BERLINDUNG DARI GODAAN SETAN
Mewaspadai
bisikan nafsu merupakan hal yang penting. Hal ini merupakan salah satu
cara untuk membersihkan jiwa dari keburukan-keburukan. Namun
mewaspadainya tanpa mewaspadai bisikan yang lain adalah merupakan jalan
yang timpang. Sebagian kaum sufi berada pada jalan yang timpang ini.
Mereka begitu memperhatikan aib jiwa dan keburukan nafsu, namun lupa
memperhatikan bisikan yang lain. Bisikan yang lain itu adalah godaan
setan.
Ternyata masalah setan lebih banyak disebut dalam Al-Quran dan
Al-Hadits daripada masalah nafsu. Dalam Al-Quran, nafsu madzmumah (yang
buruk dan jahat) disebutkan dalam surah Yusuf ayat 53 dan surat
An-Nazi’at ayat 40. Adapun nafsu lawwamah (yang suka mencela) disebut
dalam surat Al-Qiyamah ayat 2. Sedangkan masalah setan lebih banyak
disebutkan. Hal ini disebabkan kejahatan dan rusaknya nafsu sebenarnya
dikarenakan godaan setan. Sehingga, godaan setan itulah yang menjadi
poros dan sumber kejahatan.
Allah memerintahkan hamba-Nya agar berlindung dari setan saat membaca
Al-Quran dan lainnya. Sebaliknya, Allah tidak memerintahkan, meski
dalam satu ayat, agar kita berlindung dari nafsu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghimpun permohonan
perlindungan dari nafsu dan setan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai Rasulullah! Ajarilah aku sesuatu yang
harus kukatakan jika aku berada pada pagi dan petang hari.’ Beliau
menjawab, ‘Katakanlah, Ya Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan
nyata, pencipta segenap langit dan bumi, Tuhan dan pemilik sesuatu, aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku
berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsuku dan dari kejatahan setan
beserta sekutunya, dan dari melakukan kejahatan terhadap nafsuku atau
aku melakukannya terhadap seorang muslim.’…” (Riwayat At-Tirmidzi,
Abu Daud, dan Ad-Darimi)
Makna Isti’adzah
Memohon perlindungan kepada Allah atau isti’adzah mempunyai makna
meminta penjagaan-Nya serta bersandar dan mempercayakan kepada-Nya.
Lafal isti’adzah disebut sebagai ta’awwudz. Lafal ta’awwudz ada
beberapa macam sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca ta’awwudz dengan
lafal, “A’udzu billahi minasy syaiythaanirrajiim, min hamazihi, wa
nafkhihi, wa naftsihi.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk,
dari semburannya (yang menyebabkan gila), dari kesombongannya, dan dari
hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Riwayat Abu Dawud,
Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Hakim dan disahkan olehnya serta oleh ibban
dan Adz-Dzahabi)
Pernah juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan
lafal, “A’udzu billahis samii-il a’liimi, minasy syaiythaanirrajiim.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui dari setan yang terkutuk.” (Riwayat Abu Dawud dan
At-Tirmidzi dengan sanad hasan)
Isti’adzah Sebelum Membaca Al-Quran
Salah satu hal yang diperintahkan Allah agar kita meminta perlindungan kepada-Nya adalah saat kita membaca Al-Quran.
Allah ta’ala berfirman,
“Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)
Mengapa membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Quran begitu penting?
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mencatat tujuh sebab pentingnya isti’adzah
sebelum membaca Al-Quran.
Pertama, Al-Quran adalah obat bagi apa yang ada dalam dada. Ia
menghilangkan godaan yang dimasukkan setan ke dalam dada. Al-Quran
adalah penawar bagi apa yang diperintahkan setan dalam dada seorang
hamba. Maka, jika akan membaca Al-Quran, kita diperintahkan mengusir
godaan setan tersebut, mengosongkan hati darinya, lalu obat tersebut
mengisi tempat yang telah kosong tersebut sehingga lebih teguh meresap.
Kedua, para malaikat dekat dengan pembaca Al-Quran. Sedangkan, setan
adalah musuh malaikat. Karena itu, pembaca Al-Quran diperintahkan
memohon kepada Allah agar dijauhkan dari setan, sehingga didatangi
malaikat.
Ketiga, setan memperdaya pembaca Al-Quran agar ia lupa dari merenungi
makna ayat yang dibacanya. Karena itu, ia diperintahkan untuk
beristi’adzah kepada Allah dari setan.
