Archive for July, 2007

Sakratul Maut

Saturday, July 14th, 2007

            Sakratul Maut

Menurut sebagian besar ulama, dekat-dekat akan meninggal malaikat maut
akan berulang-ulang mengunjungi orang yang akan meninggal itu.
Kadang-kadang ia menunjukan dirinya dengan jelas, bahkan kadang-kadang
suaranya jelas terdengar oleh yang bersangkutan. Kedatangan malaikat
maut ini sebenarnya adalah suatu peringatan, bahkan tidak lama lagi
orang itu akan meninggal. Rupanya malaikat maut ingin memberi
peringatan agar orang itu bersiap-siap dengan perbekalannya. Junjungan
kita yang mulia, Rasulullah SAW dalam hal ini telah bersabda :

"Apabila Allah bermaksud baik kepada seseorang hamba, maka bentuk
malaikat maut itu akan disesuaikan dengan amal salehnya sebelum mati".

Berdasarkan hadits ini, jelaslah bahwa bentuk malaikat maut yang datang
itu bergantung kepada tingkat iman dan amal salehnya seseorang. Semakin
banyak amal saleh orang itu, maka bentuk malaikat maut yang datang akan
semakin menyenangkan. Dan sebaliknya semakin besar dosanya, maka
bentuknya akan semakin menakutkan.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baik
sikap pada waktu meninggal adalah ingat kepada Allah dengan mengucapkan
Lailaha Ilallah. Pada kenyataannya, amat jarang orang yang mampu
mengucapkan kalimat sakral ini dengan keikhlasan yang mendalam. Mari
kita coba bersama-sama untuk menelaahnya.

Menurut para ahli, pada saat seseorang akan meninggal, yaitu pada saat
roh sudah sampai di tenggorokan, maka ingatan, akal, dan ilmu akan
hilang. Yang berfungsi hanyalah alam bawah sadarnya. Pada saat kritis
ini, setan berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara mengalihkan
perhatian orang yang sedang sekarat itu agar jangan sampai mengucapkan
Lailaha Illallah. Macam-macam akal dikeluarkannya, mungkin ia menjelma
menjadi bentuk ayah atau ibunya yang telah meninggal, atau pun ia
menjelma menjadi bentuk yang menakutkan. Semua akal-aklan setan ini
tujuannya hanya satu, yaitu agar orang yang sedang sekarat itu terlena
atau takut, sehingga akhirnya ia akan lupa kepada Allah. Oleh karena
itu, bila kita melihat orang yang sedang berjuang dalam sakratul maut,
maka bantulah ia dengan membisikan berulang-ulang kalimat Lailaha
Illallah sebagaimana petunjuk yang diberikan Rasulullah SAW:

"Talkinkan olehmu orang yang sedang dalam sakratulmaut itu, dengan
mengucapkan Lailaha Illallah. Orang yang mengakhiri perkataannya itu
dengan kalimat syahadat, maka dia akan dimasukkan ke dalam syurga".

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab berkata,
"Ucapkanlah kepada mereka yang sedang dalam sakratul maut itu Lailaha
Illah. Mereka itu melihat apa-apa yang tidak terlihat olehmu".

Bagaimana cara mengatasi godaan setan pada waktu sakratulmaut?
Godaan setan yang maha berat pada waktu sakratul maut ini, hanya dapat
diatasi dengan satu cara, yaitu rasa cinta yang mendalam kepada Allah
SWT. Karena, apa yang paling dicintai, apa yang menjadi kerinduan siang
dan malam, maka itulah yang akan teringat oleh kita pada waktu nafas
terakhir.

Seringkali kita jumpai orang sekarat yang menepis atau menolak bila
dibisikkan "Lailaha Illallah" ditelinganya. Hal ini terjadi karena
dalam keadaan sekarat, akal telah pergi, ingatan hilang, hati nurani
akan mengenyampingkan semua hal, kecuali pada apa yang dicintai saja.
Oleh karena itu, bila kita ingin pada saat meninggal nanti hanya ingat
kepada Allah dengan mengucapkan "Lailaha Illallah" maka pupuklah rasa
cinta kepada Allah. Karena, sekali lagi, dalam keadaan sekarat, akal
akan beku, sedangkan hati hanya mampu mengingat apa-apa yang kita
cintai saja.

Rasa cinta jelas mustahil muncul dalam sekejap. Sangat logis bila
mengharapkan rasa cinta pada Allah itu muncul pada waktu sakratul maut,
di mana akal sudah tidak normal dan setan sedang menggoda dengan
seberat-beratnya godaan, serta badan menanggung rasa sakit yang luar
biasa seperti ditusuk-tusuk dengan 300 tusukan pedang.

Untuk menumbuhkan rasa cinta pada Allah, biasakanlah
berzikirmengingat-Nya. Jadikan Allah itu menjadi kekasih, dan
letakkanlah Dia dalam rongga hati kita yang paling dalam.

Para ulama mengatakan, setelah selesai tanya jawab dalam kubur maka roh
selanjutnya di alam barzah akan ditempatkan pada tempat-tempat yang
sudah disiapkan untuknya, yaitu sesuai dengan amal perbuatannya selama
hidup di alam dunia. Yang amal salehnya banyak, yaitu selalu taat
mengerjakan perintah-perintah Allah, akan menempati tempat yang bagus
sekali, lebih indah dari kesenangan yang terdapat dalam mimpi.
Sedangkan bagi yang selalu membangkang pada perintah-perintah Allah
akan mengalami penderitaan yang luar biasa pahitnya, naudzhubillah.
Bagi mereka itu, alam barzah adalah benar-benar tempat derita dan
sengsara. Dalam hal ini Rasulullah SAW, bersabda:

"Jangalah kamu memaki orang yang telah mati. Karena sesungguhnya mereka telah menemui apa yang mereka amalkan semasa hidupnya".

