n\u003cbr\>\nlain disebutkan namanya langsung, yakni Mirdas\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n**** Ibnu Hisyam berkata: "Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa\n\u003cbr\>\nAbbas bin Mirdas menemui Rasulullah SAW lalu beliau berkata kepadanya:\n\u003cbr\>\n"Apakah engkau yang mengatakan: "Tapi bagianku dan Al-Abid berbeda dengan\n\u003cbr\>\nbagian Al-Aqra' dan Uyainah" Abu Bakar berkata: "bagian Uyainah dan\n”,1]
);

//–>
engkau   datang   kepada   kami  dalam  keadaan  didustakan  kemudian  kami

membenarkan-mu,  engkau  terlantar kemudian kami menolongmu, engkau terusir

kemu-dian  kami  melindungimu,  dan engkau miskin kemudian kami membantumu.

Hai  kaum  Anshar,  apakah kalian mempersoalkan secuil dunia yang dengannya

aku  menundukkan  hati  salah satu kaum agar mereka masuk Islam, sedang aku

menyerahkan  kalian  kepada  ke-Islaman  kalian?. Hai kaum Anshar, tidakkah

kalian  ridha  sekiranya  orang-orang  pulang  membawa  kambing-kambing dan

unta-unta,  sedang  kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi

Dzat  yang  jiwa  Muhammad  berada  di  TanganNya,  kalaulah  tidak  karena

peristiwa  hijrah, aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia

melewati  salah  satu  jalan dan kaum Anshar melewati jalan lain, aku pasti

berjalan  di  jalan  yang  dilalui  kaum  Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum

Anshar,  anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar’. Kaum Anshar pun

menangis  hingga  jenggot  mereka basah oleh airmata. Mereka berkata, ‘Kami

ridha  Rasulullah  sebagai  bagian kami’. Setelah itu, Rasulullah pergi dan

kaum Anshar pun bubar".

CATATAN KAKI:

*  Pengasuh  Rasulullah  Shallallahu  ‘alaihi wa sallam dari Bani Sa’ad bin

Bakar berasal dari Hawaazin

** nama Persia bagi Abbas

*** Yakni ayahnya, yaitu Mirdas, diriwayatkan juga dengan lafal: Syaikhayya

(dua  orang  tuaku),  maksudnya adalah bapaknya dan kakeknya. Dalam riwayat

lain disebutkan namanya langsung, yakni Mirdas

****  Ibnu  Hisyam berkata: "Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa

Abbas  bin  Mirdas  menemui  Rasulullah  SAW lalu beliau berkata kepadanya:

"Apakah  engkau  yang mengatakan: "Tapi bagianku dan Al-Abid berbeda dengan

bagian  Al-Aqra’  dan  Uyainah"  Abu  Bakar  berkata:  "bagian  Uyainah dan
\nAl-Aqra'" Rasulullah menimpali: "Itu sama saja tiada beda", maka Abu Bakar\n\u003cbr\>\npun berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau seperti yang Allah katakan: "Kami\n\u003cbr\>\ntiada mengajarkan syair kepadanya dan memang tiada layak baginya."\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n \n\u003cbr\>\n YAYASAN AL-SOFWA \n\u003cbr\>\n Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - \n\u003cbr\>\n Indonesia \n\u003cbr\>\n Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info @alsofwah.or.id | \n\u003cbr\>\n website: |——| \n\u003cbr\>\n | [ ] | \n\u003cbr\>\n |——|www.alsofwah.\u003ca href\u003d\”http://or.id\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>or.id\u003c/a\> | Member Info Al-Sofwa \n\u003cbr\>\n Artikel yang dimuat di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan syarat \n\u003cbr\>\n tidak untuk komersil. \n\u003cbr\>\n \n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\n__________________________________________________________\n\u003cbr\>\n\n\u003cbr\>\nDisclaimer :\n\u003cbr\>\n- This email and any file transmitted with it are confidential and\n\u003cbr\>\nare intended solely for the use of the individual or entity whom\n\u003cbr\>\nthey are addressed, if you are not the original recipient, please\n\u003cbr\>\ndelete it from your system.\n\u003cbr\>\n- Any views or opinions expressed in this email are those of the\n\u003cbr\>\nauthor only.\n\u003cbr\>\n__________________________________________________________\u003c/p\>\n \u003c/div\> \n\n \n \u003cspan width\u003d\”1\” style\u003d\”color:white\”\>__._,_.___\u003c/span\>\n \n \u003cdiv\>\n \u003cspan\>\n \u003ca href\u003d\”http://groups.yahoo.com/group/sabili/message/85658;_ylc\u003dX3oDMTM2Zm5mYjJ1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEwNTA4ODkEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc2MTc5BG1zZ0lkAzg1NjU4BHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE4MTAwNTU5NAR0cGNJZAM4NTY1OA–\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>”,1]
);

//–>
Al-Aqra’"  Rasulullah menimpali: "Itu sama saja tiada beda", maka Abu Bakar

pun  berkata:  "Aku bersaksi bahwa engkau seperti yang Allah katakan: "Kami

tiada mengajarkan syair kepadanya dan memang tiada layak baginya."

Leave a Reply