Keempat, pembaca Al-Quran berdialog dengan Allah dengan membaca
firman-Nya. Sedangkan pembicaraan setan adalah syair dan lagu. Karena
itu, pembaca Al-Quran diperintahkan agar mengusir setan dengan
isti’adzah saat berdialog dengan Allah dan ketika Allah mendengar
bacaannya.
Kelima, Allah mengabarkan bahwa tidaklah Dia mengutus seorang rasul
atau nabi pun kecuali ia mempunyai keinginan, setan memasukkan
godaan-godaan terhadap keinginan-keinginan itu. Para salaf berpendapat
bahwa maknanya adalah jika ia membaca Al-Quran, maka setan menggoda
sepanjang bacaannya.
Jika yang demikian setan lakukan kepada para rasul, bagaimana dengan
mereka yang bukan rasul? Karena itu, setan membuat salah ketika seorang
hamba membaca Al-Quran, merancukannya dan menggodanya sehingga lisannya
keliru membaca atau mengusik akal dan hatinya. Karena inilah, pembaca
Al-Quran diperintahkan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan
setan.
Keenam, setan sangat bersungguh-sungguh dalam menggoda manusia saat ia
ingin melakukan kebaikan, atau ketika sedang melakukannya, setan
berusaha keras agar hamba tersebut tidak melanjutkan perbuatan baiknya.
Setan senantiasa mengintai manusia pada setiap jalan kebaikan. Dia
senantiasa mengintai, apalagi saat membaca Al-Quran. Karena itu, Allah
memerintahkan kepada hamba-Nya agar memerangi musuh yang menghalangi
jalannya tersebut pertama-tama sebelum membaca Al-Quran. Sebagaimana
seorang musafir, jika ada yang mencegatnya di jalan, ia akan berusaha
menolak pencegat itu lebih dulu, baru kemudian meneruskan perjalanannya.
Ketujuh, isti’adzah sebelum membaca Al-Quran adalah pertanda dan
peringatan bahwa yang akan datang setelah itu adalah Al-Quran.
Mewaspadai godaan setan dan berlindung kepada Allah darinya merupakan
hal yang penting. Jangan sampai seorang hamba melalaikan hal ini.
Demikian juga masalah membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Quran.
Hendaknya hal ini diperhatikan oleh setiap hamba Allah yang ingin
membersihkan jiwanya.
(Abu Ukasyah)
Sumber: Melumpuhkan Senjata Syetan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah.
bisikan nafsu merupakan hal yang penting. Hal ini merupakan salah satu
cara untuk membersihkan jiwa dari keburukan-keburukan. Namun
mewaspadainya tanpa mewaspadai bisikan yang lain adalah merupakan jalan
yang timpang. Sebagian kaum sufi berada pada jalan yang timpang ini.
Mereka begitu memperhatikan aib jiwa dan keburukan nafsu, namun lupa
memperhatikan bisikan yang lain. Bisikan yang lain itu adalah godaan
setan.
Ternyata masalah setan lebih banyak disebut dalam Al-Quran dan
Al-Hadits daripada masalah nafsu. Dalam Al-Quran, nafsu madzmumah (yang
buruk dan jahat) disebutkan dalam surah Yusuf ayat 53 dan surat
An-Nazi’at ayat 40. Adapun nafsu lawwamah (yang suka mencela) disebut
dalam surat Al-Qiyamah ayat 2. Sedangkan masalah setan lebih banyak
disebutkan. Hal ini disebabkan kejahatan dan rusaknya nafsu sebenarnya
dikarenakan godaan setan. Sehingga, godaan setan itulah yang menjadi
poros dan sumber kejahatan.
Allah memerintahkan hamba-Nya agar berlindung dari setan saat membaca
Al-Quran dan lainnya. Sebaliknya, Allah tidak memerintahkan, meski
dalam satu ayat, agar kita berlindung dari nafsu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghimpun permohonan
perlindungan dari nafsu dan setan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai Rasulullah! Ajarilah aku sesuatu yang
harus kukatakan jika aku berada pada pagi dan petang hari.’ Beliau
menjawab, ‘Katakanlah, Ya Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan
nyata, pencipta segenap langit dan bumi, Tuhan dan pemilik sesuatu, aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku
berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsuku dan dari kejatahan setan
beserta sekutunya, dan dari melakukan kejahatan terhadap nafsuku atau
aku melakukannya terhadap seorang muslim.’…” (Riwayat At-Tirmidzi,
Abu Daud, dan Ad-Darimi)
Makna Isti’adzah
Memohon perlindungan kepada Allah atau isti’adzah mempunyai makna
meminta penjagaan-Nya serta bersandar dan mempercayakan kepada-Nya.