Marilah dari sekarang kita sadari, bahwa banyak harta sedikit amal
saleh ternyata tidak ada gunanya sama sekali. Harta yang dicari
mati-matian waktu di dunia, akan dibagi-bagi oleh ahli waris.
Bayangkanlah, berpayah-payah mengumpulkan harta, kadang-kadang sudah
Maghrib masih di kantor, harta tertumpuk, kita meninggal. Masih
terbaring mayat kita di tempat tidur, belum dimandikan dan belum di
kafani, para ahli waris sudah bertengkar memperebutkan harta yang kita
kumpulkan mati-matian itu. Payah-payah mengumpulkan harta selama ini
ternyata hanya untuk mengadu anak berkelahi dengan anak mengenai
warisan. Yang dapat kita bawa serta masuk ke liang kubur hanyalah
secarik kain kafan, yaitu kain putih sepanjang empat hasta. Tidak lebih
dari itu!.

Rasulullah SAW yang mulia bersabda :
"Sesungguhnya kubur adalah tahap pertama dari beberapa tahap tempat di
akhirat. Kalau seseorang telah selamat disitu, maka tahap yang
sesudahnya akan lebih enteng, dan kalau tidak selamat di situ, tahap
yang sesudahnya akan lebih berat lagi".

Ingin saya sampaikan sekali lagi, mengucapkan kalimat "Lailaha
Illallah" dengan sepenuh perasaan pada saat sakratul maut. Selintas
kedengarannya mudah, namun kenyataannya hanya orang tertentu saja yang
sanggup melaksanakannya. Hal ini disebabkan antara lain karena :

a.. Pada waktu sakratul maut, akal atau ingatan sudah tidak berfungsi normal, bahkan dapat dikatakan hilang.
b.. Setan menggoda dengan seberat-beratnya godaan. Biasanya setan
muncul di penglihatan orang sekarat itu menyerupai orang-orang yang
dikenal dekat dan sudah meninggal.
c.. Rasa sakit yang amat sangat, seolah-olah ditusuk oleh 300 pedang.
Dalam keadaan payah seperti itu, jelaslah yang bekerja hanyalah alam
bawah sadar saja, yang teringat adalah hanya apa-apa yang kita cintai
dan kita rindukan siang malam.
Agar kita mampu mengucapkan pengakuan "Lailaha Illallah" pada saat akan
meninggal, maka kita harus cinta atau dekat kepada Allah SWT yang
tertanam sampai ke dalam lubuk hati. Untuk itu, satu-satunya jalan
adalah: berjihad menundukan nafsu agar menjadi manusia yang bertaqwa!.
Ingatlah, kuburan bergerak secara pasti menghampiri kita dengan
kecepatan 60 menit perjam. Dan di akhirat nanti, tidak ada jalan keluar
dari neraka.

Wallahu a’lam bish-shawab. (TA)

Sumber : http://forum.dudung.net/

———————————————————-

Telah bersabda Nabi Muhammad S.A.W, kubur itu menyeru manusia tiap2 hari dengan 7 (tujuh) seruan :
1. Wahai manusia, aku rumah ulat, perbanyaklah membaca Al Qur’an.
2. Wahai manusia, aku rumah gelap, terangilah aku dengan sholat malam.
3. Wahai anak adam, aku rumah tanah, bawalah kasur yaitu amal sholeh.
4. Wahai anak adam, aku rumah binatang buas, bawalah tameng yaitu air mata (takut kepada Allah SWT)
5. Wahai manusia, aku rumah tamu, berbekallah untuk dirimu yaitu taqwa.
6. Wahai manusia, aku rumah fakir, bawalah bekal kekayaan untuk dirimu (dengan sedekah & zakat)
7. Wahai anak adam, aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir, maka
banyaklah baca "Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah", supaya kamu
dapat jawaban kepadanya.

Kata Mutiara

Saturday, July 14th, 2007

            Kata Mutiara
Mawlana Syaikh Nazim Adil

"Yang lebih penting daripada ilmu ialah  pemindahan
ilmu tersebut dari hati ke hati "

"Kita tidak minta untuk dikenali dan menjadi sesuatu,
karena selagi kita menginginkannya, maka kita masih
belum lagi sempurna"

"KedaulatanNya adalah Melalui KekekalanNya"

"Perjumpaan dengan para awliya meringankan beban kita
dan kita akan merasa ringan dan gembira" , "Adalah
mustahil untuk kita memahami diri kita.
Sekurang-kurangnya kita perlu melihat cermin,  karena
tiada siapapun yang dapat mengenali kepincangan di
dalam dirinya "

Saya tidak berkata, “Ikut saya,” karena saya tahu
siapa yang akan ikut bersama saya di Mahsyar kelak "

"Keikhlasan dan Politik tidaklah serasi sebagaimana
Iman dan Penipuan "

“Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara
Rijal-Allah, Para Kekasih Allah, bahwa keragaman jalan\nini adalah diperuntukkan bagi mereka yang belum\u003cbr\>\nterhubungkan dan mereka yang belum mencapai akhir\u003cbr\>\nperjalanan, dan belum mendapatkan ‘amanat’-nya,\u003cbr\>\nsementara mereka yang telah mawsul (“sampai”) semua\u003cbr\>\nberada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan\u003cbr\>\nmereka saling mengetahui dan mencintai satu sama\u003cbr\>\nlain”.\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“ Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari\u003cbr\>\nKebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari\u003cbr\>\njalan-jalan Tariqah mestilah pula saling mengetahui,\u003cbr\>\nmengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan\u003cbr\>\nAllah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri\u003cbr\>\nkita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan\u003cbr\>\nmasuk dalam lingkaran tertinggi dari suhbah\u003cbr\>\npersahabatan dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan)\u003cbr\>\ndan keangkuhan”.\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang\u003cbr\>\nsuci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi,\u003cbr\>\nadalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah\u003cbr\>\ndiperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman\u003cbr\>\nmemberikan pada diri kita Cinta”. \u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang\u003cbr\>\ndicintai. Ittiba’ bermakna untuk mencintai dan\u003cbr\>\nmengikuti, sementara Ittaat’ bermakna [hanya] untuk\u003cbr\>\nmengikuti”. “Seseorang yang taat mungkin saja mereka\u003cbr\>\ntaat karena paksaan atau karena cinta, tapi tidaklah\u003cbr\>\nselalu karena cinta.”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“ Allah Ta’ala menginginkan hamba-hamba-Nya untuk\u003cbr\>\nmencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai\u003cbr\>\nsecara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena\u003cbr\>\nitulah, Allah Ta’ala mengutus, sebagai utusan dari\u003cbr\>\nDiri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para\u003cbr\>\nhamba-Nya. “Dan setiap orang yang mencintai Para\u003cbr\>\nNabi, melalui AwliyaNya maka mereka akan menggapai\u003cbr\>\ncinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian\u003cbr\>\nakan menggapai cinta Allah Ta’ala.”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat\u003cbr\>\nmenjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika\u003cbr\>\nkalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah”,1]
);

//–>
ini adalah  diperuntukkan bagi mereka yang belum
terhubungkan  dan mereka yang belum mencapai akhir
perjalanan, dan  belum mendapatkan ‘amanat’-nya,
sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”) semua
berada  pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan
mereka  saling mengetahui dan mencintai satu sama
lain”.

“ Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari
Kebangkitan.  Karena itu, kita, para Murid dari
jalan-jalan  Tariqah mestilah pula saling mengetahui,
mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan
Allah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri
kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan
masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhbah
persahabatan dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan)
dan keangkuhan”.

“Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang
suci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi,
adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah
diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman
memberikan pada diri kita Cinta”.

“Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang
dicintai. Ittiba’ bermakna untuk mencintai dan
mengikuti, sementara Ittaat’ bermakna [hanya] untuk
mengikuti”. “Seseorang yang taat mungkin saja mereka
taat karena paksaan atau karena cinta, tapi tidaklah
selalu karena cinta.”

“ Allah Ta’ala menginginkan hamba-hamba-Nya untuk
mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai
secara langsung cinta atas Tuhan mereka.  Karena
itulah, Allah Ta’ala mengutus,  sebagai utusan dari
Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para
hamba-Nya.  “Dan setiap orang yang mencintai Para
Nabi, melalui AwliyaNya maka mereka akan menggapai
cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian
akan menggapai cinta Allah Ta’ala.”

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat
menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika
kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah\nTa’ala akan mencintai kalian?” “Namun manusia kini\u003cbr\>\nsudah seperti kayu kering, mereka menyangkal cinta.\u003cbr\>\nMereka adalah orang-orang yang kering tak ada\u003cbr\>\nkehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, bersemi dan\u003cbr\>\nberbunga di kala musim semi”. \u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya\u003cbr\>\ntujuh puluh kali musim semi mendatanginya, mereka tak\u003cbr\>\nakan pernah berbunga. Cinta membuat alam ini terbuka\u003cbr\>\ndan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya\u003cbr\>\nbagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka,\u003cbr\>\ntak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan\u003cbr\>\nbuahnya.”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\n“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari\u003cbr\>\nIman. Tanpa Cinta, tak akan ada Iman. Saya dapat\u003cbr\>\nberbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi\u003cbr\>\nkalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!”\u003cbr\>\n\u003cbr\>\narief hamdani\u003cbr\>\nwww.rumisuficafe.blogspot.com\u003cbr\>\n\u003cbr\>\nSend instant messages to your online friends \u003ca href\u003d\”http://uk.messenger.yahoo.com\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>http://uk.messenger.yahoo.com\u003c/a\> \u003cbr\>\n\u003cbr\>\n \u003c/div\> \n \u003cdiv\>\n \u003cdiv\>\n \u003ca href\u003d\”#113b09b2a7ab334f_toc\”\>\n Back to top \u003c/a\>\n \u003c/div\> \u003ca href\u003d\”mailto:ar1ef2001@yahoo.com?Subject\u003dRe%3AKata%20Mutiara\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>\n Reply to \u003cspan\>sender\u003c/span\>\n \u003c/a\> |\n \u003ca href\u003d\”mailto:daarut-tauhiid@yahoogroups.com?Subject\u003d+Re%3AKata%20Mutiara\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>\n Reply to \u003cspan\>group\u003c/span\>\n \u003c/a\> |\n \u003ca href\u003d\”http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/post;_ylc\u003dX3oDMTJyNnAydmcxBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzEwOTMyNDYEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDQzNjk1BG1zZ0lkAzI3MTMxBHNlYwNkbXNnBHNsawNycGx5BHN0aW1lAzExODQwNzg4NzA-?act\u003dreply&messageNum\u003d27131\” target\u003d\”_blank\” onclick\u003d\”return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\”\>\n Reply \u003cspan\>via web post\u003c/span\>\n \u003c/a\>”,1]
);

//–>
Ta’ala akan mencintai kalian?” “Namun manusia kini
sudah seperti kayu kering, mereka menyangkal cinta.
Mereka adalah orang-orang yang kering  tak ada
kehidupan!  Suatu pohon, dengan cinta, bersemi dan
berbunga di kala musim semi”.

“Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya
tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, mereka tak
akan pernah berbunga. Cinta membuat alam ini terbuka
dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya
bagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka,
tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan
buahnya.”

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari
Iman. Tanpa Cinta, tak akan ada Iman. Saya dapat
berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi
kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!”

BERLINDUNG DARI GODAAN SETAN

Saturday, July 7th, 2007
Mewaspadai
bisikan nafsu merupakan hal yang penting. Hal ini merupakan salah satu
cara untuk membersihkan jiwa dari keburukan-keburukan. Namun
mewaspadainya tanpa mewaspadai bisikan yang lain adalah merupakan jalan
yang timpang. Sebagian kaum sufi berada pada jalan yang timpang ini.
Mereka begitu memperhatikan aib jiwa dan keburukan nafsu, namun lupa
memperhatikan bisikan yang lain. Bisikan yang lain itu adalah godaan
setan.
Ternyata masalah setan lebih banyak disebut dalam Al-Quran dan
Al-Hadits daripada masalah nafsu. Dalam Al-Quran, nafsu madzmumah (yang
buruk dan jahat) disebutkan dalam surah Yusuf ayat 53 dan surat
An-Nazi’at ayat 40. Adapun nafsu lawwamah (yang suka mencela) disebut
dalam surat Al-Qiyamah ayat 2. Sedangkan masalah setan lebih banyak
disebutkan. Hal ini disebabkan kejahatan dan rusaknya nafsu sebenarnya
dikarenakan godaan setan. Sehingga, godaan setan itulah yang menjadi
poros dan sumber kejahatan.
Allah memerintahkan hamba-Nya agar berlindung dari setan saat membaca
Al-Quran dan lainnya. Sebaliknya, Allah tidak memerintahkan, meski
dalam satu ayat, agar kita berlindung dari nafsu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghimpun permohonan
perlindungan dari nafsu dan setan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai Rasulullah! Ajarilah aku sesuatu yang
harus kukatakan jika aku berada pada pagi dan petang hari.’ Beliau
menjawab, ‘Katakanlah, Ya Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan
nyata, pencipta segenap langit dan bumi, Tuhan dan pemilik sesuatu, aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku
berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsuku dan dari kejatahan setan
beserta sekutunya, dan dari melakukan kejahatan terhadap nafsuku atau
aku melakukannya terhadap seorang muslim.’…” (Riwayat At-Tirmidzi,
Abu Daud, dan Ad-Darimi)
   
  Makna Isti’adzah
Memohon perlindungan kepada Allah atau isti’adzah mempunyai makna
meminta penjagaan-Nya serta bersandar dan mempercayakan kepada-Nya.
Lafal isti’adzah disebut sebagai ta’awwudz. Lafal ta’awwudz ada
beberapa macam sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca ta’awwudz dengan
lafal, “A’udzu billahi minasy syaiythaanirrajiim, min hamazihi, wa
nafkhihi, wa naftsihi.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk,
dari semburannya (yang menyebabkan gila), dari kesombongannya, dan dari
hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Riwayat Abu Dawud,
Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Hakim dan disahkan olehnya serta oleh ibban
dan Adz-Dzahabi)
Pernah juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan
lafal, “A’udzu billahis samii-il a’liimi, minasy syaiythaanirrajiim.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui dari setan yang terkutuk.” (Riwayat Abu Dawud dan
At-Tirmidzi dengan sanad hasan)
   
  Isti’adzah Sebelum Membaca Al-Quran
  Salah satu hal yang diperintahkan Allah agar kita meminta perlindungan kepada-Nya adalah saat kita membaca Al-Quran.
  Allah ta’ala berfirman,
  “Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)
Mengapa membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Quran begitu penting?
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mencatat tujuh sebab pentingnya isti’adzah
sebelum membaca Al-Quran.
Pertama, Al-Quran adalah obat bagi apa yang ada dalam dada. Ia
menghilangkan godaan yang dimasukkan setan ke dalam dada. Al-Quran
adalah penawar bagi apa yang diperintahkan setan dalam dada seorang
hamba. Maka, jika akan membaca Al-Quran, kita diperintahkan mengusir
godaan setan tersebut, mengosongkan hati darinya, lalu obat tersebut
mengisi tempat yang telah kosong tersebut sehingga lebih teguh meresap.
Kedua, para malaikat dekat dengan pembaca Al-Quran. Sedangkan, setan
adalah musuh malaikat. Karena itu, pembaca Al-Quran diperintahkan
memohon kepada Allah agar dijauhkan dari setan, sehingga didatangi
malaikat.
Ketiga, setan memperdaya pembaca Al-Quran agar ia lupa dari merenungi
makna ayat yang dibacanya. Karena itu, ia diperintahkan untuk
beristi’adzah kepada Allah dari setan.
Keempat, pembaca Al-Quran berdialog dengan Allah dengan membaca
firman-Nya. Sedangkan pembicaraan setan adalah syair dan lagu. Karena
itu, pembaca Al-Quran diperintahkan agar mengusir setan dengan
isti’adzah saat berdialog dengan Allah dan ketika Allah mendengar
bacaannya.
Kelima, Allah mengabarkan bahwa tidaklah Dia mengutus seorang rasul
atau nabi pun kecuali ia mempunyai keinginan, setan memasukkan
godaan-godaan terhadap keinginan-keinginan itu. Para salaf berpendapat
bahwa maknanya adalah jika ia membaca Al-Quran, maka setan menggoda
sepanjang bacaannya.
Jika yang demikian setan lakukan kepada para rasul, bagaimana dengan
mereka yang bukan rasul? Karena itu, setan membuat salah ketika seorang
hamba membaca Al-Quran, merancukannya dan menggodanya sehingga lisannya
keliru membaca atau mengusik akal dan hatinya. Karena inilah, pembaca
Al-Quran diperintahkan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan
setan.
Keenam, setan sangat bersungguh-sungguh dalam menggoda manusia saat ia
ingin melakukan kebaikan, atau ketika sedang melakukannya, setan
berusaha keras agar hamba tersebut tidak melanjutkan perbuatan baiknya.
Setan senantiasa mengintai manusia pada setiap jalan kebaikan. Dia
senantiasa mengintai, apalagi saat membaca Al-Quran. Karena itu, Allah
memerintahkan kepada hamba-Nya agar memerangi musuh yang menghalangi
jalannya tersebut pertama-tama sebelum membaca Al-Quran. Sebagaimana
seorang musafir, jika ada yang mencegatnya di jalan, ia akan berusaha
menolak pencegat itu lebih dulu, baru kemudian meneruskan perjalanannya.
Ketujuh, isti’adzah sebelum membaca Al-Quran adalah pertanda dan
peringatan bahwa yang akan datang setelah itu adalah Al-Quran.
Mewaspadai godaan setan dan berlindung kepada Allah darinya merupakan
hal yang penting. Jangan sampai seorang hamba melalaikan hal ini.
Demikian juga masalah membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Quran.
Hendaknya hal ini diperhatikan oleh setiap hamba Allah yang ingin
membersihkan jiwanya.
  (Abu Ukasyah)
   
  Sumber: Melumpuhkan Senjata Syetan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah.

   
      

Fadhail Hifzhul Qur’an

Saturday, July 7th, 2007

Banyak hadits
Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur€ ¦’²an atau
membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak
kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, € ¦’´Orang yang tidak mempunyai
hafalan Al Qur€ ¦’²an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau
runtuh.€ ¦’´ (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur€ ¦’²an)
yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih terangsang dan
bergairah dalam berinteraksi dengan Al Qur€ ¦’²an khususnya menghafal.

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur€ ¦’²an  merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah

Bahkan Allah  membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur€ ¦’²an,
€ ¦’´Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara,
menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al
Qur€ ¦’²an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga
tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, € ¦’²Andaikan aku
diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat
sebagaimana si fulan berbuat€ ¦’²’´ (HR. Bukhari)
Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur€ ¦’²an sama dengan nikmat
kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
€ ¦’´Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur€ ¦’²an, maka sungguh
dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan
kepadanya.€ ¦’´ (HR. Hakim)

2. Al Qur€ ¦’²an  menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya
          € ¦’´Sebaik-baik  kalian adalah yang mempelajari Al Qur€ ¦’²an dan mengajarkannya€ ¦’´ (HR. Bukhari dan  Muslim)

3. Seorang hafizh  Al Qur€ ¦’²an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari  Nabi SAW)

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para
sahabat penghafal Al Qur€ ¦’²an adalah perhatian yang khusus kepada
para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur€ ¦’²an. Rasul mendahulukan
pemakamannya.

€ ¦’´Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada€ ¦’² Uhud
kemudian beliau bersabda, € ¦’´Manakah di antara keduanya yang lebih
banyak hafal Al Qur€ ¦’²an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka
beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.€ ¦’´ (HR. Bukhari)

Pada kesempatan  lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai  pemimpin delegasi.

Dari Abu Hurairah ia berkata, € ¦’´Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah
delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka,
kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka
sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya,
€ ¦’´Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,€ ¦’´Aku hafal surat ini..
surat ini.. dan surat Al Baqarah.€ ¦’´ Benarkah kamu hafal surat Al
Baqarah?€ ¦’´ Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, € ¦’´Benar.€ ¦’´ Nabi
bersabda, € ¦’´Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.€ ¦’´
(HR. At-Turmudzi dan An-Nasa€ ¦’²i)

Kepada hafizh Al  Qur€ ¦’²an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama€ ¦’²ah. Rasulullah  SAW bersabda,
€ ¦’´Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak  hafalannya.€ ¦’´ (HR. Muslim)
          4. Hifzhul Qur€ ¦’²an  merupakan ciri orang yang diberi ilmu

€ ¦’´Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada
orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat
Kami kecuali orang-orang yang zalim.€ ¦’´ (QS Al€ ¦’²Ankabuut 29:49)

5. Hafizh Qur€ ¦’²an  adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi

€ ¦’´Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para
sahabat bertanya, € ¦’´Siapakah mereka ya Rasulullah?€ ¦’´ Rasul
menjawab, € ¦’´Para ahli Al Qur€ ¦’²an. Merekalah keluarga Allah dan
pilihan-pilihan-Nya.€ ¦’´ (HR. Ahmad)

6. Menghormati  seorang hafizh Al Qur€ ¦’²an berarti mengagungkan Allah

€ ¦’³Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua
yang muslim, penghafal Al Qur€ ¦’²an yang tidak melampaui batas (di
dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan
membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.€ ¦’´ (HR. Abu Daud)

          Fadhail Akhirat

1. Al Qur€ ¦’²an akan menjadi penolong (syafa€ ¦’²at) bagi penghafal

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, € ¦’´Aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda, € ¦’´Bacalah olehmu Al Qur€ ¦’²an, sesungguhnya ia akan
menjadi pemberi syafa€ ¦’²at pada hari kiamat bagi para pembacanya
(penghafalnya).€ ¦’´ (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur€ ¦’²an  akan meninggikan derajat manusia di surga

Dari Abdillah bin Amr bin € ¦’²Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda,
€ ¦’´Akan dikatakan kepada shahib Al Qur€ ¦’²an, € ¦’´Bacalah dan
naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al
Qur€ ¦’²an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau
baca.€ ¦’´ (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur€ ¦’²an adalah orang yang
hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta
mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal  Al Qur€ ¦’²an bersama para malaikat yang mulia dan taat

€ ¦’´Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur€ ¦’²an sedangkan ia
hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.€ ¦’´
(Muttafaqun € ¦’²alaih)

4. Bagi para  penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)

€ ¦’´Mereka akan dipanggil, € ¦’´Di mana orang-orang yang tidak terlena
oleh menggembala kambing dari membaca kitabku? Maka berdirilah mereka
dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan
kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan
kirinya.€ ¦’´ (HR. At-Tabrani)

5. Kedua orang  tua penghafal Al Qur€ ¦’²an mendapat kemuliaan

€ ¦’´Siapa yang membaca Al Qur€ ¦’²an, mempelajarinya, dan
mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat.
Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan
dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya
bertanya, € ¦’´Mengapa kami dipakaikan jubah ini?€ ¦’´
Dijawab,€ ¦’´Karena kalian berdua memerintahkan anaka kalian untuk
memelajari Al Qur€ ¦’²an.€ ¦’´ (HR. Al-Hakim)

6. Penghafal Al  Qur€ ¦’²an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur€ ¦’²an

Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang
memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai
menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan
Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap
hurufnya.

€ ¦’´Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur€ ¦’²an maka
baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh
kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu
satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.€ ¦’´ (HR. At-Turmudzi)

7. Penghafal Al  Qur€ ¦’²an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak  akan merugi

€ ¦’´Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan
mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka
itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah
menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka
dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Mensyukuri.€ ¦’´ (QS Faathir 35:29-30)

Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur€ ¦’²an tidak akan
pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa€ ¦’²at kepada
sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya,
do€ ¦’²anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya
tersebut dalam hadits yang dhaif.
"Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai
penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil
manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk
kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya,
dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al
Qur’an. Allahumma amin" (dian)

Maraji€ ¦’²:
Abdul Aziz Abdur  Rauf, Lc. Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur€ ¦’²an Da€ ¦’²iyah.
Dr. Yusuf Qardhawi. Berinteraksi dengan Al Qur€ ¦’²an.

Suul Khatimah

Saturday, July 7th, 2007

Sumber bacaan: Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin.

Suul Khatimah (mati dengan tidak beriman) sangat ditakuti
oleh orang-2 yang saleh. Imam Ghazali membagi suul khatimah mejadi dua
tingkatan. Pertama ialah berkenaan dengan hati dan perasaan seseorang
menjelang sakaratul maut merenggut. Hatinya menjadi ragu-ragu serta tidak
percaya lagi kepada Allah kemudian mati dalam keadaan tidak beriman. Kedua
ialah hubbud-dunya (cinta dunia) yaitu seseorang yang dirundung kecintaan
dalam urusan dunia yang tidak ada hubungan terhadap masaalah akhirat. Dari
dua tingkatan tersebut tingkat pertama lebih berat siksanya sebab dalam
Qur’an disebutkan bahwa api neraka hanya akan menimpa orang-2 yang
tertutup hatinya terhadap Allah. Semoga kita diberi hidayah oleh Allah
agar terhindar dari keadaan suul khatimah (insyaAllah).

Pada tingkat pertama: menjelang sakaratul maut dalam keadaan
kesakitan yang berat sehingga hatinya menjadi ragu-ragu kemudian memuncak
sehingga muncul ketidak percayaan lagi kepada Allah. Apabila nyawa dicabut
maka orang semacam ini akan mati dalam keadaan tidak beriman,
naudzubillah. Kematian ini bisa terjadi karena kekufuran terhadap Allah
manakala sifat ini menjadi penghalangnya dengan Allah swt selama-lamanya.
Tabir kekufuran ini menyebabkan akan menerima azab dari Allah swt terus
menerus.

Tingkat yang ke dua: yaitu hati manusia yang dikuasai oleh
kecintaan terhadap masaalah-masaalah dunia yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan urusan akhirat. Sebagai contoh ialah, apabila seseorang
yang sedang membangun rumah dan dalam proses membangun rumahnya sakaratul
maut segera menjemput. Pada keadaan semacam ini dia hanya teringat akan
pembangunan rumah yang belum selesai, tidak ada nama Allah dihatinya.
Orang macam ini adalah mati dalam keadaan jauh dari Allah swt. Orang yang
dalam hidupnya hanya ingat akan hartanya atau lebih mencintai harta
dibandingkan dengan Tuhannya maka dia akan menerima azab yang pedih dari
Nya.

Demikianlah sifat suul khatimah yang umumnya dihindari oleh
orang mukmin yang tidak hanya tergiur dengan hubbud-dunya (cinta dunia)
tetapi masih selalu ingat kepada Allah swt. Dalam al-Qur’an disebutkan
bahwa pada hari               kematian harta dan anak-2 laki-2 tidak
berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih
(periksa di surat asy-syu’ara  88-89). Kepada orang semacam ini akan
terhindar dari panasnya api neraka. Dalam hadist riwayat Ya’la bin
Munnabbih apineraka berkata "Silahkan kalian berlalu wahai orang mukmin,
karena cahaya yang terpancar dihatimu telah  memadamkan nyala apiku."

Ada beberapa penyebab sifat suul khatimah, secara umum
seperti yang telah diuraikan dengan singkat seperti diatas. Seorang yang
hati-hati dalam menempuh hidup, zuhud, saleh pun dapat bersifat suul
khatimah pada saat sakaratul maut. Hal ini dimungkinkan karena pada saat
hidupnya masih melakukan bid’ah, bertentangan dengan sifat-2 yang telah
dianjurkan oleh Rasulullah saw serta para sahabat dan tabi’in. Rosulullah
saw pernah berkata kepada sahabat tentang Khawarij yang  rajin shalat dan
membaca al-Qur’an: "Membaca Al-Quran lebih rajin dari kamu (para sahabat)
dan solatnya lebih rajin daripada kamu; sampai masing-masing
jidadnya(dahinya) hitam , tapi mereka membaca Al-Quran tidak sampai ke
lubuk  hatinya dan solatnya tidak diterima oleh Allah swt."

Jadi bida’ah adalah sangat berbahaya, karena dapat
menyesatkan keyakinan seseorang, bahwa menyerupakan Allah dengan makhluk.
Misalnya : betul-betul duduk dalam Arash, padahal Allah itu Laisakamislihi
syai’un. Apabila nanti  pintu hijab telah terbuka maka akan didapati bahwa
Allah tidak seperti yang telah dibayangkan. Dan ia mengingkari Allah. Nah,
dikala itu ia akan mati dalam Suul Khotimah. Kelak kalau orang sudah
sakaratulmaut dan terbuka hijab, baru menyadari bahwa kenyataannya tidak
sesuai dengan apa yang menjadi bayanganya. Dia mati dalam keadaan suul
khatimah, walaupun amalannya  sangat baik. Na’udzubillah, maka dalam
ibadah kita harus iktikad.

Apabila kita salah dalam iktikad krn pemikiran sendiri atau
krn ikut-ikutan pada orang lain, ia akan terkena mara bahaya. Kesalehan
dan kezuhudan serta tingkah laku yang baik, tidak mampu menolongnya.
Bahkan tidak ada yang akan menyelamatlkan dirinya melainkan iktikad yang
benar. Krn itu perhatikan dan contohlah hal-hal yang telah diajarkan oleh
Rasulullah SAW yang semua  didasarkan pada iktikad yang baik. Orang yang
fikirannya sederhana adalah lebih selamat. Sederhana, tidak berfikir
secara mendalam, meskipun bisa dikatakan orang kurang ilmunya, tapi ia
lebih selamat daripada orang yang berlagak mempunyai ilmu, tapi dasar
iktiqadnya tidak benar. Orang sederhana secara garis besar adalah orang
yang beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada Akhirat.Orang semacam
ini akan selamat.

Kalau kita tidak mempunyai waktu untuk memperdalam
pengetahuan ilmu Tauhid, maka usahakan dan perjuangkan agar dalam garis
besarnya kita tetap yakin dan percaya; seperti itu sudah selamat. Cukup
kalau didalam hatinya ia berkata : "Ya saya beriman kepada Allah S.W.T.,
hakikatnya berserah diri kepada Allah, dan iman kepada akhirat". Terus dia
beribadah dan mencari rezeki yang halal dan mencari pengetahuan yang
berguna bagi masyarakat, sebetulnya itu lebih selamat bagai orang yang
tidak sempat belajar secara mendalam.

Rasulullah s.a.w. pernah memperingatkan orang yang sedang
memperdebatkan masalah takdir. Rasulullah sampai merah padam wajahnya,
lalu berpidato : "Sesatnya orang-orang yang dulu itu krn suka berdebat,
antara lain tentang qada dan qodar". Dan baginda bersabda: "Orang-orang
yang asalnya benar, tapi kemudian sesat, itu dimulai krn suka
berbantah-bantahan. Berbantah-bantahan itu kadang-kadang memperebutkan
hal-hal yang tidak ada gunanya". Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan
sabdanya: "Sebahagian besar dari penghuni syurga itu adalah orang-orang
yang fikirannya sederhana saja"diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam
Sju-Abil Iman.

Dalam beriktkad hendaknya jangan ragu-ragu dan cukup garis
besarnya saja. Rasulullah SAW melarang kita berbicara yang sia-sia tidak
perlu turut campur urusan orang, berpikirlah agar ibadah kita diterima,
mencari rizki yang               halal. Bekerja apa saja, silahkan pilih
pekerjaan yang disukai, menjadi  tukang sepatu, jadi petani, atau jadi
dokter, pokoknya jangan mencampuri urusan orang, kalau bukan ahlinya.

Apa yang terdapat dalam Al-Quran dan AS-Sunnah kita harus
percaya dan kalau ada ayat-ayat Al-Quran yang tidak mengerti, mari kita
serahkan kepada Allah swt. Bagi orang-orang awam yang bukan ahli, cukup
diterima apa adanya,pokoknya kita jangan menyekutukan Tuhan dengan apapun,
pegang saja laisa kamislihi syai’un. Apa yang terlintas di hati,
sebetulnya hanya buatan hati saja, Jika saja timbul waswas yang dilakukan
oleh syaitan, maka tolaklah itu. Bagaimana Allah itu ??? Wallahu a’lam.
Allah sendiri Yang Tahu, Adapun tentang diri kita sendiripun, kita tidak
tahu, apalagi zat Allah swt.  Rasulullah melarang kita main
ta’wil-ta’wilan terus berselindung dengan Ayat Al-Quran.

Ayat-2 Allah dalam Al-Qur’an sudah pasti benar sangat
berbeda dengan teori-2 manusia yang selalu mengalami proses perobahan
untuk menyempurnakannya. Janganlah sekali-kali kita berani mendasarkan
i’tikad yang hanya didasarkan pada hasil perhitungan saja. Sebaiknya kita
mengetahuinya secara global, sebab hal itu ada yang melarang, agar
pintunya jangan dibuka sama sekali. Krn ada orang yang mendapat ilham dari
Allah dengan dibersihkan hatinya dan inkisyaf, sebelum mati sudah
inkisyaf, nanti setiap orang juga inkisyaf, meskipun bukan Wali. Namun
Aulia Allah pun kadang-kadang sudah inkisaf pada masa hidupnya.

Para Wali tahu akan adab kesopanan, mereka diam, krn sulit
menterjemahkan imajinasinya dengan kata-kata, seandainya hal ini dibahas
maka akan banyak sekali bahaya-bahayanya. Permaslahan yang sulit tentang
sifat-sifat dan dzat  Allah, tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran
manusia. Mereka mendekatkan  diri kepada-Nya, cukup dengan perasaan bukan
dengan akal. Dan rasa batin itu belum ada bahasanya, hanya kadang-kadang
paara wali membuat istilah yang hanya bisa dipahami oleh kalangan mereka
sendiri saja. Ini sebab yang pertama.

Sebab yang kedua berkenaan dengan Suul Khotimah, akibat dari
lemahnya iman karena sebagian besar akibat pergaulan. Orang yang bergaul
dengan sesama orang yang lemah imannya, akan memperlemah keimanannya.
Bacaan-bacaan yang kurang banyak manfaatnya juga dapat memperlemah iman,
kecenderungan menjadi atheis dan kufur lebih besar.

Kedua sebab dari lemah iman itu ditambah lagi dengan sifat
hubbud-dunya. Kalau iman sudah lemah, cinta kepada Allah juga jadi lemah,
dan kuat cintanya kepada dunia yang berarti mementingkan diri sendiri
dalam soal-soal              keduniawian. Akhirnya kalau sudah dikuasai
betul-betul hubbud dunya, tidak ada tempat untuk cinta kepada Allah S.W.T.
sebagai penciptanya. Hanya itu saja yang terlintas  dihati; Oh, cinta
kepada Allah, Allah pencipta diriku. Tapi pengakuan ini hanya merupakan
hiasan bibir batin saja. Hal inilah yang meyebabkan dia terus menerus
melampiaskan syahwatnya, sehingga hatinya menghitam dan membatu,
bertumpuk-tumpuk kegelapan dosa itu dihatinya. Imamnya semakin lama,
semakin padam; akhirnya hilang sama sekali dan jadilah ia kufur, hal ini
sudah menjadi tabiat.

Allah swt berfirman dalam surat at-taubah: 87 "Hati mereka
telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui". Dosa mereka merupakan
kotoran yang  tidak bisa dibersihkan dari hatinya. Kalau sudah datang
sakaratul maut, maka cinta mereka kepada Allah semakin lemah, sebab mereka
merasa berat dan sedih meninggalkan dunianya, krn keduniawian sudah
menguasai diri mereka. Setiap orang yang meninggalkan kecintaannya tentu
akan merasa sedih lalu timbul dalam fikirannya : "Kenapa Allah mencabut
nyawaku ?" Kemudian berubah hati murninya, sehingga dia membenci takdir
Allah. Kenapa Allah mematikan aku dan  tidak memanjangkan umurku ? Kalau
matinya dalam keadaan demikian, maka ia mati dalam keadaan Suul Khotimah,
naudzubillah.

Mutiara Nasihat Abdullah bin Mas’ud

Saturday, July 7th, 2007

Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, "Aku tidak ingin
menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun saja."
Abdullah berkata, "Bahkan disini ada orang yang apabila meninggal nanti
tidak ingin dibangkitakan." (yakni beliau)

Suatu saat beliau keluar dan diikuti oleh beberapa orang. Beliau
bertanya kepada mereka, "Adakah kalian memiliki kepentingan sehingga
mengikutiku?" Mereka menjawab,"Tidak ada, kami hanya ingin berjalan
bersama anda." Abdullah berkata, "Kembalilah kalian, sesungguhnya yang
demikian ini menyebabkan hina bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang
diikuti."

Abdullah berkata, "Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada
diriku sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian
taburkan tanah di kepalaku."

Abdullah berkata, "Barangsiapa mengerjakan kebaikan, niscaya Allah
akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa menjaga dari kejahatan,
niscaya Allah akan menjaganya."

Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan."

Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi
Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan
yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya
atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila
fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.

Selagi engkau dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu
Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.

Seringkali syahwat mengakibatkan sedih berkepanjangan.

Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.

Carilah hatimu di tiga tempat, saat mendengar Al-Qur’an, di tempat
majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak
mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati
(yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi
memiliki hati.

Tiada sesuatupun di muka bumi yang lebih perlu untuk lama dipenjara daripada lisan.

Ilmu bukanlah karena banyaknya menghafal riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut.

Setiap pandangan yang haram adalah santapan bagi syetan

Sudah sepantasnya bagi pembawa Al-Qur’an menghidupkan malamnya di
saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka,
menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di
saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu’ saat
manusia sombong. Hendaknya seorang pembawa Al-Qur’an senantiasa
menangis, sedih, bijaksana, lemah lembut dan tenang. Dan tidak
sepantasnya seorang pembawa Al-Qur’an itu keras hati, lalai, banyak
bicara dan kasar.

Bersama kegembiraan pasti ada kesedihan. Tiada rumah yang mendapatkan
kenikmatan, melainkan mendapatkan pula pelajaran. Masing-masing kalian
adalah tamu, sedangkan hartanya adalah pinjaman. Setiap tamu akan
segera pulang, sedangkan pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya.

Diambil dari: Menjadi Kekasih Allah, Bersama Pakar Rohani Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Penerbit Pustaka At-Tibyan