Lafal isti’adzah disebut sebagai ta’awwudz. Lafal ta’awwudz ada
beberapa macam sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca ta’awwudz dengan
lafal, “A’udzu billahi minasy syaiythaanirrajiim, min hamazihi, wa
nafkhihi, wa naftsihi.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk,
dari semburannya (yang menyebabkan gila), dari kesombongannya, dan dari
hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Riwayat Abu Dawud,
Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Hakim dan disahkan olehnya serta oleh ibban
dan Adz-Dzahabi)
Pernah juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan
lafal, “A’udzu billahis samii-il a’liimi, minasy syaiythaanirrajiim.”
Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui dari setan yang terkutuk.” (Riwayat Abu Dawud dan
At-Tirmidzi dengan sanad hasan)
Isti’adzah Sebelum Membaca Al-Quran
Salah satu hal yang diperintahkan Allah agar kita meminta perlindungan kepada-Nya adalah saat kita membaca Al-Quran.
Allah ta’ala berfirman,
“Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)
Mengapa membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Quran begitu penting?
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mencatat tujuh sebab pentingnya isti’adzah
sebelum membaca Al-Quran.
Pertama, Al-Quran adalah obat bagi apa yang ada dalam dada. Ia
menghilangkan godaan yang dimasukkan setan ke dalam dada. Al-Quran
adalah penawar bagi apa yang diperintahkan setan dalam dada seorang
hamba. Maka, jika akan membaca Al-Quran, kita diperintahkan mengusir
godaan setan tersebut, mengosongkan hati darinya, lalu obat tersebut
mengisi tempat yang telah kosong tersebut sehingga lebih teguh meresap.
Kedua, para malaikat dekat dengan pembaca Al-Quran. Sedangkan, setan
adalah musuh malaikat. Karena itu, pembaca Al-Quran diperintahkan
memohon kepada Allah agar dijauhkan dari setan, sehingga didatangi
malaikat.
Ketiga, setan memperdaya pembaca Al-Quran agar ia lupa dari merenungi
makna ayat yang dibacanya. Karena itu, ia diperintahkan untuk
beristi’adzah kepada Allah dari setan.
Keempat, pembaca Al-Quran berdialog dengan Allah dengan membaca
firman-Nya. Sedangkan pembicaraan setan adalah syair dan lagu. Karena
itu, pembaca Al-Quran diperintahkan agar mengusir setan dengan
isti’adzah saat berdialog dengan Allah dan ketika Allah mendengar
bacaannya.
Kelima, Allah mengabarkan bahwa tidaklah Dia mengutus seorang rasul
atau nabi pun kecuali ia mempunyai keinginan, setan memasukkan
godaan-godaan terhadap keinginan-keinginan itu. Para salaf berpendapat
bahwa maknanya adalah jika ia membaca Al-Quran, maka setan menggoda
sepanjang bacaannya.
Jika yang demikian setan lakukan kepada para rasul, bagaimana dengan
mereka yang bukan rasul? Karena itu, setan membuat salah ketika seorang
hamba membaca Al-Quran, merancukannya dan menggodanya sehingga lisannya
keliru membaca atau mengusik akal dan hatinya. Karena inilah, pembaca
Al-Quran diperintahkan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan
setan.
Keenam, setan sangat bersungguh-sungguh dalam menggoda manusia saat ia
ingin melakukan kebaikan, atau ketika sedang melakukannya, setan
berusaha keras agar hamba tersebut tidak melanjutkan perbuatan baiknya.
Setan senantiasa mengintai manusia pada setiap jalan kebaikan. Dia
senantiasa mengintai, apalagi saat membaca Al-Quran. Karena itu, Allah
memerintahkan kepada hamba-Nya agar memerangi musuh yang menghalangi
jalannya tersebut pertama-tama sebelum membaca Al-Quran. Sebagaimana
seorang musafir, jika ada yang mencegatnya di jalan, ia akan berusaha
menolak pencegat itu lebih dulu, baru kemudian meneruskan perjalanannya.
Ketujuh, isti’adzah sebelum membaca Al-Quran adalah pertanda dan
peringatan bahwa yang akan datang setelah itu adalah Al-Quran.
Mewaspadai godaan setan dan berlindung kepada Allah darinya merupakan
hal yang penting. Jangan sampai seorang hamba melalaikan hal ini.
Demikian juga masalah membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Quran.
Hendaknya hal ini diperhatikan oleh setiap hamba Allah yang ingin
membersihkan jiwanya.
(Abu Ukasyah)
Sumber: Melumpuhkan Senjata Syetan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah.